Kekhawatiran Politik Jokowi Ambil Alih NasDem dan Gedungnya, PSI Sebut Agenda Tersembunyi

Kekhawatiran Politik Jokowi Ambil Alih NasDem dan Gedungnya, PSI Sebut Agenda Tersembunyi

Isu Jokowi Ingin Ambil Alih Partai NasDem Dibantah oleh PSI

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menegaskan bahwa isu yang menyebut Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), ingin mengambil alih Partai NasDem dan membeli NasDem Tower tidak benar. Isu ini disebut sebagai upaya untuk membentuk opini negatif terhadap Jokowi serta Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.

Pernyataan ini dikeluarkan setelah PSI melakukan pertemuan dengan Jokowi pada Senin lalu. Ketua DPP PSI, Bestari Barus, mengungkapkan bahwa Jokowi justru mempertanyakan mengapa namanya kembali dikaitkan dengan isu besar yang beredar di publik. Pak Jokowi bertanya, kenapa kok nama saya disebut-sebut seperti itu, ujar Bestari.

Bestari menilai bahwa fenomena mengaitkan Jokowi dengan isu-isu besar bukan hal baru. Ia menyebut bahwa setiap kali muncul kabar besar di ruang publik, nama Jokowi kerap ikut diseret meskipun tidak memiliki keterkaitan langsung. Setiap ada isu besar selalu dikaitkan dengan Pak Jokowi. Saya tegaskan, itu tidak benar, katanya.

Lebih lanjut, Bestari menduga isu tersebut sengaja disebarkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan politik. Tujuannya, menurut dia, adalah untuk membentuk opini publik yang negatif terhadap Jokowi serta Gibran Rakabuming Raka. Tidak ada keinginan Pak Jokowi untuk mengambil alih Partai NasDem. Ini hanya isu yang dilontarkan pihak tertentu untuk membangun opini negatif terhadap Pak Jokowi dan Mas Gibran, tegasnya.

Di sisi lain, Bestari yang diketahui pernah menjadi kader Partai NasDem berharap agar partai tersebut dapat segera melakukan konsolidasi internal. Ia menyampaikan harapannya agar partai lamanya itu tetap solid dalam menghadapi dinamika politik yang berkembang. Saya sebagai mantan kader Partai NasDem berharap partai ini bisa segera melakukan konsolidasi internal, pungkasnya.

Jokowi Tegaskan Tidak Pernah Berpikir Ambil Alih NasDem

Jokowi, saat ditemui di Solo, tegas membantah tudingan tersebut. Ia menyebut isu itu tidak berdasar dan sangat menuduh. Isu dari mana itu. Jangan menuduh dengan isu yang tidak benar seperti itu, jelas Jokowi saat ditemui di kediamannya di Sumber, Banjarsari, Solo, Jumat (10/4/2026).

Isu tersebut berembus liar dan langsung memicu berbagai spekulasi. Namun, Jokowi menegaskan bahwa tidak pernah ada niatan sedikit pun untuk menguasai partai politik tersebut. Nggak ada sama sekali. Dalam pikiran nggak ada sama sekali. Isu yang sangat menuduh, tuturnya.

Terkait isu akan membeli NasDem Tower, Jokowi menanggapi disertai tawa. Ia meminta untuk berpikir dengan logika soal kabar tersebut. Menurutnya, nilai gedung tersebut yang mencapai triliunan rupiah tidak masuk akal jika dikaitkan dengan dirinya. Beli itu berapa triliun? Duitnya dari mana? Itu kan tower yang sangat tinggi sekali. Kelas saya UMKM, jelasnya.

Dengan pernyataan tersebut, Jokowi berharap isu serupa tidak lagi disebarkan karena dinilai tidak berdasar dan cenderung menyesatkan.

Dirumorkan Beri Rismon Rp 50 Miliar

Jokowi juga tertawa saat menanggapi rumor dia memberikan uang Rp50 miliar untuk Rismon Sianipar. Rumor itu mencuat setelah Rismon Sianipar yang sebelumnya bersama Roy Suryo CS menghujat dan menuduh ijazah Jokowi palsu, kini justru berbalik arah. Rismon Sianipar kini mati-matian membela Jokowi setelah dia mengajukan restorative justice atas kasus tudingan ijazah palsu yang menjeratnya.

Bahkan, karena itu Rismon Sianipar sampai dilaporkan Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla setelah menyebut ada elite yang berada di balik isu ijazah Jokowi. Sejalan hal itu, rumor yang menyebut Rismon mendapat Rp 50 miliar dari Jokowi, pun berembus kencang di media sosial.

Menanggapi hal ini, Jokowi langsung tertawa dan menganggap rumor itu tidak masuk akal. Menurut Jokowi, aneh apabila dia yang dituduh memiliki ijazah palsu justru memberikan uang kepada penuduh. Logikanya ya. Logikanya beliau-beliau ini tersangka. Kemudian minta RJ ke Polda Metro Jaya, ke penyidik, karena kewenangan ada di sana, tetapi harus memohon maaf kepada yang dituduh, kepada saya, kata Jokowi ketika ditemui wartawan di rumahnya, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat, (10/4/2026).

Masa kita geng yang dituduh malah memberi duit. Logikanya gimana, sih? Yang tersangka beliau-beliau, ke sini kita maafkan. Kok, saya masih memberi duit, tuh, gimana? kata dia mempertanyakannya.

Jokowi kemudian bercanda dengan menyebut para tersangka kasus tudingan ijazah palsu seharusnya malah menjadi pihak yang memberikan uang kepadanya. Supaya dimaafkan, ujar Jokowi tertawa. Logikanya seperti itu. Jangan dibalik-baliklah. Apalagi duit segede itu.