Kampus Harus Tahu! Peran Pendidikan Cegah Bullying

admin.aiotrade 21 Okt 2025 3 menit 16x dilihat
Kampus Harus Tahu! Peran Pendidikan Cegah Bullying
Kampus Harus Tahu! Peran Pendidikan Cegah Bullying

Pentingnya Pendidikan Berbasis Empati dalam Mencegah Perundungan di Lingkungan Akademik

Lingkungan pendidikan seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi setiap peserta didik. Namun, kasus perundungan atau bullying masih sering terjadi, baik secara langsung maupun di dunia maya. Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menegaskan bahwa institusi pendidikan memiliki peran besar dalam mencegah perundungan agar mahasiswa dapat belajar di lingkungan yang sehat dan berempati.

Menurut Kasandra, salah satu langkah penting adalah menciptakan pendidikan berbasis empati. “Empati bukan hanya urusan pribadi, tetapi nilai yang harus dibangun juga oleh institusi pendidikan agar budaya menghargai dan saling peduli bisa tumbuh antarmahasiswa, dosen, dan juga staf,” ujarnya.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dengan menumbuhkan empati, lanjut Kasandra, kampus bisa mencegah berbagai bentuk kekerasan verbal, ejekan, hingga pengucilan sosial yang sering kali menjadi akar dari perundungan. Salah satu upaya konkret yang dapat dilakukan kampus adalah dengan mentoring antarmahasiswa dan diskusi reflektif mengenai interaksi sosial sehari-hari. Kegiatan seperti ini, menurut Kasandra, mampu menanamkan empati dan kesadaran sosial sejak dini dalam kehidupan akademik.

Selain itu, pelatihan komunikasi empatik juga penting diberikan kepada dosen dan tenaga kependidikan. “Mereka perlu memahami bahwa kata-kata atau tindakan kecil bisa berdampak besar pada perasaan mahasiswa. Dengan komunikasi empatik, civitas akademika tidak menjadi bagian dari pola perundungan,” tambahnya.

Kasandra menyoroti bahwa tidak sedikit kasus bullying di universitas justru muncul dari relasi akademik yang tidak sehat antara mahasiswa dan tenaga pendidik. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya peningkatan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya hubungan yang sehat antara dosen dan mahasiswa.

Lebih jauh, Kasandra juga menekankan pentingnya sistem pelaporan yang aman dan manusiawi bagi korban perundungan. Sistem ini, kata dia, harus memastikan korban dapat melapor tanpa rasa takut atau malu, dengan pendekatan pemulihan, bukan sekadar sanksi terhadap pelaku.

Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang 2023 tercatat 3.800 kasus perundungan, hampir setengahnya terjadi di lingkungan sekolah dan pesantren. Sementara pada 2024, KPAI menerima lebih dari 2.000 pengaduan, termasuk 954 kasus bullying yang sudah ditindaklanjuti.

Kasus terbaru yang menggemparkan publik terjadi di Universitas Udayana, di mana sejumlah mahasiswa melakukan olok-olok terhadap rekannya berinisial TAS (22) yang meninggal dunia. Tindakan tersebut dinilai sebagai bentuk bullying nir-empati dan berujung pada sanksi pemberhentian tidak hormat bagi para pelaku.

Upaya Konkret dalam Membangun Budaya Akademik yang Sehat

Untuk mencegah perundungan, beberapa langkah strategis dapat dilakukan oleh institusi pendidikan:

  • Program mentoring antarmahasiswa: Memfasilitasi pertemuan antara mahasiswa senior dan junior untuk saling mendukung dan membangun ikatan emosional.
  • Diskusi reflektif tentang interaksi sosial: Mengajak mahasiswa untuk merenungkan perilaku mereka dalam lingkungan akademik dan bagaimana hal tersebut memengaruhi orang lain.
  • Pelatihan komunikasi empatik: Memberikan kesempatan kepada dosen dan staf untuk memperkuat kemampuan mereka dalam berkomunikasi dengan cara yang lebih peka dan penuh empati.
  • Sistem pelaporan yang aman: Membuat mekanisme pelaporan yang mudah diakses dan memberikan perlindungan bagi korban tanpa rasa takut atau malu.

Pentingnya Kesadaran Bersama dalam Menciptakan Lingkungan Akademik yang Aman

Perundungan tidak hanya menjadi masalah individu, tetapi juga merupakan tantangan kolektif yang harus dihadapi oleh seluruh civitas akademika. Dengan membangun budaya empati, komunikasi sehat, dan sistem pelaporan yang aman, kampus dapat menjadi zona bebas bullying bagi seluruh warganya.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan