
Kejurnas Tinju Amatir 2025 di Palu: Simbol Kebangkitan Olahraga Nasional
Di malam yang penuh semangat, Jodjokodi Convention Center (JCC) Palu menjadi pusat perhatian. Di tengah gemerlap lampu dan sorak penonton, puluhan atlet muda dari berbagai daerah di Indonesia tampil memukau. Namun, selain para petinju, yang menarik perhatian adalah bagaimana Kota Palu, yang terletak di jantung Sulawesi Tengah, berhasil menyelenggarakan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tinju Amatir 2025 dengan standar yang sangat tinggi.
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pertina, Dr. Hillary Brigitta Lasut, memberikan pujian tinggi atas penyelenggaraan event ini. Dalam sambutannya pada Sabtu malam (25/10), ia menyebut Kejurnas di Palu sebagai salah satu event terbaik dalam sejarah tinju amatir Indonesia. “Kalau saya tidak tahu ini event nasional, saya akan kira ini sudah level internasional,” ujarnya dengan nada penuh kekaguman.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Hillary, yang juga seorang politisi muda lulusan hukum dari luar negeri, menilai bahwa apa yang terjadi di Palu merupakan titik balik bagi citra olahraga tinju di Indonesia. Ia menekankan bahwa dari manajemen pertandingan hingga penataan venue, semua aspek menunjukkan keseriusan dan profesionalitas yang jarang ditemukan di kejuaraan tingkat nasional. “Semua elemen bekerja dengan hati,” tambahnya.
Fasilitas yang Membuat Acara Berkesan
Fasilitas JCC Palu yang megah menjadi bintang utama malam itu. Venue dengan pendingin udara dan tata cahaya modern menciptakan atmosfer yang memukau. Para ofisial dan atlet mengaku seperti sedang berlaga di arena internasional — sebuah kebanggaan tersendiri bagi Sulawesi Tengah yang kini mulai dikenal sebagai rumah baru olahraga nasional.
Selain fasilitas, peran penting juga diambil oleh Muhammad Fathur Razaq, Ketua Pertina sekaligus Ketua KONI Sulawesi Tengah. Di bawah kepemimpinannya, event besar ini terselenggara tanpa kendala berarti. Hillary menyebut Fathur sebagai contoh nyata generasi muda yang memimpin dengan cara modern, transparan, dan berorientasi hasil.
“Fathur Razaq dan timnya membuktikan bahwa anak muda bisa menjadi motor kemajuan olahraga Indonesia,” kata Hillary. Ia menambahkan bahwa keberhasilan Palu menggelar Kejurnas kali ini adalah bukti kuat bahwa daerah mampu menjadi tuan rumah dengan kualitas penyelenggaraan setara kota besar.
Dukungan Penuh dari Pemerintah dan KONI
Dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan KONI setempat juga berperan besar dalam suksesnya acara. Seluruh rangkaian kegiatan — mulai dari penjurian, logistik, hingga akomodasi atlet — dikemas secara rapi dan profesional. Di tengah berbagai keterbatasan, panitia lokal menunjukkan bahwa dedikasi mampu mengalahkan keterbatasan fasilitas.
Atmosfer di arena begitu intens. Sorak “fight!” bergema, disambut sorotan kamera media nasional yang menangkap setiap pukulan dan langkah di atas ring. Palu malam itu bukan sekadar tuan rumah, tetapi simbol semangat baru tinju Indonesia yang tengah berbenah menuju panggung dunia.
Harapan untuk Kebangkitan Tinju Nasional
Hillary berharap Kejurnas Palu menjadi momentum kebangkitan tinju nasional. Ia mengajak seluruh pelatih dan atlet menjadikan event ini batu loncatan menuju prestasi internasional. “Dari Palu, semangat ini akan menular ke seluruh provinsi. Dari ring ini, akan lahir petinju yang kelak mengibarkan Merah Putih di kejuaraan dunia,” tegasnya di akhir pidato.
Dan ketika malam berakhir, sorotan lampu perlahan meredup, satu hal menjadi jelas: Palu baru saja menulis bab penting dalam sejarah olahraga Indonesia. Bukan hanya tentang siapa yang menang di atas ring, tetapi bagaimana satu kota di timur Nusantara membuktikan bahwa profesionalisme dan mimpi besar bisa tumbuh di mana saja — bahkan di tempat yang dulu jarang disebut dalam peta olahraga nasional.