Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan bahwa sistem ketenagalistrikan nasional telah mencapai kapasitas terpasang sebesar 107 gigawatt pada Oktober 2025. Dari jumlah tersebut, pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) menyumbang 15,47 GW atau sekitar 14,4%. Sementara itu, energi fosil masih mendominasi dengan kontribusi sebesar 91,76 GW atau 85,6%.
“Tenaga air tetap menjadi tulang punggung dari pembangkit EBT dengan kontribusi lebih dari 7% (7,57 GW),” ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII yang diikuti secara daring, Kamis (13/11).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selain tenaga air, sumber EBT lainnya seperti biomassa berkontribusi sebesar 3,17 GW (3%), panas bumi 2,74 GW (2,6%), surya 1,37 GW (1,3%), dan angin 0,15 GW (0,1%). Sementara itu, pembangkit listrik tenaga lainnya memiliki kontribusi yang relatif kecil.
Menurut Tri Winarno, meskipun komposisi EBT mencapai 14%, Indonesia masih bergantung pada energi fosil, terutama batu bara, sebagai sumber utama pembangkit beban dasar. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mampu beroperasi 24 jam penuh untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional.
“Kita tidak bisa mengabaikan tuntutan dekarbonisasi yang semakin kuat, baik dari sisi kebijakan nasional maupun dinamika ekonomi global,” katanya.
Selain PLTU, Indonesia juga masih menggunakan energi fosil seperti gas sebagai sumber listrik khususnya di wilayah perkotaan dan pusat ekonomi. Menurut Tri, pembangkit gas diperlukan karena karakteristiknya yang lebih fleksibel dan mampu menyesuaikan perubahan beban jika kebutuhan listrik meningkat secara mendadak.
“Fleksibilitas ini akan menjadi semakin penting bagi penetrasi EBT variabel seperti surya dan angin yang terus meningkat,” ujarnya.
Beberapa tantangan yang dihadapi pengembangan EBT antara lain:
- Pembangunan PLTA di daerah pedalaman membutuhkan waktu yang lama.
- Pembangkit panas bumi memerlukan eksplorasi yang penuh risiko, terutama di hutan.
- Pembangkit listrik tenaga surya memiliki sifat intermitten dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.
- Pembangkit angin bergantung pada kecepatan angin, sehingga produksi listriknya tidak stabil.
Dengan demikian, meski EBT mulai memberikan kontribusi signifikan, Indonesia masih memerlukan keseimbangan antara penggunaan energi fosil dan pengembangan EBT untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat.