Perang di Timur Tengah: Blokade Selat Hormuz dan Kekacauan Global
Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan memblokade Selat Hormuz setelah para negosiator gagal mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Blokade ini akan dimulai pada Senin pukul 10 pagi waktu AS dan hanya berlaku untuk kapal yang menuju dan dari Iran. Hal ini menunjukkan ketegangan yang meningkat antara dua negara tersebut.
Dampak Ekonomi dan Harga Minyak
Efek domino dari blokade ini telah terasa. Harga minyak kembali menembus angka $100 per barel pada hari Minggu, karena ancaman blokade ini dapat semakin mengganggu perekonomian global dan menjaga harga bensin tetap tinggi. Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik sebesar 8 persen.
Gagalnya Negosiasi Damai
Kemarin, AS dan Iran mengakhiri negosiasi selama 21 jam di Islamabad tanpa mencapai kesepakatan. Akibatnya, nasib gencatan senjata yang rapuh selama dua minggu itu masih belum jelas. Ini menunjukkan bahwa proses diplomasi antara kedua belah pihak masih sangat sulit.
Kapal Perang AS Diusir dari Selat Hormuz
Iran mempublikasikan video yang menunjukkan dua kapal perusak AS diusir dari Selat Hormuz. Video ini viral dan dipublikasikan oleh PressTV. Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa dua kapal perusak AS berhasil melintasi Selat Hormuz dan memasuki Teluk Arab sebagai bagian dari operasi pembersihan ranjau.
Klaim dan Bantahan Antara AS dan Iran
Dua kapal perusak milik Amerika Serikat (AS), USS Michael Murphy (DDG 112) dan USS Frank E. Peterson (DDG 121), mencoba melintasi Selat Hormuz tetapi dicegat dan dipaksa mundur oleh pasukan angkatan laut Iran. Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya menyatakan laporan tentang kapal Amerika yang memasuki Selat Hormuz tidak benar.
Perbedaan Pernyataan Militer AS
Sebelumnya, dikutip dari Reuters, Komando Pusat militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengeklaim bahwa dua kapal perusak Angkatan Laut AS telah beroperasi di Selat Hormuz dalam rangka misi pembersihan ranjau laut. Pernyataan saling bantah ini muncul di tengah gagalnya perundingan 'damai' AS dan Iran di Pakistan kemarin.
Pentingnya Jalur Selat Hormuz
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Setiap perkembangan di kawasan ini berpotensi memengaruhi perdagangan global dan harga energi. Dengan adanya klaim dan bantahan dari kedua pihak, situasi di Selat Hormuz pun semakin memanas dan berisiko memperburuk ketidakpastian di pasar energi global.
Penyamaran Kapal AS
Investigasi Press TV menulis bahwa dua kapal perusak itu hanya berjarak beberapa menit dari rudal Iran. Disebutkan rudal jelajah Iran telah mengunci target pada kapal tersebut dan drone penyerang telah dikerahkan. Dari video yang ditampilkan, militer Iran telah memperingatkan kapak itu menjauh.

Strategi Militer Iran
IRGC mengatakan kapal perang AS itu berusaha mengelabui Iran dengan menyamar kapal komersial milik Oman. Kapal-kapal perusak juga memilih rute yang sangat dekat dengan pantai dan melalui perairan dangkal, mengambil risiko tinggi untuk melewati rute ini dan memasuki Teluk Persia. Kapal itu berharap bisa mengelabui militer Iran.
Namun, pasukan angkatan laut IRGC, saat berpatroli di sekitar Fujairah, telah mendeteksi penipuan tersebut dan mengambil tindakan cepat. USS Frank Peterson awalnya mencoba melanjutkan perjalanannya, tetapi segera menyadari bahwa radar rudal jelajah telah menguncinya, dan dihentikan oleh kapal-kapal IRGC.
Drone dan Helikopter Pendukung
Bersamaan dengan itu, drone IRGC terbang di atas kedua kapal perusak tersebut. USS Peterson kemudian menerima pemberitahuan melalui saluran internasional 16 bahwa kapal tersebut harus berbalik dan meninggalkan area tersebut dalam waktu tiga puluh menit atau akan menjadi sasaran Angkatan Bersenjata Iran.
Helikopter pendukung juga terbang di atas kapal perusak tersebut. Bersamaan dengan peringatan kepada kedua kapal perusak ini, semua kapal di area tersebut diperingatkan untuk tetap berada setidaknya 10 mil jauhnya dari mereka agar jika mereka menjadi sasaran IRGC.