Kapan Waktu Terbaik Anak Mulai Sekolah?

admin.aiotrade 16 Des 2025 4 menit 28x dilihat
Kapan Waktu Terbaik Anak Mulai Sekolah?

Setiap tahun ajaran baru, pertanyaan yang sama sering muncul di banyak keluarga, yaitu apakah anak sudah siap masuk sekolah dasar? Kesiapan anak untuk mulai bersekolah tidak hanya dilihat dari usia atau kemampuan membaca dan berhitung, tetapi juga termasuk aspek emosional, sosial, dan mental. Banyak anak yang secara usia memenuhi syarat namun masih kesulitan beradaptasi di lingkungan sekolah. Sebaliknya, ada pula anak yang belum genap usia yang disyaratkan, tetapi menunjukkan kemandirian dan ketahanan emosi yang baik.

Pertanyaan ini memunculkan kepentingan besar: apakah kesiapan sekolah bisa diukur hanya dari angka usia, atau ada faktor lain yang lebih menentukan? Dokter spesialis anak Hesti Lestari menjelaskan bahwa kesiapan anak masuk sekolah bersifat multidimensi dan tidak dapat disederhanakan hanya berdasarkan usia kronologis. "Kesiapan sekolah itu bersifat multidimensi, siap secara sosial-emosional, fisik-motorik, komunikasi-bahasa, kognitif, serta cara belajar. Semua dimensi ini saling menunjang," ujarnya dalam seminar daring “Kapan dan Usia Berapa Sebaiknya Anak Mulai Sekolah” yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Selasa, 16 Desember 2025.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Lima Dimensi Kesiapan Anak Masuk Sekolah

Pilihan Editor: Kapan Anak Bisa Mendapatkan Ponsel

Dokter yang juga anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Padiatri Sosial IDAI itu menambahkan, seorang anak dikatakan siap sekolah ketika ia telah mencapai tonggak perkembangan yang memungkinkan dirinya mengatur stimulasi perhatian dan emosi, sehingga mampu bertahan dalam proses belajar. Kesiapan sekolah bukanlah satu faktor tunggal, melainkan gabungan dari berbagai aspek perkembangan yang saling terkait. Usia memang menjadi salah satu pertimbangan, tetapi bukan satu-satunya. Inilah lima dimensi kesiapan anak sebelum orang tua memutuskan mendaftarkannya masuk sekolah.

1. Kesiapan Sosial-Emosional

Kesiapan sosial membantu anak berintegrasi di dalam kelas dan menjadi bagian dari kelompok. Anak diharapkan mampu berinteraksi dengan teman sebaya secara efektif, menunjukkan perilaku atau budi pekerti yang baik, menghargai teman, bekerja sama, serta kemampuan mengontrol diri. "Ini harus disiapkan sejak anak masih dalam usia dini, sehingga anak akan siap menghadapi proses belajar mengajar," kata dia.

Selain itu, kematangan emosional juga menjadi aset penting. Anak yang siap sekolah umumnya mampu memperhatikan, tidak mudah mengganggu teman, tidak menangis berlebihan setiap mengalami kegagalan, memiliki rasa percaya diri, dan rasa ingin tahu yang sehat.

2. Kesiapan Fisik dan Motorik

Aspek fisik tidak kalah pentingnya dibanding sosial-emosional. Anak perlu memiliki kecukupan energi dan daya tubuh yang baik agar mampu mengikuti aktivitas belajar. Gangguan pendengaran dan penglihatan dapat menjadi sumber kesulitan belajar yang sering tidak disadari. Kemampuan motorik kasar membantu anak mengikuti permainan dan aktivitas fisik, sementara motorik halus menunjang keterampilan seperti memegang pensil, menulis, dan membuka halaman buku.

3. Kesiapan Bahasa dan Komunikasi

Bahasa merupakan dasar dari proses menulis dan membaca. Keterampilan bahasa anak mencakup kemampuan memahami apa yang dikatakan orang lain serta mengekspresikan pikiran dan perasaan secara verbal dengan cara yang dapat dimengerti.

4. Kesiapan Kognitif

Keterampilan kognitif awal membantu anak memahami instruksi guru dan proses belajar di kelas. Anak yang terbiasa membaca bersama orang tua di rumah, akan lebih mudah memahami bahwa kata adalah simbol bahasa dan setiap huruf memiliki bunyi yang berbeda. Selain itu, stimulasi yang cukup membuat anak mengenal konsep ruang seperti di atas, di bawah, di dalam, warna, bentuk, serta aspek berbagai objek di sekitarnya.

5. Cara Belajar

Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda, dipengaruhi oleh temperamen dan pengalaman sebelumnya. Ada anak yang belajar dengan penuh semangat, ada pula yang lebih berhati-hati. Sebagian anak lebih nyaman belajar berkelompok, sementara yang lain lebih fokus saat belajar mandiri. Memahami cara belajar anak menjadi bagian penting dari kesiapan sekolah.

Kesiapan anak masuk sekolah tidak boleh dianggap hal sepele. Anak dinilai siap masuk sekolah bukan karena usianya, tetapi karena telah menguasai lima komponen kesiapan tersebut. Orang tua memegang peran sentral dalam mendampingi, menstimulasi, dan membentuk kesiapan anak sejak dini agar pengalaman sekolah menjadi proses yang menyenangkan, bukan sumber tekanan.

Hingga kini, belum ada penelitian resmi yang menetapkan standar usia tunggal anak masuk sekolah. Namun, di Indonesia, usia enam atau tujuh tahun kerap dianggap sebagai patokan umum. Angka ini berkembang dan diterima secara luas di masyarakat, meskipun pada praktiknya kesiapan setiap anak dapat berbeda.


Pilihan Editor:
Sederet Risiko Membayangi Influencer Cilik

HESTI DWI ARINI
Pilihan Editor:
Anak dengan Autisme di Sekitar Kita

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan