Kadin: Iklim Investasi Indonesia Stabil

admin.aiotrade 08 Des 2025 3 menit 12x dilihat
Kadin: Iklim Investasi Indonesia Stabil

Iklim Investasi dan Usaha di Indonesia Dinilai Masih Baik

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie menyatakan bahwa iklim investasi dan usaha di Indonesia saat ini masih dalam kondisi yang baik. Hal tersebut didasarkan pada surplus neraca perdagangan dan capaian investasi asing atau Foreign Direct Investment (FDI) yang terus menunjukkan pertumbuhan positif.

"Dari sisi kita, iklim usaha di Indonesia tentu baik dan bisa terlihat. Contoh saja dari trade atau perdagangan 66 bulan betul-betul positif. Total sudah 38 miliar dolar sampai Oktober (2025). Lalu FDI juga baik," ujarnya saat ditemui usai menghadiri IDN Times Leadership Forum di IDN HQ Jakarta, Senin (8/12/2025).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Deregulasi dan Insentif untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Meskipun demikian, Anin menilai bahwa pemerintah dan Kadin perlu fokus bersinergi dalam hal deregulasi dan pemberian insentif. Ia percaya bahwa langkah-langkah tersebut akan membuat dunia usaha lebih leluasa bergerak.

Fokus sinergi tersebut juga berkaitan langsung dengan rencana pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. "Tapi kita juga mesti berpikir kalau kita mau ke 8 persen, itu mesti 2-3 kali lipat. Nah, artinya deregulasi mesti kompetitif dibanding juga dengan negara lain termasuk juga insentif," kata Anin.

Data Surplus Perdagangan dan Investasi Asing

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2025 yang kembali mencatat surplus sebesar 2,39 miliar dolar AS. "Pada Oktober 2025, neraca perdagangan masih mencatatkan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, di Kantor Pusat BPS, Senin (1/12).

Di sisi lain, realisasi investasi asing alias penanaman modal asing (PMA) di Indonesia kembali mengalami penurunan pada kuartal III-2025 secara tahunan atau year on year (yoy). Pada periode tersebut, realisasi PMA di Indonesia mencapai Rp212 triliun. Capaian tersebut anjlok 8,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp232,7 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani tidak membantah adanya kontraksi pada realisasi PMA dan menyebut ketegangan geopolitik dunia sebagai biang kerok penyebabnya. "Kita ketahui memang tantangan global kan masih ada. Kemarin-kemarin kalau kita lihat, ini kan laporan triwulan tiga dari bulan Juli, Agustus, September. Dalam tiga bulan ini kan kita lihat tensi dari potensi trade war, potensi dari perang juga masih ada," katanya dalam konferensi pers di Jakarta.

Meski begitu, Rosan menyampaikan bahwa investasi asing tetap menunjukkan kenaikan secara kuartalan. PMA pada kuartal III-2025 sebesar Rp212 triliun, tumbuh 4,9 persen dibandingkan kuartal II-2025 yang hanya Rp202,2 triliun. "Sebetulnya investasi PMA-nya secara absolute number itu tidak turun, tetap meningkat. Angkanya tadi kurang lebih kan Rp212 triliun berbanding Rp202,2 triliun sebelumnya. Jadi tetap meningkat, tetapi tentunya harapannya FDI ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun," tutur Rosan.

Purbaya Sebut Iklim Investasi RI Berantakan

Adapun pernyataan Anin perihal iklim investasi atau usaha yang baik di RI merespons pernyataan Menkeu Purbaya terkait iklim investasi di Indonesia saat ini masih berantakan. Kondisi itu menyebabkan Indonesia kalah saing dalam menarik investasi, bahkan dari negara tetangga.

Menurut Purbaya, Indonesia kini tertinggal jauh dari negara-negara seperti Vietnam, Thailand, Singapura, dan Malaysia. Dia mencontohkan kasus terbaru di mana perusahaan teknologi besar Nvidia lebih memilih berinvestasi di Johor, Malaysia, ketimbang Indonesia. "Sekarang kita sama Vietnam kalah, sama Thailand kalah, sama Singapura kalah, sama Malaysia kalah dalam hal menarik investasi. Kemarin, Nvidia, baru pilih Johor dibanding Indonesia," katanya dalam Pembukaan Rapimnas 2025 Kadin Indonesia, Senin (1/12/2025).

Meskipun pemerintah telah menerapkan sistem perizinan terpadu, Purbaya menyoroti masalah di lapangan tidak kunjung selesai. Jika masalah sudah tuntas, perekonomian Indonesia seharusnya sudah melaju pesat dan investasi bisa berjalan kencang. "Iklim investasi kita masih berantakan. Betul kan? One single, one stop service, tapi gak kelar-kelar. Eh, boleh ngomong gini gak ya? Kalau nggak kita udah lari ekonominya, investasi udah ngebut," ujarnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan