Warga Kampung Citiis Menghadapi Kondisi Sulit Akibat Longsor
Kondisi yang memprihatinkan dialami oleh warga Kampung Citiis, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat. Lebih dari dua pekan terakhir, akses menuju kampung tersebut tertutup akibat longsoran tanah yang menghancurkan jalan utama. Hal ini membuat kampung terpencil tersebut menjadi terisolasi.
Pantauan yang dilakukan pada Minggu (21/12/2025), menunjukkan bahwa sejumlah titik longsor terlihat di perlintasan menuju Citiis. Di kawasan hutan dekat kampung tersebut, sebagian badan jalan tampak tergerus oleh longsoran. Semakin mendekati permukiman, titik longsor lain juga terlihat menutupi jalan. Sementara itu, longsoran terparah berada di area permukiman, di mana lumpur dan batu menutupi nyaris seluruh akses masuk.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Rekahan tebing yang telah berguguran menutupi jalan tampak jelas di lokasi tersebut. Elin (17), salah satu warga setempat, mengatakan bahwa mobil maupun motor tidak bisa melewati titik longsor terparah tersebut. "Sesah ngalangkung" (Mobil dan motor susah melewati titik longsor), kata Elin saat berbicara di Citiis.
Elin berharap pemerintah segera memberikan bantuan agar material longsoran bisa dikeruk sehingga aktivitas warga dapat kembali pulih. Hal senada dikemukakan oleh Maman Suryaman (47), warga Citiis lainnya. Ia menjelaskan bahwa terdapat sekitar lima titik longsor yang menimbun akses menuju kampung tersebut. Longsoran terjadi lebih dari dua pekan lalu, dan kejadian tersebut terjadi bersamaan dengan banjir bandang Sungai Cibitung yang meredam kawasan wisata Curugan di Cililin beberapa waktu lalu.

Sebagian titik longsor memang telah dikeruk oleh warga Citiis. Namun, hujan yang masih sering turun menyebabkan material longsoran kembali turun dan masuk ke jalan. Bantuan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berupa pengerukan menggunakan alat berat belum juga terealisasi. Akibatnya, warga sangat kesulitan dalam melakukan aktivitas ekonomi hingga pendidikan.
Warga, misalnya, sulit untuk berbelanja ke pasar karena akses yang masih tertimbun longsor. Maman bahkan sudah menutup total warung tempat usahanya karena sulitnya berbelanja ke pasar. Meski begitu, ada warga yang tetap memaksakan diri belanja ke pasar. Untuk belanja, warga tersebut harus berjalan kaki dulu melewati timbunan guguran tanah. Sedangkan motornya didorong hingga mencapai lokasi akses yang tak tertutup longsor. Cara ini sangat menyusahkan warga.
Pengangkutan hasil bumi atau pertanian dari Citiis juga mengalami kendala yang sama. Mobil yang biasanya menjemput hasil bumi warga sama sekali tak bisa masuk ke Citiis. Maman berencana akan memanggul biji kopi yang ditanamnya melewati area longsor jika telah panen untuk kemudian diangkut menggunakan motor. Dengan cara itu, setidaknya usaha budidaya kopi tidak sampai ditutup total seperti warungnya.
"Can ayeuna nu nyanghareupan panen cabe keriting" (Belum lagi nasib warga yang menghadapi musim panen cabai keriting), tuturnya.
Dampak pada Pendidikan
Tidak hanya aktivitas ekonomi, urusan pendidikan juga terkena dampak dari longsoran tersebut. Siswa asal Citiis mengalami kesulitan untuk bersekolah. Ipah (35), warga Citiis, mengungkapkan bahwa anaknya yang berstatus siswa SMP di wilayah Pasirbuleud menjadi enggan berangkat ke sekolah karena kondisi jalan yang sulit dilewati.
Jarak dari Citiis ke sekolah tersebut mencapai sekitar tujuh kilometer. "Jalan sesah mapah tebih" (Jalannya jadi sukar dilewati, jika berjalan kaki ke sekolah jaraknya jauh), ucapnya. Untuk mencapai sekolah itu, siswa-siswa Citiis biasanya menggunakan motor. Kini, menggunakan motor pun sulit dilakukan lantaran timbunan longsor yang menutup jalan. Siswa pun terpaksa mendorong dulu motornya melewati timbunan longsor apabila tetap ingin berangkat sekolah.
Ipah juga khawatir jika anaknya bersekolah. Selain khawatir ada longsoran susulan, ia juga risau anaknya terjatuh karena kondisi jalan yang memprihatinkan.