Kasteel Batavia, Sisa Kejayaan VOC yang Terlupakan di Tengah Sampah dan Truk

admin.aiotrade 12 Nov 2025 7 menit 14x dilihat
Kasteel Batavia, Sisa Kejayaan VOC yang Terlupakan di Tengah Sampah dan Truk

Pemandangan yang Menggambarkan Kehilangan Sejarah

Dari arah Jalan Tongkol, Pademangan, Jakarta Utara, langkah kaki menapaki jalan tanah berdebu yang diapit tumpukan sampah dan puing bangunan. Di balik deru kendaraan berat dan aroma limbah yang menyengat, perlahan tersingkap sisa masa lalu Batavia, yakni reruntuhan tua yang disebut sebagai Kasteel Gudang Timur. Bangunan ini merupakan sebagian kecil dari Kasteel Batavia, benteng megah yang pernah menjadi pusat kekuasaan VOC pada abad ke-17. Kini, yang tersisa hanya potongan dinding bata merah yang sebagian tertutup akar pohon besar, diapit truk-truk kontainer yang keluar masuk dari arah pelabuhan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Keberadaan yang Tidak Lagi Bersejarah

Nur (38), warga yang tinggal di belakang reruntuhan Kasteel Gudang Timur, mengatakan bahwa tempat ini sejak bertahun-tahun digunakan sebagai tempat parkir truk pelabuhan. Dari kejauhan, dinding bangunan itu tampak seperti tubuh raksasa yang ditelan waktu. Bata merahnya rapuh, sebagian mengelupas, memperlihatkan susunan asli yang telah terpapar hujan dan panas selama ratusan tahun. Pintu kayu besar yang dulu mungkin menjadi gerbang masuk kini lapuk, besinya berkarat. Di dalamnya, ruang kosong menyisakan reruntuhan balok kayu dan kasau atap yang runtuh. Sementara akar-akar gantung menjulur dari atap, merambati kusen dan tiang yang hampir tak sanggup menopang beban sejarahnya sendiri.

Kawasan di sekitar reruntuhan kini jauh dari kesan bersejarah. Truk-truk besar kerap parkir di depan tembok tua, sementara area sekitarnya menjadi tempat pembuangan sampah warga dan pekerja proyek pelabuhan. Anak-anak kampung Tongkol bermain di tanah berdebu tak jauh dari reruntuhan, sedangkan ibu-ibu sibuk menjemur pakaian di dekat dinding bata yang sudah ditumbuhi semak. Di salah satu sudut, berdiri gubuk-gubuk semi permanen dari tripleks dan seng bekas, tempat tinggal warga yang telah lama hidup berdampingan dengan sejarah.

Harapan untuk Pelestarian Sejarah

Nur mengaku mengenal bangunan bersejarah yang kian terbengkalai itu sejak kecil. Namun, suasananya kini tak lagi seperti dulu. Ia mengatakan bahwa setiap malam ia merasa agak serem, tetapi siang hari justru ramai karena anak-anak main manjat akar pohon. Ia juga mengkhawatirkan kemungkinan ambruknya bangunan karena dindingnya retak-retak. Dari pengamatannya, bagian bawah bangunan sering tergenang air ketika hujan. “Kalau becek, tanahnya suka gerak. Saya takut lama-lama runtuh sendiri. Padahal ini kan peninggalan penting,” katanya.

Di dekat rumah Nur, seorang pedagang minuman, Wahid (47), menatap reruntuhan bangunan dengan nada prihatin. Ia membuka lapak kecil di pinggir jalan menuju situs. “Dulu masih bisa dimasukin, sekarang udah enggak berani. Takut ketiban batu,” ujarnya. Menurut Wahid, setiap pekan ada saja pengunjung yang berkunjung ke Kasteel Batavia. “Kadang turis asing, kadang anak-anak kuliah. Mereka bilang ini bagian benteng Batavia. Tapi kalau lihat sekarang, ya sedih. Udah jadi tempat parkir truk sama tumpukan sampah,” katanya.

