Kaleidoskop 2025: Kinerja Saham Emiten Unggulan, JPFA, CPIN, AYAM, dan SIPD

admin.aiotrade 31 Des 2025 4 menit 13x dilihat
Kaleidoskop 2025: Kinerja Saham Emiten Unggulan, JPFA, CPIN, AYAM, dan SIPD

aiotrade , JAKARTA — Performa saham emiten sektor unggas pada tahun 2025 menunjukkan perbedaan yang signifikan. Di akhir tahun, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) mengalami kenaikan sebesar 35,05% secara year-to-date (YtD), sementara saham PT Charoen Pokphand Tbk. (CPIN) mengalami penurunan sebesar 5,25% YtD.

Berdasarkan penutupan pasar pada hari Selasa (30/12/2025), harga saham JPFA berada di level Rp2.620. Dari segi valuasi, rasio PE (price to earnings) annualised berada di tingkat 9,56 kali dengan rasio PBV (price to book value) sebesar 1,81 kali.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Sementara itu, harga saham CPIN ditutup di level Rp4.510. Harga tersebut menunjukkan bahwa valuasi CPIN lebih tinggi dibandingkan JPFA. Rasio PE annualised CPIN mencapai 16,48 kali dengan rasio PBV sebesar 2,32 kali. Kapitalisasi pasar CPIN tercatat sebesar Rp73,95 triliun, sedangkan JPFA sebesar Rp30,72 triliun.

Di bawah JPFA dan CPIN, ada saham PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) yang mengalami kenaikan sebesar 13,07% YtD ke Rp865. Kapitalisasi pasar MAIN sebesar Rp1,93 triliun. Dari segi valuasi, rasio PE annualised MAIN berada di 10,71 kali dengan rasio PBV sebesar 0,74 kali.

Selanjutnya, saham PT Widodo Makmur Unggas Tbk. (WMUU) naik drastis sebesar 510% YtD ke Rp61. Kapitalisasi pasar WMUU senilai Rp789 miliar. Meskipun perseroan mengalami kerugian, rasio PE annualised WMUU mencapai -8,54 kali dengan rasio PBV sebesar 1,01 kali.

Saham PT Janu Putra Sejahtera Tbk. (AYAM) juga melonjak sebesar 224,81% YtD ke Rp432. Kapitalisasi pasar AYAM sebesar Rp1,72 triliun. Rasio PE annualised AYAM ada di -77,40 dengan rasio PBV sebesar 9,05 kali.

Sementara itu, saham PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. (SIPD) tumbuh sebesar 36,36% YtD ke Rp1.125. Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp2,06 triliun. Dari segi valuasi, rasio PE annualised SIPD berada di level 305,46 kali dengan rasio PBV sebesar 1,71 kali.

PE rasio atau price to earnings ratio dan PBV atau price to book value biasanya digunakan untuk mengukur valuasi harga saham emiten dibandingkan dengan kinerja fundamental keuangan mereka. PE rasio dihitung dengan membagi harga saham dengan laba per saham (EPS). EPS dapat dihitung dengan membagi laba bersih perseroan dengan jumlah saham beredar.

Sementara itu, PBV rasio dihitung dengan membagi harga saham dengan nilai buku per saham. Nilai buku per saham dapat dihitung dengan membagi total ekuitas dengan jumlah saham beredar. Secara sederhana, PE dan PBV yang melonjak tinggi menunjukkan bahwa saham mendapat apresiasi pasar atas proyeksinya ke depan. Sebaliknya, jika kedua indikator tersebut memiliki angka kecil, bisa jadi secara valuasi harga saham ada di bawah nilai kewajaran, atau justru karena kinerja fundamentalnya sedang turun karena faktor pembaginya mengecil.

Net Buy Asing Emiten Unggas

Jika melihat riwayat orderbook investor asing pada saham emiten unggas, sepanjang 2025 ini CPIN mencatat net buy asing (all market) sebesar Rp338,41 miliar. JPFA juga mencatat net buy senilai Rp375,15 miliar dan WMUU sebesar Rp421,93 juta.

Di sisi lain, saham MAIN, SIPD, dan AYAM masing-masing mencatat net sell asing sebesar Rp60,37 miliar, Rp83,13 juta, dan Rp2,63 miliar.

Bila membandingkan kinerja bottom line emiten unggas per akhir September 2025, CPIN membukukan pertumbuhan laba bersih 40,99% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp3,36 triliun. Laba bersih JPFA juga naik 15,05% YoY menjadi Rp2,41 triliun.

Berikutnya, laba bersih MAIN terpangkas 62,21% YoY menjadi Rp135,65 miliar, sementara AYAM dan WMUU masing-masing menderita rugi bersih sebesar Rp16,74 miliar dan Rp69,35 miliar.

Tim riset dan analis Henan Putihrai Sekuritas dalam riset bertajuk Indonesia's 2026 Market Outlook: The New Regime mengatakan bahwa emiten unggas sepanjang 2025 sempat melalui fase sulit dengan adanya kelebihan pasokan. Namun, pada akhir 2025 kondisinya mulai stabil seiring dengan penurunan biaya pakan yang mendorong margin lebih baik.

“Memasuki 2026, kami meyakini bahwa fase terburuk bagi sektor barang kebutuhan pokok (staples) sebagian besar telah berlalu. Arah kebijakan fiskal yang baru dan lebih pro pertumbuhan melalui percepatan belanja pemerintah dan paket stimulus diperkirakan akan berdampak positif terhadap pemulihan permintaan,” tulis riset tersebut, dikutip Rabu (31/12/2025).

Riset tersebut menjabarkan, dengan nilai belanja pemerintah per transaksinya yang relatif kecil, diperkirakan sektor consumer staples, termasuk sektor unggas, akan menjadi salah satu penerima manfaat utama dan paling awal dari kebijakan fiskal pro pertumbuhan tersebut.

Untuk rekomendasi, di antara saham sektor konsumer non-siklikal yang direkomendasikan, Henan Putihrai Sekuritas memilih JPFA untuk mewakili subsektor unggas. Sisanya, ada CMRY dan FORE.

“Hal ini mengingat kemampuan mereka menangkap pemulihan permintaan konsumen sekaligus menjaga margin. Risiko utama tetap berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya impor,” tulis riset tersebut.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan