
Kawista atau kawis, buah langka yang banyak tumbuh di pesisir utara Pulau Jawa, terutama Jawa Tengah. Diduga asalnya dari India.
Tanaman ini tak begitu populer karena memang termasuk tanaman langka. Banyak tumbuh liar di daerah pesisir utara Jawa Tengah, buah pohon ini belum banyak dimanfaatkan kecuali sebagai bahan pembuat sirup untuk buah tangan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di Jawa, tanaman ini biasa disebut kawista atau kawis. Di Bali disebut kusta, tanpa ada kaitannya sama sekali dengan penyakit kusta. Sekilas tampilannya mirip dengan buah kelapa yang sabutnya telah dikupas. Kulitnya juga keras dengan warna cokelat keputihan, serupa dengan batok kelapa.
Tanaman dengan nama latin Limonia acidissima ini tumbuh baik di daerah tropis di tanah kering dengan ketinggian 400 mdpl. Di Indonesia, kawista tumbuh liar di sepanjang pesisir utara pantai Jawa hingga Bali. Paling banyak tumbuh di daerah Rembang, Pati, Jepara, dan Demak, Jawa Tengah.
Di Sumatra, kawista sangat jarang tumbuh. ”Karena di sana lebih banyak rawa, jadi bukan habitat kawista,” ujar Moh. Reza Tirtawinata dari Taman Wisata Mekarsari Bogor.
Tanaman ini diyakini berasal dari India, makanya dalam bahasa Inggris ia disebut indian wood-apple. Dari India, tanaman ini kemudian menyebar ke Asia Tenggara, seperti Myanmar, Malaysia, dan Indonesia. Tak ada catatan resmi kapan kawista dibawa ke Indonesia. Yang pasti, pohon kawista ini mudah ditemui di habitat kering, panas, dan berpasir seperti daerah pesisir utara Jawa.
Pohon kawista bisa tumbuh menjulang dengan tinggi mencapai 12 m dengan cabang yang ditumbuhi banyak duri. Bentuk daun memanjang hingga 12 cm. Di antara dedaunan, terselip bunga yang berwarna putih atau hijau kemerahan.
Tanaman ini sebetulnya masih satu keluarga dengan jeruk. Keduanya sama-sama anggota famili Rutaceae. Seperti jeruk, buah kawista juga banyak mengandung asam sitrat yang menyebabkan rasanya masam. Bedanya, jeruk bergenus citrus, sedangkan kawista bergenus limonia. Meski satu famili, kawista dan jeruk memiliki banyak perbedaan.
Dalam satu tahun, kawista bisa berbuah satu sampai dua kali. Sekali musim buah, satu pohon bisa menghasilkan sekitar 20 buah. Ukuran buah-nya cukup besar, dengan diameter mencapai 13-15 cm, mirip dengan buah kelapa tanpa sabut. Buah menggantung di ujung ranting pada setiap batang. Karena buahnya tergolong besar, biasanya pada setiap ranting hanya terdapat satu buah.
Saat matang, buah kawista akan jatuh dengan sendirinya. Karena kulitnya sekeras batok kelapa, meskipun jatuh dari ketinggian 10 m, buah kawista dijamin tak bakal rusak.
Dibuat jus
Tak hanya kulitnya yang mirip kelapa, cara mengambil daging buahnya pun mirip pada buah kelapa. Untuk membukanya, kita harus memecahnya dengan bantuan benda keras atau membantingnya. Setelah kulit pecah, kita baru bisa melihat daging buahnya yang berwarna cokelat kehitaman dan beraroma wangi.
Daging buah bisa diambil dengan cara dikerok menggunakan sendok, mirip pengerokan daging buah kelapa. Di antara daging buah terdapat biji yang mirip dengan biji jambu biji. Tekstur bijinya lunak sehingga aman bila ikut termakan. “Dagingnya memang bisa dimakan, tapi rasanya asam sekali,” ujar Reza.
Karena rasanya asam, buah kawista lebih enak dinikmati dengan campuran gula. Alternatif lain adalah dengan mengolah daging buah kawista menjadi jus. Ditambah es batu, jus kawista bisa menjadi minuman pelepas dahaga yang menyegarkan dengan rasa yang unik.
Sekalipun buah ini banyak tersebar di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, tidak banyak orang yang tahu tentang buah ini. Bahkan, kata Reza, dalam urutan buah yang dikenal masyarakat, kawista bisa dipastikan tidak akan masuk dalam urutan 30 besar.
”Buah kawista ini tergolong langka. Yang dinamakan langka adalah buah yang harus diselamatkan agar tidak punah. Itu saja,” katanya.
Di Taman Wisata Mekarsari, saat ini terdapat sepuluh pohon kawista. Karena Mekarsari termasuk wilayah Bogor yang kerap diguyur hujan, panen buah kawista hanya terjadi sekali dalam setahun. Di daerah kering, kawista bisa berbuah setahun dua kali. ”Buahnya juga tidak kita manfaatkan, karena kurang ekonomis,” ucap Reza. Pohon ini ditanam di Mekarsari lebih ditujukan untuk menjaga kelestarian tanaman langka.
Buah kawista kurang punya nilai ekonomi karena tidak memiliki kekhasan yang bisa dijual. Reza membandingkannya dengan buah kedondong. Sekalipun rasanya juga asam, kedondong punya kekhasan yang membuatnya tetap diminati. ”Kedondong itu khas dengan wangi dan rasanya. Tak ada buah lain yang sama dengan buah kedondong,” tutur Reza.
Nasib kawista mungkin mirip dengan buah namnam (sawo pancukan) atau buah matoa dari Papua. Matoa memiliki bau seperti kelengkeng, rasa mirip durian, dan bentuk daging buah seperti rambutan. Karakter ini justru membuat matoa kurang khas. ”Serba nanggung jadinya. Kalau mau wangi seperti kelengkeng, ya mending makan kelengkeng sekalian. Kalau mau rasa durian, ya lebih baik makan durian sekalian,” kata Reza.
Menurut Reza, buah yang layak jual harus meninggalkan kesan bagi si pemakan. Dengan begitu, timbul keinginan untuk kembali menikmatinya. Sifat itu tak dimiliki oleh kawista. Apalagi buah ini sulit didapat. Kebanyakan pohon kawista tumbuh liar, tidak sengaja ditanam sebagai pohon budidaya seperti pohon jeruk. “Kalau ada pohonnya, ya syukur. Kalau tidak ada, ya tidak ada orang yang kehilangan,” ujar Reza menggambarkan nasib kawista.
Di Rembang buah ini biasa dijadikan sirup untuk buah tangan. Salah satu merek yang cukup terkenal adalah Dewa Burung Rembang, yang sudah diproduksi sejak tahun 1952. Rasa sirup yang dibuat dari buah kawista ini campuran antara manis, sepat (seperti buah mentah), dan sedikit asam. Selain itu, buah kawista juga diolah menjadi limun soda kawista yang menawarkan sensasi rasa minuman bersoda. Jadi, kalau Afrika punya buah Cola acuminata sebagai bahan dasar Coca-Cola, Rembang punya kawista (meski bukan asli Indonesia) yang bisa dijadikan sebagai bahan minuman “kola jawa”.