Ia pun berharap pemerintah turun tangan sebelum semuanya hilang dan menimbulkan bahaya bagi warga sekitar. “Masih bisa diselamatin kok. Cuma butuh dirawat, dikasih pagar, dibersihin. Warga juga bisa bantu jaga, malah bisa jadi tempat wisata sejarah kecil kayak di Kota Tua," tuturnya.

Sejarah yang Tertinggal

Kasteel Batavia mulai dibangun pada 1620 oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC, yang menaklukkan Jayakarta. Pembangunannya kemudian disempurnakan oleh Antonio van Diemen pada pertengahan abad ke-17. Benteng itu dulu berdiri megah di tepi barat Sungai Ciliwung, berfungsi sebagai pusat pertahanan sekaligus gudang penyimpanan rempah dan logistik VOC. Namun, kejayaan itu tak bertahan lama. Setelah VOC bangkrut pada 31 Desember 1799, benteng mulai ditinggalkan. Gubernur Jenderal Willem Daendels memerintahkan pembongkaran Kasteel pada 1809 untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Weltevreden, yang kini menjadi kawasan Lapangan Banteng. Bata-bata kastel bahkan digunakan kembali untuk membangun Istana Daendels, gedung yang kini menjadi Kementerian Keuangan RI.

Kini, hanya sedikit yang tersisa, yakni tembok-tembok tua di sisi timur dan barat, fragmen fondasi, serta satu gudang penyimpanan yang dikenal warga sebagai Kasteel Gudang Timur.

Pengalaman Warga Terhadap Situs Sejarah

Maria (54), warga yang tinggal tak jauh dari reruntuhan, mengenang masa kecilnya saat bangunan Kasteel masih relatif utuh. “Dulu waktu saya kecil, atapnya masih ada sebagian. Lantainya masih tegel putih. Sekarang udah ditelan akar pohon,” ujarnya. Maria juga bercerita, dulu ada dua gudang besar di kawasan itu. “Satu lagi di depan, sekarang udah jadi tempat parkir truk. Sayang banget, padahal bentuknya masih bagus. Kalau dua-duanya dirawat, bisa jadi tempat wisata sejarah,” katanya.

Ia berharap pemerintah tidak membiarkan bangunan itu lenyap secara perlahan. “Biar anak muda tahu kalau kampung ini punya sejarah besar. Semua orang cuma tahu Kota Tua, padahal di belakang sini juga bagian penting Batavia,” katanya.

Warga lain, Yasin (62), juga menyayangkan kurangnya perhatian terhadap bangunan bersejarah itu. Ia kerap melihat kelompok wisata datang berkunjung, tetapi kondisi situs nyaris tak berubah. “Dari dulu ya gitu-gitu aja. Dindingnya makin ngelupas, akar makin tebal. Dulu sempat katanya mau dibersihin sama kelurahan, tapi enggak jadi,” ujarnya.

Peran Pemerintah dalam Pelestarian

Sejarawan JJ Rizal menyebut kondisi Kasteel Gudang Timur mencerminkan lemahnya kesadaran sejarah di Jakarta. “Enggak ada yang berubah dari dua tahun, lima tahun lalu. Tidak ada keseriusan terkait bangunan yang sangat penting ini,” kata Rizal. Menurut dia, situs sejarah ini tetap terabaikan meski telah ditetapkan sebagai cagar budaya. “Bertahun-tahun jadi korban vandalisme, jadi tong sampah, parkir kendaraan berat. Bukan cagar budaya, tapi jadi beban masa lalu,” ujarnya.

Rizal menegaskan, Pemprov DKI harus lebih tegas dalam menegakkan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, terutama dalam koordinasi dengan instansi yang memiliki kewenangan atas lahan tersebut.

