
Sidak Harga dan Ketersediaan Beras di Nabire
Satuan Tugas (Satgas) Pangan dan Pengendalian Harga melakukan sidak untuk memastikan ketersediaan dan harga beras yang diperdagangkan di sejumlah distributor dan pasar di Kalibobo, Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Sidak ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pokok.
Satgas ini terdiri dari beberapa instansi yang terlibat langsung dalam pengawasan pangan, seperti Dinas Ketahanan Pangan Papua Tengah, Dinas Pertanian Papua Tengah, Perum Bulog Nabire, serta Direktorat Reskrimsus Polda Papua Tengah. Kolaborasi antar instansi ini bertujuan untuk memastikan kebijakan pangan dapat diterapkan secara efektif dan merata.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kepala Satgas Pangan dan Pengendalian Harga, Kombes Pol A.Wakhid P Utomo, menjelaskan bahwa sidak ini dilakukan karena adanya kekhawatiran tentang ketersediaan dan harga beras di wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 299 Tahun 2025, harga eceran tertinggi beras di wilayah Maluku dan Papua ditetapkan sebagai berikut:
- Beras premium: Rp15.800 per kilogram
- Beras medium: Rp15.500 per kilogram
- Beras SPHP: Rp13.500 per kilogram
Namun, hasil sidak menunjukkan bahwa harga beras di Nabire tidak sesuai dengan aturan tersebut. Menurut Kombes Pol A.Wakhid, harga jual beras di Nabire mencapai:
- Beras premium: Rp17.000 per kilogram
- Beras medium: Rp16.500 per kilogram
Ia menjelaskan bahwa perbedaan harga ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah distribusi beras dari pulau Jawa dan Sulawesi. Biaya transportasi dan operasional yang tinggi menyebabkan harga beras di Nabire lebih mahal dibandingkan dengan daerah lain.
"Jika harga beras di Nabire saja sudah tinggi, bagaimana dengan daerah pegunungan yang pengangkutan menggunakan pesawat? Tentu harganya bisa dua kali lipat," ujarnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Satgas akan membahasnya lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait. Tujuannya adalah agar pemerintah dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi tantangan yang muncul.
Selain itu, Kombes Pol A.Wakhid juga menyampaikan bahwa stok beras di Nabire masih cukup tersedia. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada fluktuasi harga, pasokan beras tidak mengalami kelangkaan.
Sidak ini menjadi langkah penting dalam memastikan kestabilan harga beras di wilayah Papua Tengah. Dengan pengawasan yang ketat dan kolaborasi antar instansi, diharapkan masyarakat dapat tetap mendapatkan akses terhadap beras dengan harga yang wajar.