
Proyeksi Kinerja ADRO dan Dinamika Harga Batubara
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) diperkirakan akan terus mempertahankan kebijakan pembagian dividen. Hal ini didorong oleh kinerja bisnis batubara yang menjadi tulang punggung perseroan. Dividen interim sebesar US$ 250 juta yang diumumkan pada Desember 2025 menunjukkan bahwa perusahaan berencana untuk terus membagikan hasil laba kepada pemegang saham.
Timothy Handerson, Analis UBS Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa pembagian dividen tersebut mencakup sekitar 83% dari laba bersih sembilan bulan pertama tahun 2025. Dengan harga penutupan saham saat itu, imbal hasilnya mencapai 8%, yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Ia memperkirakan bahwa kebijakan dividen yang besar akan terus berlanjut.
Kas bersih ADRO pada kuartal ketiga tahun 2025 mencapai US$ 950 juta, atau sekitar 25% dari kapitalisasi pasar. Selain itu, ada rencana pembelian kembali saham (buyback) yang sedang berlangsung, meskipun belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.
Risiko Produksi Batubara dan Pengaruhnya terhadap Laba
Kementerian ESDM mengungkapkan rencana untuk menurunkan volume produksi batubara Indonesia menjadi 600 juta ton. Rencana ini bisa berdampak pada laba per saham (EPS) ADRO. Analisis sensitivitas dari UBS Sekuritas menunjukkan bahwa EPS bisa turun antara 7% hingga 10% jika volume produksi dikurangi sebesar 25%.
Namun, Timothy menyoroti bahwa target produksi tersebut belum disetujui secara resmi. Penambang dapat mengajukan revisi kuota produksi di tengah tahun dan biasanya produksi melampaui target pemerintah sekitar 10%. Oleh karena itu, dampaknya kemungkinan tidak sebesar yang diperkirakan.
Proyeksi Harga Batubara Tahun 2026
Vinna N Rachmawati, Analis Phintraco Sekuritas, memproyeksikan harga batubara tahun 2026 tetap stabil dalam kisaran US$ 100 – US$ 106 per ton. Permintaan yang stabil dari Tiongkok dan India untuk pembangkit listrik serta penggunaan industri mendukung proyeksi ini.
Untuk batubara metalurgi, permintaan global diperkirakan relatif stabil di sekitar 385 juta – 390 juta metrik ton (Mt). Impor dari India diperkirakan akan mengimbangi perlambatan awal dari Tiongkok. Sehingga, harga batubara metalurgi diperkirakan berkisar antara US$ 170 – US$ 200 per ton dengan potensi kenaikan yang terbatas.
Sementara itu, harga batubara termal global diperkirakan akan berada di kisaran US$ 105 – US$ 120 per ton. Risiko kenaikan muncul jika permintaan Asia tetap kuat atau terjadi gangguan pasokan, sementara risiko penurunan terjadi jika transisi energi mempercepat penurunan permintaan.
Dinamika Pasokan dan Permintaan di Indonesia
Di Indonesia, asosiasi industri memperkirakan harga batubara akan tetap relatif stabil pada tahun 2026. Namun, harga tersebut sangat bergantung pada dinamika pasokan dan permintaan global, kebijakan pemerintah, serta kondisi cuaca dan logistik.
Raka Junico, Analis MNC Sekuritas, memproyeksikan harga batubara termal global tahun 2026 berada di kisaran US$ 130 – US$ 145 per metrik ton (mt). Proyeksi ini didukung oleh penguatan ekspektasi harga minyak global yang diproyeksikan sebesar US$ 70 – US$ 72 per barel, akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Raka juga menyoroti pengurangan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara. Potensi peningkatan alokasi DMO menjadi 30% untuk pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) juga menjadi faktor penting.
Proyeksi Pendapatan dan Laba Bersih ADRO
Timothy memproyeksikan pendapatan dan laba bersih ADRO pada tahun 2025 masing-masing sebesar US$ 1,90 miliar dan US$ 374 juta. Untuk tahun 2026, pendapatan dan laba bersih diperkirakan mencapai US$ 2,81 miliar dan US$ 523 juta. Sementara itu, pada tahun 2024, ADRO mencatat pendapatan US$ 2,07 miliar dan laba bersih US$ 1,38 miliar.
Dalam riset mereka, Timothy, Vinna, dan Raka merekomendasikan pembelian saham ADRO dengan target harga masing-masing Rp 3.300 per saham, Rp 2.140 per saham, dan Rp 2.600 per saham.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar