
Kementerian Pertahanan Indonesia telah menyangkal bahwa pihaknya mendukung impor 105.000 mobil bak terbuka atau pick-up dari India yang bermerk Mahindra Scorpio. Namun, pihak Kemenhan mengakui telah menerima empat unit mobil tersebut dari PT Agrinas Pangan Nusantara dalam waktu dekat.
Kepala Biro Informasi Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa empat mobil Mahindra Scorpio tersebut akan digunakan dalam penanggulangan bencana di Pulau Sumatra. Menurutnya, mobil ini akan sangat membantu TNI dalam distribusi logistik maupun pergerakan manusia di daerah yang terkena bencana.
“Tidak benar bahwa penerimaan empat unit Mahindra Scorpio merupakan bagian dari upaya Kemenhan melakukan pemudahan importasi,” ujar Rico di Jakarta Pusat, Rabu (25/2).
Rico juga menyatakan bahwa Direktur Utama Agrinas Pangan akan memberikan klarifikasi terkait hibah empat unit Mahindra Scorpio dalam waktu dekat. Ia menambahkan bahwa mobil-mobil tersebut telah diteruskan ke daerah bencana di Sumatera saat ini.
Perbandingan Harga Pick Up Asal India dan Produk Lokal
PT Agrinas Pangan Nusantara mengklaim mampu menghemat anggaran hingga Rp 46,5 triliun melalui pengadaan 105 ribu unit pick-up untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) via skema impor dari India.
Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan bahwa efisiensi ini berasal dari anggaran pengadaan sarana dan prasarana proyek KDMP yang bersumber dari pinjaman Bank Himbara sejak Oktober tahun lalu.
“Dengan pengadaan sarana-prasarana ini, Agrinas Pangan bisa melakukan efisiensi sebesar Rp 46 triliun,” kata Joao dalam konferensi pers di kantornya, di Jakarta Timur, Selasa (23/2).
Dalam dokumen yang ditunjukkan, total nilai pengadaan jika mengacu pada harga e-catalog mencapai Rp 121,25 triliun. Namun, melalui proses negosiasi dan kontrak langsung, Agrinas berhasil menekan nilai kontrak menjadi Rp 74,71 triliun.
Dengan demikian, terdapat selisih sebesar Rp 46,54 triliun antara harga e-catalog dan nilai kontrak aktual. Selisih tersebut diklaim sebagai bentuk efisiensi yang berhasil dicapai dalam proses pengadaan.
Joao mengaku telah melakukan pertemuan dan negosiasi dengan sejumlah produsen mobil dalam negeri sebelum memutuskan untuk mengimpor. Agrinas telah mengundang sejumlah produsen otomotif nasional, termasuk Grup Astra yang menawarkan berbagai merek seperti Suzuki, Isuzu, Daihatsu, dan Toyota.
Menurut Joao, Astra menawarkan Toyota Hilux dalam dua varian, yakni 4x4 atau mesin tenaga empat roda dan 4x2 atau tenaga mesin dua roda. Namun, penawaran tersebut tidak mencapai kesepakatan karena faktor harga dan keterbatasan kapasitas produksi.
Suzuki Carry dan Daihatsu Gran Max sebagai dua produsen pick-up utama disebutnya belum mampu memproduksi sesuai permintaan. Menurut dia, dua pick-up utama itu yang menimbulkan pertanyaan seolah-olah Agrinas tak memberikan peluang bagi pick-up 4x2 dalam negeri.
“Pertimbangannya, untuk Gran Max dan Carry sekarang 4x2-nya hanya mampu memproduksi sebanyak 100 – 120 ribu unit per tahun dan sebagian besar dipakai MBG (Makan Bergizi Gratis),” kata dia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar