Kelakuan Pelaku Penyekapan di Pondok Aren Terungkap, Seperti Bukan Manusia

admin.aiotrade 17 Okt 2025 3 menit 18x dilihat
Kelakuan Pelaku Penyekapan di Pondok Aren Terungkap, Seperti Bukan Manusia
Kelakuan Pelaku Penyekapan di Pondok Aren Terungkap, Seperti Bukan Manusia

Kronologi Penyekapan di Pondok Aren

Pada tanggal 11 Oktober 2025, empat korban mengalami penyekapan yang terjadi di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Kejadian ini berawal dari pertemuan antara para korban dengan seseorang bernama Nunung di sebuah angkringan di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Mereka bertemu untuk melakukan transaksi jual beli mobil tahun 2021. Saat itu, korban membayar uang muka sebesar Rp 49 juta melalui transfer ke rekening tersangka N.

Saat mereka sedang memesan makanan, Nunung tiba bersama pelaku lainnya. Tanpa memberi kesempatan kepada korban, para pelaku langsung merampas ponsel dan tas milik para korban. Mereka juga berteriak agar korban kooperatif. Setelah itu, keempat korban dipaksa masuk ke dalam mobil oleh pelaku.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selama perjalanan, mata para korban ditutup dengan kain hitam. Ketika tiba di lokasi penyekapan di Pondok Aren, mata mereka dibuka dan kemudian dibawa ke kamar di lantai dua. Di tempat tersebut, para korban diperlakukan secara tidak manusiawi oleh para pelaku.

Pengalaman Korban yang Menyedihkan

Salah satu korban, Nurul alias Ibenk, mengungkapkan bahwa perilaku para pelaku sangat kejam dan tidak memiliki rasa kemanusiaan. Bahkan, mereka memperlakukan para korban seperti hewan. Nurul menyebutkan bahwa selama disekap, para pelaku terus-menerus menyiksa korban dengan berbagai alat seperti selang, kabel, dan gantungan baju. Luka gores dan memar terlihat di bagian punggung dan tubuh korban.

Indra alias Riky, salah satu dari empat korban, menjelaskan bahwa para pelaku menyiksa mereka secara bergantian. “Ada yang pakai selang, ada yang pakai kabel, terus gantungan baju, hanger,” kata Indra. Ia juga menambahkan bahwa para pelaku menggunakan rokok untuk menyundut tubuh korban. “Kaki, paha juga, semua, bibir, kepala pada benjol. Kayak membabi buta,” ujar Indra.

Ajit Abudl Majid, korban lainnya, menimpali bahwa siksaan yang dialami mereka tidak pernah berhenti. “Karena dipukul, karena dicambuki,” tambah dia.

Penangkapan Pelaku dan Kepedulian Polisi

Setelah berhasil kabur, Dessi, istri salah satu korban, melapor ke Polda Metro Jaya pada Senin (13/10/2025). Dengan bantuan Resmob Polda Metro Jaya, keempat korban akhirnya ditemukan meskipun mereka sudah dipindahkan ke lokasi yang berbeda. Indra mengucapkan terima kasih kepada polisi karena cepat menemukan mereka. “Kalau tidak ditemukan Resmob Polda Metro Jaya, tidak tahu nasib kami seperti apa,” katanya.

Polisi akhirnya berhasil menangkap sembilan pelaku penyekapan, termasuk delapan laki-laki dan satu perempuan. Mereka adalah MAM (41), NN (52), VS (33), HJE (25), S (35), APN (25), Z (34), I, dan MA (39). Para korban diselamatkan setelah Dessi berhasil melarikan diri dari lokasi penyekapan.

Investigasi dan Motif Pelaku

Saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap para tersangka untuk mengetahui hubungan dan motif tindak pidana yang dilakukan. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Brigjen Pol Ade Ary Syam Indradi, menjelaskan bahwa awalnya para korban bertemu dengan Nunung di angkringan untuk jual beli mobil. Namun, tanpa disangka, situasi berubah menjadi penyekapan yang sangat mengerikan.

Meski belum diketahui apakah transfer uang muka dilakukan saat pertemuan atau sebelumnya, polisi tetap bekerja keras untuk mengungkap seluruh fakta.

Dalam kasus ini, para korban harus menghadapi pengalaman traumatis yang akan sulit dilupakan. Namun, dengan bantuan polisi dan keberanian korban, para pelaku akhirnya tertangkap dan akan diadili sesuai hukum yang berlaku.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan