Kejanggalan dalam Kasus Siswi SD yang Diduga Membunuh Ibu Kandungnya
Kasus kematian Faizah Soraya, seorang ibu rumah tangga yang ditemukan tewas di rumahnya di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatra Utara, pada Rabu (10/12/2025) sekira pukul 05.00 WIB, mulai mengundang pertanyaan dari keluarga besar korban. Salah satu anggota keluarga korban, Dimas, berani membeberkan beberapa kejanggalan yang terjadi dalam kasus ini.
Kejanggalan Pertama: Detik-Detik Penikaman
Menurut informasi yang diberikan oleh Al, putri bungsu Faizah, penikaman terjadi pada Rabu menjelang subuh, sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu, Al dan kakaknya tidur bersama sang ibu. Namun, keluarga merasa tidak logis bahwa Faizah tidak berteriak atau melawan anaknya sendiri saat ditikam. Dimas bertanya-tanya mengapa Faizah tidak membangunkan suaminya yang tidur di lantai atas.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kejanggalan Kedua: Tidak Ada Bantuan Warga
Setelah peristiwa terjadi, suami korban, Alham, tidak segera meminta bantuan warga setempat. Padahal jika ia cepat menangani situasi tersebut, Faizah mungkin bisa diselamatkan. Menurut keterangan dari sopir ambulans, korban masih hidup ketika ambulan datang, namun ambulan menolak membawanya karena diduga adanya pendarahan bukan akibat penyerangan.
Kejanggalan Ketiga: Permintaan Terakhir Korban
Saat ditemukan, Faizah sempat meminta minum. Warga yang datang kemudian memberinya minum, tetapi ambulan baru tiba pada pukul 04.30 WIB. Setelah ambulan sampai, polisi baru datang ke rumah korban pada pukul 05.00 WIB setelah mendapatkan laporan dari warga.
Kejanggalan Keempat: Jumlah Luka Tikaman
Dimas meragukan bahwa Al, yang masih duduk di kelas 6 SD, bisa melakukan penikaman sebanyak 20 kali. Menurutnya, logika tidak menyebabkan Al tidak berteriak "mamak" jika ibunya dibekap. Luka tikaman terdapat di punggung, perut, tangan, kaki, dan kepala korban.
Kejanggalan Kelima: Tidak Ada Luka pada Pelaku
Yang lebih aneh adalah, tidak ada luka pada tangan Al, pelaku, sementara kakaknya justru memiliki luka setelah insiden tersebut.
Proses Pemeriksaan oleh Polisi
Penyidik telah melakukan rekonstruksi di TKP pembunuhan dengan menghadirkan terduga pelaku yakni Al, kakaknya, dan sang ayah, Alham. Sebelumnya, Al sempat dibawa penyidik Polresta Medan untuk diperiksa secara intensif. Dalam olah TKP tersebut, Al didampingi oleh KPAI serta keluarga.
Keseharian Keluarga Korban
Kehidupan keluarga Faizah dikenal tertutup dan jarang bersosialisasi dengan warga sekitar. Faizah dan keluarga tinggal di kompleks Jalan Dwikora selama sekitar 20 tahun. Hubungan mereka dengan tetangga terbilang sangat terbatas. Meski demikian, warga sering melihat Faizah pergi bertiga dengan kedua anaknya, baik mengantar sekolah maupun jalan-jalan.
Namun, warga jarang melihat kebersamaan Faizah dengan suaminya, Alham, di luar rumah. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pasangan suami istri tersebut telah lama pisah ranjang. Faizah disebut tidur bersama kedua anaknya di lantai satu, sementara sang suami menempati kamar di lantai dua.
Pertengkaran di Dalam Rumah
Meskipun dari luar keluarga itu terlihat baik-baik saja, warga mengaku sempat mendengar pertengkaran dari dalam rumah. Suara cekcok antara Faizah dan suaminya, termasuk suara barang dibanting, kerap terdengar. Korban juga sering memarahi anak pertamanya sampai suaranya terdengar ke luar rumah.
Sementara itu, suami korban diketahui sering bepergian ke luar kota untuk bekerja, sehingga jarang berada di rumah.