Iklim Investasi Indonesia Dinilai Masih Baik, Namun Perlu Diperbaiki
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie menyatakan bahwa iklim investasi dan usaha di Indonesia saat ini masih dalam kondisi baik. Hal tersebut didasarkan pada surplus neraca perdagangan dan capaian investasi asing atau Foreign Direct Investment (FDI) yang terus menunjukkan pertumbuhan positif.
"Secara umum, iklim usaha di Indonesia cukup baik dan bisa dilihat dari berbagai indikator. Contohnya, surplus perdagangan selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Totalnya mencapai 38 miliar dolar AS hingga Oktober (2025). Selain itu, FDI juga tetap stabil," ujar Anin saat ditemui usai menghadiri IDN Times Leadership Forum di IDN HQ Jakarta, Senin (8/12/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Deregulasi dan Insentif sebagai Langkah Penting
Meski demikian, Anin menilai bahwa pemerintah dan Kadin perlu fokus pada deregulasi serta pemberian insentif untuk membuat dunia usaha lebih leluasa bergerak. Ia menekankan bahwa langkah-langkah tersebut sangat penting agar Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.
"Tapi kita juga harus berpikir bahwa jika ingin mencapai 8 persen, itu butuh 2-3 kali lipat dari sebelumnya. Artinya, deregulasi harus kompetitif dibanding negara lain, termasuk dalam pemberian insentif," jelasnya.

Data Surplus Perdagangan dan Investasi Asing
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar 2,39 miliar dolar AS pada Oktober 2025. Ini merupakan surplus ke-66 secara beruntun sejak Mei 2020.
"Pada Oktober 2025, neraca perdagangan masih mencatatkan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, di Kantor Pusat BPS, Senin (1/12).
Di sisi lain, realisasi investasi asing alias Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia mengalami penurunan pada kuartal III-2025 secara tahunan (year on year). Realisasi PMA pada periode tersebut mencapai Rp212 triliun, turun 8,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp232,7 triliun.
Namun, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani tidak membantah adanya kontraksi tersebut. Menurutnya, ketegangan geopolitik global menjadi salah satu penyebabnya.
"Kita tahu tantangan global masih ada. Dalam tiga bulan terakhir, potensi trade war dan perang masih ada," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta.
Meski begitu, Rosan menyampaikan bahwa investasi asing tetap mengalami pertumbuhan secara kuartalan. PMA pada kuartal III-2025 sebesar Rp212 triliun, tumbuh 4,9 persen dibandingkan kuartal II-2025 yang hanya Rp202,2 triliun.

Purbaya Sebut Iklim Investasi RI Berantakan
Pernyataan Anin tentang iklim investasi yang baik di Indonesia merespons pernyataan Menteri Keuangan Purbaya yang menyebutkan bahwa iklim investasi di Indonesia saat ini masih berantakan. Hal ini dinilai menyebabkan Indonesia kalah saing dalam menarik investasi, bahkan dari negara tetangga.
Menurut Purbaya, Indonesia kini tertinggal jauh dari negara-negara seperti Vietnam, Thailand, Singapura, dan Malaysia. Ia mencontohkan kasus terbaru di mana perusahaan teknologi besar Nvidia lebih memilih berinvestasi di Johor, Malaysia, ketimbang Indonesia.
"Sekarang kita sama Vietnam kalah, sama Thailand kalah, sama Singapura kalah, sama Malaysia kalah dalam hal menarik investasi. Kemarin, Nvidia, baru pilih Johor dibanding Indonesia," katanya dalam Pembukaan Rapimnas 2025 Kadin Indonesia, Senin (1/12/2025).
Purbaya juga menyoroti masalah di lapangan meskipun pemerintah telah menerapkan sistem perizinan terpadu. Ia menyatakan bahwa jika masalah sudah tuntas, perekonomian Indonesia seharusnya melaju pesat dan investasi bisa berjalan kencang.
"Iklim investasi kita masih berantakan. Betul kan? One single, one stop service, tapi gak kelar-kelar. Eh, boleh ngomong gini gak ya? Kalau nggak kita udah lari ekonominya, investasi udah ngebut," ujarnya.
