
Sering kali, dalam kehidupan seorang guru, ada momen yang menginspirasi dan memberikan pelajaran berharga. Pada suatu malam, saat sedang live di akun TikTok, saya bertemu dengan berbagai siswa, baik yang masih aktif, yang pernah berhenti belajar, hingga alumni. Dalam obrolan tersebut, mereka bercerita tentang rasa rindu terhadap suasana sekolah, guru-guru, serta rasa senang terhadap guru tertentu selama proses belajar-mengajar.
Salah satu siswa menyampaikan bahwa ia sangat senang belajar dengan saya. Alasannya sederhana: karena saya tidak pernah marah. Ia bahkan membandingkannya dengan guru lain. Di satu sisi, saya merasa senang, namun di sisi lain, saya harus menjelaskan bahwa setiap guru memiliki gaya mengajar yang berbeda. Penting bagi siswa untuk memahami bahwa perbedaan ini bukan alasan untuk mengurangi rasa hormat terhadap guru.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam pengalaman mengajar saya, memang jarang marah, tapi itu tidak berarti tidak pernah. Saya selalu menyampaikan di awal pertemuan kelas bahwa jika siswa membuat saya marah, maka akan ada efek negatif, seperti sakit kepala, pikiran menjadi kacau, dan suasana kelas menjadi tidak nyaman. Namun, meski begitu, ada saja perilaku siswa yang membuat saya emosi. Di sinilah peran saya sebagai guru untuk tetap bisa mengendalikan diri dari sifat amarah.
Salah satu contoh adalah ketika seorang siswa memakai kalung saat proses belajar mengajar. Aturan sekolah jelas, hanya jam tangan yang diperbolehkan. Pertama, saya memberikan pemahaman tentang aturan tersebut dan meminta siswa tersebut melepasnya. Keesokan harinya, ia kembali memakainya. Saya mencoba bersabar dan memberi konsekuensi bahwa jika dipakai lagi, kalungnya akan disita. Pada pertemuan berikutnya, ia menyerahkan kalungnya dan sadar akan kesalahannya. Setelah itu, tidak ada siswa lain yang memakai kalung lagi.
Contoh lainnya adalah ketika seorang siswa tanpa sadar berkata kasar kepada temannya, padahal saya berada di kelas. Saya tidak marah, melainkan memanggilnya ke depan kelas untuk memberikan penjelasan tentang bahaya kata-kata kotor. Siswa tersebut menangis, dan teman-temannya juga diam. Kejadian itu tidak terulang lagi.
Banyak studi kasus yang menunjukkan bahwa jika seorang guru tidak mampu mengendalikan diri, maka amarah akan menjadi prioritas. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk membedakan antara tegas dan amarah agar tidak disalahpahami oleh siswa.
Menurut literatur yang saya baca, siswa cenderung menyukai guru yang tidak pernah marah. Hubungan yang terjalin lebih positif, sehingga siswa merasa nyaman dan tidak takut untuk belajar. Guru yang sabar dan tulus dapat menciptakan lingkungan kelas yang menyenangkan, membangun rasa percaya, dan membuat siswa merasa dihargai.
Berikut beberapa alasan mengapa siswa menyukai guru yang tidak pernah marah:
- Lingkungan belajar yang positif. Guru yang tidak mudah marah menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan, sehingga siswa tidak takut untuk berinteraksi dan bertanya.
- Hubungan yang lebih kuat. Siswa cenderung membangun hubungan yang lebih dekat dan percaya dengan guru yang sabar dan tulus dalam mendidik.
- Kenyamanan emosional. Siswa merasa lebih aman secara emosional saat belajar karena tidak khawatir akan dimarahi, sehingga mereka bisa fokus pada materi pelajaran tanpa rasa cemas.
- Model peran yang baik. Guru yang mampu mengendalikan emosi menjadi contoh perilaku yang baik untuk siswa, membantu membentuk kepribadian dan sikap siswa menjadi lebih positif.
- Penyampaian nasihat yang efektif. Nasihat dari guru yang tulus dan penuh kasih sayang akan lebih mudah diterima dan diingat oleh siswa, bahkan setelah mereka lulus.
- Merasa diperhatikan. Guru yang mengenali dan berinteraksi sesuai karakter siswa akan membuat siswa merasa istimewa dan diperhatikan dengan baik, meningkatkan rasa senang mereka.
Siswa menyukai guru yang kreatif, sabar, dan interaktif. Guru yang disukai siswa sering kali mampu membangun hubungan baik dengan siswa, bersikap ramah, serta menjadi panutan yang menginspirasi.
SYALMA HENDRI SPDI
Guru SMK Negeri 1 Pekanbaru