Data Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

Data dari MapBiomas Indonesia Fire mencatat bahwa luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahunan di Indonesia selama periode 2000–2024 mencapai total 19,6 juta hektare. Angka ini merupakan akumulasi luas kebakaran yang dihitung per tahun, berbeda dengan akumulasi area unik karena satu wilayah dapat terhitung kembali jika terbakar pada tahun yang berbeda.
Koordinator Teknis MapBiomas Fire Indonesia, Sesilia Maharani Putri, menjelaskan bahwa pendekatan kebakaran tahunan digunakan untuk melihat dinamika pertambahan kebakaran dari tahun ke tahun. Ia menyampaikan penjelasan tersebut dalam peluncuran MapBiomas Indonesia Fire, Selasa (16/12). Menurutnya, data ini menunjukkan bahwa jumlah kebakaran yang dihitung setiap tahun mencapai 19,6 juta hektare.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Puncak Kebakaran pada Tahun-Tahun Tertentu
Sesilia menggambarkan besarnya angka tersebut setara dengan sekitar satu setengah kali luas Pulau Jawa. Data tahunan juga memperlihatkan adanya tahun-tahun dengan lonjakan kebakaran yang sangat signifikan. Dalam hal ini, puncak kebakaran terjadi pada tahun 2014, 2015, dan 2019. Tahun 2014 dan 2015 disebabkan oleh fenomena El Niño yang parah. Meskipun fenomena El Niño pada 2019 tidak sekuat periode 2014–2015, luas kebakaran pada tahun tersebut tetap tercatat sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa faktor selain iklim juga berperan dalam meningkatkan risiko kebakaran.
Tren Positif pada 2024
Berdasarkan data 2024, terdapat tren yang lebih positif. Berdasarkan perbandingan antara rerata kebakaran tahunan dan kebakaran pada 2024, luas kebakaran di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah rata-rata tahunan masing-masing pulau. Sesilia menyampaikan bahwa alhamdulillah, kebakaran pada tahun 2024 turun dan angka rata kebakaran di tiap region atau tiap pulau selalu lebih rendah dibandingkan rata kebakaran di tiap-tiap pulau.
Namun, pola kebakaran tidak seragam di semua wilayah. Sesilia mencontohkan Bali–Nusa Tenggara yang menunjukkan grafik kebakaran relatif mirip dari tahun ke tahun. Ia mengatakan bahwa Bali-Nusa Tenggara itu agak mirip grafiknya, bisa jadi kebakaran itu tiap tahun terjadi secara konsisten, dan mungkin sudah alamiahnya terjadi begitu.
Fluktuasi Kebakaran di Wilayah Kalimantan
Sebaliknya, wilayah seperti Kalimantan menunjukkan fluktuasi yang sangat tajam. Pada tahun-tahun tertentu kebakaran melonjak sangat tinggi, sementara pada tahun lainnya bisa turun drastis. Sesilia menjelaskan bahwa perbedaan ini menunjukkan adanya satu faktor yang mempengaruhi. Ia bertanya, mengapa di tahun-tahun tertentu kebakaran bisa tinggi sekali, dan mengapa di tahun berikutnya bisa rendah banget.
Data Kebakaran Berdasarkan Pulau
Data MapBiomas juga merinci kebakaran tahunan berdasarkan pulau. Dalam pemisahan tersebut, Kalimantan tercatat sebagai wilayah dengan kebakaran tahunan terbesar. Pada 2015 saja, luas kebakaran di Kalimantan mencapai sekitar 723 ribu hektare, menjadikannya kejadian kebakaran terbesar dalam 25 tahun terakhir. Posisi kedua ditempati Papua, yang pada tahun yang sama mengalami kebakaran seluas sekitar 448 ribu hektare. Menurut Sesilia, besarnya kebakaran di Papua pada 2015 tergolong tidak biasa. Ia menjelaskan bahwa di Papua itu di 2015 ternyata terbakar sebesar 448 ribu hektare, dan ini juga tidak biasa-biasanya di Papua bisa sekali kebakaran tapi besar banget.