Karena Trump vs Xi Jinping, Harga Bitcoin Anjlok ke US$ 108.000

admin.aiotrade 11 Okt 2025 3 menit 9x dilihat
Karena Trump vs Xi Jinping, Harga Bitcoin Anjlok ke US$ 108.000

Harga Bitcoin Turun Drastis Akibat Ketegangan Perdagangan AS-China

Harga Bitcoin mengalami penurunan tajam pada hari Jumat (10/10) di waktu AS, turun ke kisaran US$ 108.000 (sekitar Rp 1,7 miliar). Penurunan ini terjadi setelah ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok meningkat tajam. Pasar global, termasuk pasar kripto, langsung terganggu akibat pengumuman Presiden Donald Trump mengenai kebijakan tarif dan pembatasan ekspor baru terhadap Beijing.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Trump menulis di platform Truth Social bahwa Tiongkok telah menerapkan kontrol ekspor yang “agresif” dan “belum pernah terjadi sebelumnya” atas hampir semua produk, yang akan berlaku mulai 1 November 2025. Sebagai respons, Trump menyatakan bahwa AS akan memberlakukan tarif 100% atas seluruh barang impor dari Tiongkok dan menetapkan kontrol ekspor atas perangkat lunak penting pada tanggal yang sama.

Bitcoin Rontok 10%, Aset Kripto Ambruk Massal

Harga Bitcoin langsung anjlok dari sekitar US$ 117.000 di siang hari menjadi di bawah US$ 108.000 dalam hitungan jam. Saat berita ini ditulis, pukul 10.17 WIB, harga Bitcoin pulih sedikit ke kisaran US$ 112.677, tetapi volatilitas masih sangat tinggi. Dalam beberapa jam, Bitcoin turun sekitar 10%, sementara banyak aset kripto lain anjlok antara 20–40%.

Pasar global juga terguncang oleh eskalasi ketegangan perdagangan AS-China. Bursa saham global ikut terpuruk setelah pengumuman Trump. Langkah kenaikan tarif besar-besaran itu merupakan respon terhadap pembatasan ekspor baru Tiongkok untuk logam tanah jarang (rare earth), bahan penting bagi industri pertahanan, semikonduktor, dan kecerdasan buatan (AI).

Trump menuduh Beijing berusaha “memonopoli sumber daya penting dunia.” China kini memperluas aturan ekspor hingga mencakup produk asing yang mengandung atau diolah menggunakan unsur tanah jarang asal China, yang menandai eskalasi besar dalam perang dagang kedua negara. Langkah tersebut memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok global.

Saham-Saham Berisiko Terpuruk

Saham-saham berisiko langsung tergelincir — S&P 500 turun 2% dan Nasdaq merosot 2,7% dalam sehari. Trump juga membatalkan pertemuan dengan Presiden Xi Jinping di KTT APEC, dengan janji akan “melawan China secara finansial.” Trump menuding tindakan Beijing sebagai “jahat dan bermusuhan,” sambil menegaskan bahwa AS punya kekuatan lebih besar — hanya saja belum digunakan sampai sekarang.

Saham-saham kripto pun ikut tertekan: Circle (CRCL), Robinhood (HOOD), Coinbase (COIN), dan MicroStrategy (MSTR) turun antara 3% hingga 12% sepanjang hari.

Rally Bitcoin Terhenti, Tapi Potensi Bull Run Belum Mati

Meski demikian, awal Oktober Bitcoin sempat menembus rekor tertinggi baru di atas US$ 126.000, sebelum kembali stabil di kisaran US$ 121.000. Banyak analis menyebut fase ini sebagai “fase euforia” dalam siklus bull market, di mana harga naik cepat disertai optimisme berlebihan dari investor ritel.

Secara historis, momentum seperti ini bisa mendorong harga Bitcoin menuju kisaran US$ 180.000–200.000, sebelum akhirnya pasar mendingin. Sejak awal tahun, Bitcoin sudah naik lebih dari 30%, didorong oleh aliran dana ke ETF Bitcoin di AS dan kembalinya kepercayaan investor terhadap aset digital.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan