Kasus Penipuan Meningkat, OJK Laporkan 847 Laporan Harian

admin.aiotrade 18 Okt 2025 2 menit 15x dilihat
Kasus Penipuan Meningkat, OJK Laporkan 847 Laporan Harian


BANYUMAS — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap bahwa kasus penipuan keuangan digital di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi atau Kiki menyampaikan bahwa dalam data OJK periode November 2024 hingga September 2025 terdapat sebanyak 274.722 laporan scam atau rata-rata 874 laporan setiap hari.

"Total kerugian masyarakat sudah mencapai Rp7 triliun," ujar Kiki saat pembukaan Financial Expo Bulan Inklusi Keuangan 2025 di Rita Supermall, Kecamatan Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (18/10/2025).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kiki menjelaskan bahwa jumlah laporan scam di Indonesia melampaui negara-negara lain seperti Kanada dengan 138.197 laporan atau 217 laporan per hari, Malaysia dengan 253.553 laporan atau 242 laporan per hari. Selain itu, ada Hong Kong sebanyak 65.240 laporan kasus per hari dan Singapura dengan 51.501 laporan scam sepanjang periode 2024.

Kiki menyoroti adanya setidaknya sepuluh modus scam terbesar yang sering dilakukan. Beberapa di antaranya meliputi transaksi belanja online, mengaku pihak lain (fake call), investasi, penawaran kerja, penipuan undian, serta penipuan melalui media sosial. Selain itu, ada modus phising, social engineering, pinjaman online fiktif, dan APK ilegal via WhatsApp.

"Penipuan transaksi belanja online yang banyak menjadi korban itu ibu-ibu," ucap Kiki.

Ia juga meminta masyarakat untuk waspada terhadap modus mengaku atau menyerupai pihak lain (fake call) yang menggunakan teknologi AI. Kiki bahkan pernah mengalami serangan scam model ini, namun langsung menyadari potensi penipuan.

"Saya sudah tahu itu scam menggunakan AI, wajahnya sama, ucapan berbeda, tapi khawatirnya semakin lama inovasi teknologi juga semakin besar, orang bisa menyerupai dengan sangat mirip. Dan ini adalah hal-hal yang perlu kita antisipasi bersama," tambah Kiki.

Menurut Kiki, tingginya intensitas penggunaan layanan keuangan digital di Indonesia merupakan peluang sekaligus tantangan dalam mengantisipasi ancaman scam. Ia menekankan bahwa tingkat literasi dan inklusi keuangan menjadi benteng tangguh masyarakat dalam membendung ancaman berbagai modus scam.

"PR kita semua adalah meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Tingkat literasi sudah mencapai 66,46 persen. Tingkat inklusi industri yang diawasi OJK itu sudah 80 persen. Sementara yang mencakup berbagai hal lainnya sudah mencapai 92 persen," jelas Kiki.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan