
Kawasan konservasi yang seharusnya menjadi benteng terakhir dalam perlindungan keanekaragaman hayati justru tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kebakaran hutan yang tinggi selama 25 tahun terakhir. Data dari MapBiomas Fire Indonesia periode 2000–2024 menunjukkan bahwa luas area yang terbakar di kawasan konservasi mencapai lebih dari jutaan hektare, dengan 50% di antaranya terjadi di taman nasional.
Sesilia Maharani Putri, Koordinator Teknis MapBiomas Fire Indonesia, menjelaskan bahwa kawasan konservasi seharusnya memiliki tingkat penjagaan yang lebih ketat dibandingkan wilayah lain. Namun fakta menunjukkan bahwa selama 25 tahun terakhir, sekitar 500 ribu hektare kawasan konservasi terbakar.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Dan ini kami hitung secara kumulatif, artinya satu lokasi bisa terbakar dua hingga tiga kali atau lebih dalam periode tersebut,” ujar Sesilia dalam peluncuran MapBiomas Fire Indonesia 2.0, Selasa (16/12).
Daftar 10 Provinsi yang Wakili 80% Kebakaran Hutan Indonesia dalam 25 Tahun
Selain itu, berdasarkan data yang dikeluarkan, terdapat beberapa provinsi yang menjadi penyumbang terbesar kebakaran hutan di Indonesia. Meskipun tidak disebutkan secara spesifik dalam laporan, provinsi-provinsi ini biasanya meliputi wilayah dengan ekosistem hutan yang rentan dan kurang dikelola secara optimal.
Ancaman Kebakaran Mereda, Satgas Karhutla Dibubarkan
Seiring dengan penurunan frekuensi kebakaran hutan, satuan tugas karhutla juga mulai dibubarkan. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan dalam pengelolaan hutan dan pencegahan kebakaran. Namun, perlu dipertanyakan apakah langkah-langkah ini cukup untuk menghindari risiko kebakaran di masa depan.
Masyarakat Adat, Penjaga Utama Hutan Tropis Indonesia dan Brasil | Green Talks
Masyarakat adat seringkali menjadi pengelola hutan yang paling efektif. Dalam diskusi Green Talks, mereka diakui sebagai penjaga utama hutan tropis, baik di Indonesia maupun Brasil. Peran mereka dalam menjaga keseimbangan ekologis sangat penting dan perlu diperhatikan lebih lanjut.
Taman Nasional Menjadi Kontributor Terbesar
Berdasarkan infografik MapBiomas Fire Indonesia, dari total 531.983 hektare area terbakar di taman nasional, kebakaran terkonsentrasi di sejumlah lokasi tertentu. Bahkan, 87% kebakaran taman nasional hanya terjadi di 10 taman nasional dengan akumulasi kebakaran terluas.
Berikut adalah daftar 10 Taman Nasional dengan akumulasi kebakaran tertinggi (2000–2024):
- Taman Nasional Tanjung Puting – 125.568 ha
- Taman Nasional Wasur – 82.826 ha
- Taman Nasional Sebangau – 57.825 ha
- Taman Nasional Gunung Tambora – 48.241 ha
- Taman Nasional Way Kambas – 45.475 ha
- Taman Nasional Lorentz – 32.832 ha
- Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai – 21.157 ha
- Taman Nasional Danau Sentarum – 18.335 ha
- Taman Nasional Tesso Nilo – 15.983 ha
- Taman Nasional Berbak – 13.691 ha
Suaka Margasatwa dan Cagar Alam Tak Luput dari Api
Selain taman nasional, kebakaran juga meluas ke berbagai jenis kawasan konservasi lainnya. Rincian luas area terbakar berdasarkan kategori kawasan konservasi adalah sebagai berikut:
- Taman Nasional: 531.983 ha
- Suaka Margasatwa: 237.392 ha
- Cagar Alam: 145.321 ha
- Kawasan Suaka Alam & Kawasan Pelestarian Alam lainnya: 96.258 ha
- Taman Hutan Raya: 27.761 ha
- Taman Wisata Alam: 11.726 ha
Dari data ini terlihat bahwa kebakaran tidak hanya terjadi di taman nasional, tetapi juga merambah ke kawasan-kawasan lain yang seharusnya dilindungi. Hal ini memperlihatkan kelemahan dalam sistem pengelolaan kawasan konservasi dan perlu segera diatasi agar keanekaragaman hayati dapat tetap terlindungi.