Penjelasan dari Pemerintah DKI Jakarta

Plt Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, menjelaskan bahwa situs eks Kastil Batavia memang memiliki nilai penting bagi sejarah Jakarta. “Kasteel Batavia merupakan tinggalan arkeologis yang merekam awal perkembangan Batavia sebagai pusat pemerintahan kolonial di Nusantara,” ujarnya. Ia menjelaskan, struktur sisa kastel yang ada kini terdiri atas ruas tembok utara, timur, selatan, dan barat, serta beberapa jejak parit kuno.

“Namun sebagian besar kawasan sudah berubah jadi permukiman dan area perdagangan. Kondisinya memang rentan,” jelasnya. Menurut dia, situs ini masuk dalam daftar prioritas pelestarian cagar budaya DKI Jakarta, terutama dalam konteks pengembangan Kawasan Strategis Kebudayaan Kota Tua. “Pemprov DKI telah melakukan penelitian arkeologi pada 2021 dan 2022, dan ditemukan indikasi masih ada objek arkeologi di bawah permukaan tanah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa upaya pelestarian akan berlanjut dalam bentuk penelitian lanjutan dan program revitalisasi berbasis konservasi. Namun, Miftahulloh juga mengakui, tantangan utama ada pada kepadatan aktivitas warga dan rendahnya kesadaran lingkungan di kawasan itu. “Perlu keseimbangan antara pelestarian dan aktivitas masyarakat yang hidup di dalamnya. Karena banyak warga sudah turun-temurun tinggal di sana,” ujarnya.

Jejak Sejarah yang Tertinggal

Kini, jika melangkah ke belakang reruntuhan Kasteel Gudang Timur, terlihat kontras yang mencolok: dinding bata merah berusia ratusan tahun berdampingan dengan rumah-rumah warga berdinding tripleks, di bawah bayangan tiang tol layang yang menopang lalu lintas modern Jakarta. Lorong sempit yang mengarah ke area dalam bangunan kini dijadikan saung oleh warga. “Kadang dipakai buat tempat istirahat pekerja proyek. Padahal itu bagian tembok Batavia dulu,” kata Yasin.

Di beberapa bagian, akar beringin menjalar seperti guratan waktu di dinding bata. Di sela reruntuhan, masih tampak sisa struktur kolonial, yakni lubang ventilasi kecil, susunan bata melengkung, dan fondasi batu yang masih kokoh meski nyaris tak terlihat. Namun tak ada papan informasi, pagar pelindung, atau tanda yang menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari benteng kolonial terbesar di Asia Tenggara. Semua seperti dibiarkan, seolah menunggu waktu untuk benar-benar lenyap.

Harapan di Tengah Puing

Meski kondisi situs memprihatinkan, warga sekitar tetap menyimpan harapan. “Kalau bisa dijadikan wisata sejarah, anak-anak muda bisa tahu sejarah kampungnya,” kata Maria. “Enggak perlu besar-besar, cukup dibersihin dan dijaga,” lanjutnya. Wahid menambahkan, warga siap dilibatkan untuk melakukan pembersihan dan perbaikan. “Kita enggak minta duit, cuma mau tempat ini enggak hilang. Kalau ada program pelestarian, kita bantu,” tutur Wahid. “Masih bisa diselamatkan. Asal ada yang mau peduli,” lanjut Wahid.

Sementara itu, Nur berharap Kasteel Gudang Timur tak bernasib sama seperti gudang satunya yang sudah dihancurkan. “Kalau semua hilang, enggak ada lagi bukti Batavia di sini. Yang tersisa cuma cerita,” kata dia. Kasteel Batavia dulu adalah jantung dari kota kolonial. Dari sini, VOC mengatur perdagangan rempah yang mengubah sejarah dunia. Akan tetapi, saat ini reruntuhan benteng itu seolah menjadi simbol kebalikannya, betapa cepat sebuah kota melupakan asal-usulnya.

Di bawah bayangan tol layang, di antara truk, sampah, dan suara mesin, sisa dinding Kasteel Gudang Timur berdiri rapuh, tetapi masih bertahan. Ia menunggu untuk diingat kembali agar tak sekadar menjadi onggokan bata yang hilang ditelan waktu.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan