
Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading Jakarta: Fakta dan Perkembangan Terbaru
Ledakan yang terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat (7/11/2025) mengguncang lingkungan sekolah. Kejadian tersebut menimbulkan kepanikan di kalangan siswa dan guru yang sedang bersiap menjalankan ibadah salat Jumat. Saat khotbah kedua berlangsung, suasana tenang tiba-tiba berubah menjadi teriakan siswa yang panik dan ingin menyelamatkan diri.
Peristiwa ini memakan korban hingga lebih dari 50 orang. Pihak kepolisian telah melakukan penanganan darurat dengan membuka posko bantuan bagi para korban. Kepolisian juga menyatakan bahwa mereka akan fokus memberikan pelayanan terbaik kepada korban sekaligus melanjutkan proses hukum terhadap pelaku.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Beberapa Fakta Terkait Insiden Ledakan
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan beberapa informasi penting terkait insiden tersebut. Menurutnya, terduga pelaku masih merupakan siswa dari lingkungan sekolah SMAN 72. Ia menyebut bahwa berdasarkan penelusuran sementara, pelaku adalah seorang siswa yang saat ini masih dalam penyelidikan.
Selain itu, senjata yang digunakan oleh terduga pelaku disebut sebagai senjata mainan. Senjata tersebut dilengkapi dengan tulisan tertentu, namun motif aksi tersebut masih dalam proses pendalaman. “Kita temukan jenis senjatanya senjata mainan, ada tulisan-tulisan tertentu, dan itu juga menjadi bagian yang kita dalami untuk mendalami motif bagaimana yang bersangkutan kemudian merakit dan kemudian melaksanakan aksinya,” ujar Listyo.
Isu Keluarga Polri
Beberapa pihak sempat menyebut bahwa orang tua terduga pelaku merupakan anggota kepolisian. Namun, sampai saat ini belum ada informasi pasti mengenai hal tersebut. Kapolri menyatakan bahwa isu tersebut masih dalam proses pendalaman. “Sementara tidak ada (informasi itu). Ya sedang kita dalami,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa pihak kepolisian akan menyampaikan hasil pendalaman kepada publik secara berkala. “Tentunya setiap tahapan dan perkembangan yang perlu diinformasikan, akan kita informasikan,” ujarnya.
Pelaku dan Korban
Dari total korban, dua orang membutuhkan operasi medis, salah satunya adalah terduga pelaku. Sampai saat ini, belum ada laporan mengenai korban jiwa. Kapolri berharap semua korban yang mendapat perawatan dapat segera pulih dan kembali ke rumah. “Ada dua yang dilaksanakan operasi, dan sisanya dilaksanakan proses perawatan dan mudah-mudahan bisa berangsur-angsur kembali pulang. Untuk saat ini salah satu yang dari yang saat ini melakukan operasi (adalah) terduga pelaku,” ujarnya.
Pengalaman Siswa dan Saksi
Sena, siswa kelas XI SMA 72 Jakarta, menceritakan pengalamannya saat ledakan terjadi. Menurutnya, kepanikan dimulai setelah ledakan terjadi di bagian tengah masjid. Salat Jumat pun dibatalkan karena situasi yang tak aman. “Dari tengah masjid. Ada ledakan kita kabur, nyelamatin teman-teman, setelah nyelametin teman-teman ada ledakan lagi kedua kali,” kata Sena.
Sena juga menyebut bahwa ledakan diduga berasal dari benda yang dibawa oleh seorang siswa kelas XII. Informasi yang ia dapatkan menyebutkan bahwa terduga pelaku mungkin melakukan aksinya karena menjadi korban bullying di sekolah. “Katanya pelakunya terindikasi siswa. Mungkin karena dia tuh korban bully jadi ingin balas dendam,” ujarnya.
ZA, salah satu saksi mata, juga menyampaikan bahwa terduga pelaku sering menjadi korban bullying di sekolah. Menurut ZA, pelaku selalu menyendiri karena merasa tidak sejalan dengan teman-temannya. “Dia kayak ingin balas dendam ke pembully sampai merakit bom sendiri,” katanya.
Menurut ZA, terduga pelaku diduga meletakkan bahan peledak di tiga titik di sekolah, yaitu musala, kantin, dan tempat duduk para siswa yang sering membully-nya. “Dia jarang kelihatan di sekolah,” ujarnya.
Setelah ledakan pertama, ZA mendengar ledakan kedua dan ketiga di dalam ruang kelas tempat duduk para siswa. Ia melihat delapan temannya terluka di beberapa bagian tubuh hingga mengalami gosong. “Saya enggak lihat pelakunya, karena kelas 12 sedang libur dan ternyata dia di belakang sekolah, di tempat-tempat sampah,” tuturnya.