
Isu Pendidikan yang Menggemparkan Media Sosial
Belakangan ini, isu-isu terkait dunia pendidikan kembali menjadi perhatian publik. Berbagai kejadian yang terjadi di berbagai daerah menunjukkan adanya tantangan serius dalam sistem pendidikan. Contohnya adalah kasus perundungan terhadap seorang mahasiswa yang berujung tragis, hingga kasus kepala sekolah yang dinonaktifkan karena menegur siswa merokok. Selain itu, ada juga guru yang disebut memfitnah siswanya dengan tuduhan narkoba tanpa bukti yang jelas.
Ketua Asosiasi Pendidik Berperspektif Hak Anak, Bekti Prastyani, menyampaikan pandangannya mengenai masalah ini. Ia mengajak semua pihak untuk melihat persoalan secara lebih bijak dan mencari akar penyebab dari setiap perilaku yang terjadi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Saya tidak menyalahkan semuanya, tapi yang kita lihat dan pelajari dari situasi yang diajarkan oleh Tuhan melalui berita-berita tersebut adalah bagaimana kita akhirnya mencari akar masalah dari semua perilaku yang terjadi, baik dari orang dewasa maupun anak,” ujarnya.
Bekti menjelaskan bahwa setiap tindakan, baik dari anak maupun orang dewasa, tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor yang turut memengaruhi perilaku seseorang. Salah satunya adalah lingkungan.
“Setiap anak yang melakukan kesalahan pasti ada akar penyebab perilakunya, terutama karena pengaruh dari lingkungan, baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, lingkungan satuan pendidikan itu sendiri maupun media sosial,” tambahnya.
Ia juga menyoroti perilaku sebagian guru yang belum sepenuhnya memiliki pendekatan mendidik yang bisa diterima oleh anak. Menurutnya, hal ini bisa terjadi karena masih adanya luka batin masa lalu yang belum terselesaikan.
“Kadang kala juga karena seorang guru tersebut masih menyimpan luka batin yang dalam akibat dari pengasuhan yang dulu tidak mampu untuk diikhlaskan,” paparnya.
Bekti menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat sebagian pendidik lebih berorientasi pada upaya menghukum atau membuat anak jera, namun dilakukan dengan cara yang justru melukai martabat anak.
“Pada akhirnya lebih berorientasi kepada agar anak ini berubah, agar anak ini jera, agar anak ini tidak berbuat seperti itu lagi, dengan cara yang bagi anak ini perendahan martabat,” tutupnya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Anak
Beberapa faktor utama yang memengaruhi perilaku anak dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Lingkungan Keluarga: Lingkungan rumah tangga yang tidak harmonis atau kurangnya perhatian dari orang tua dapat memengaruhi perkembangan emosional dan sosial anak.
- Lingkungan Masyarakat: Pengaruh lingkungan sekitar, termasuk teman sebaya dan norma masyarakat, juga berperan besar dalam membentuk sikap dan perilaku anak.
- Lingkungan Sekolah: Kebijakan dan suasana di sekolah, termasuk hubungan antara guru dan siswa, sangat berdampak pada tingkah laku anak.
- Media Sosial: Penggunaan media sosial yang tidak terkendali dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku anak, terutama jika mereka terpapar konten negatif.
Pentingnya Pendekatan Edukatif dalam Pendidikan
Bekti menekankan pentingnya pendekatan edukatif dalam proses pembelajaran. Ia menyatakan bahwa guru harus mampu memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan anak, bukan hanya sekadar memberikan hukuman.
Ia menyarankan agar para pendidik lebih memahami latar belakang anak dan mencari solusi yang tidak merusak martabat mereka. Dengan demikian, anak akan lebih mudah menerima nasihat dan perbaikan diri.
Selain itu, Bekti juga menyarankan agar lembaga pendidikan dan pemerintah memberikan pelatihan kepada guru agar mereka lebih mampu menghadapi berbagai situasi yang muncul dalam proses belajar-mengajar.