
Kampung Aceh Simpang DAM Muka Kuning Kembali Jadi Sorotan
Kampung Aceh Simpang DAM Muka Kuning, yang kini berubah nama menjadi Kampung Madani, kembali menjadi sorotan setelah kembali digrebek oleh tim gabungan. Meskipun telah diubah menjadi Kampung Madani melalui program kepala BNN RI, upaya pemberantasan narkoba di lokasi ini seolah tidak mempan.
Pada Jumat (7/11) pagi, tim gabungan kembali melakukan operasi penindakan di perkampungan tersebut. Akibatnya, dua bangunan rumah dirobohkan karena diduga menjadi tempat penyalahgunaan narkoba. Selain itu, tim gabungan menangkap 52 orang warga sekitar, dengan 36 di antaranya positif terkena narkoba. Operasi ini disebut sebagai bagian dari upaya pemulihan terpadu kawasan narkoba yang dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Tanggapan Warga Batam atas Operasi Penindakan
Banyak warga Batam memberikan komentar mengenai aksi penindakan tersebut. Beberapa netizen menyebut bahwa aksi penegakan hukum di lokasi itu hanya formalitas. Deni, salah satu warga Batam, mengatakan: "Apa susahnya memberantas narkoba di lokasi itu? Putus saja pemasoknya, jaringan bandarnya yang diputus. Kalau barang tak ada, orang pun tak akan datang kesitu."
Menurut Deni, penanganan narkoba di Kampung Aceh hanya butuh keseriusan agar tidak ada cela bagi pengguna atau pengedar masuk ke lokasi. Sementara itu, Enfida, salah satu warga Kampung Aceh, mengaku meski kondisi perkampungan melekat dengan stigma negatif, ia tidak mempersoalkannya karena menggantung hidup dari hasil berjualan di lokasi tersebut.
"Ada sedih dan senangnya juga kampung Aceh digrebek. Kalau senang tak ada lagi orang pakai narkoba, sedihnya kami tak dapat duit lagi. Lah, kan kami setiap hari jualan nasi kalau tak ada yang beli kami cari duit kemana," ujar Enfida di lokasi.
Enfida menjelaskan bahwa ia sudah tinggal di kampung Aceh sejak tahun 2004. Ia menggantungkan hidup dari usaha jual makan. Saat kampung Aceh ramai pengunjung, Enfida bisa menjual nasi hingga 70 hingga 100 bungkus per hari.
"Kalau ramai, iya Alhamdullillah lah. Bisa nambah-nambah kebutuhan keluarga. Saya kadang titip nasi jualan saya di dekat mesin Jeckpot (judi) itu. Orang main judi kalau lapar mereka beli," tambah Enfida.
Menurut Enfida, kampung Aceh hanya ramai jika lokasi judi dan penjualan barang haram tersedia di lokasi. Menurut dia, warga yang datang ke lokasi bukan warga sekitar melainkan mereka hanya pengunjung.
"Rata-rata, mereka bukan warga sini. Orang pendatang saja itu. Kalau warga sini, rata-rata tak ada yang narkoba. Kampung kami ini jelek karena mereka," ujarnya.
Tanggapan dari BNN Kepri
Merespons program BNN yang dinilai tidak mempan dalam memberantas narkoba di Kampung Aceh, Kabid Berantas BNN Kepri, Kombes Pol Nestor, enggan mengakui hal tersebut. Ia menegaskan bahwa pemberantasan narkoba tidak hanya tugas BNN melainkan semua stake holder.
"Ini tidak bisa hanya BNN saja. Ini seluruh lintas stake holder. Hari ini kita amankan 51 orang, 36 positif selanjutnya yang positif kita asesmen, lalu direhab," ujarnya, Jumat (7/11).
Nestor mengatakan bahwa orang-orang yang diamankan seluruhnya bukan warga sekitar, bahkan mereka tidak memiliki identitas. Menurut dia, program Kampung Aceh bersih narkoba oleh kepala BNN RI beberapa waktu lalu telah berhasil menekan angka narkoba di lokasi.
"Jumlah penindakan berkurang. Misalnya tahun lalu ditindak dari dalam 80 sekarang hanya 50 an. Artinya berkurang," katanya.
Nestor mengaku pemberantasan narkoba di lokasi butuh proses dan waktu. "Satu kelemahan kita mungkin belum terlalu konsisten. Intensitas kita datang dan turun kesini jarak itu masih terlalu jauh. Mungkin tim terpadu ini bisa dibentuk sehingga bisa dijadwalkan berapa kali kita harus turun kesini dalam sebulan sehingga ini tidak mengembang karena ini sudah kita tekan tapi mengembang lagi," ujar Nestor mengakui.
Ia menegaskan bahwa lokasi ini harus dikelola. "Tangkapan dari Polres dan Polda memang banyak. Tapi fokus BNN lebih kepada bagaimana mengelola lokasi ini. Karena kita masuk kesini saja susah begitu, mereka merasa nyaman memakai narkoba didalam sini," tuturnya.