Kemenhub: 12.900 Orang Terdaftar Jadi Sopir Taksi Listrik Asal Vietnam Xanh SM

admin.aiotrade 16 Des 2025 3 menit 29x dilihat
Kemenhub: 12.900 Orang Terdaftar Jadi Sopir Taksi Listrik Asal Vietnam Xanh SM

Pengemudi Taksi Listrik Xanh SM Mengalami Peningkatan yang Signifikan

Sebanyak 12.900 orang telah bergabung sebagai pengemudi taksi listrik Xanh SM sejak perusahaan asal Vietnam ini beroperasi di Indonesia. Mayoritas dari mereka, yaitu sekitar 11.700 pengemudi, berada di kawasan Jabodetabek. Angka ini menunjukkan minat yang tinggi dari masyarakat terhadap layanan transportasi berbasis kendaraan listrik.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengakui bahwa antusiasme masyarakat untuk menjadi pengemudi Xanh SM sangat besar, termasuk dari kalangan pengemudi transportasi sebelumnya. Namun, pemerintah menegaskan bahwa tidak ada praktik pembajakan tenaga kerja dalam proses rekrutmen pengemudi perusahaan tersebut.

Staf Ahli Bidang Teknologi dan Energi Kemenhub, Suharto, menjelaskan bahwa pemerintah sejak awal menetapkan koridor bagi Xanh SM untuk membuka lapangan kerja baru saat masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, perusahaan dilarang merekrut pengemudi aktif dari perusahaan taksi eksisting.

“Wajar jika minatnya tinggi. Tapi sejak awal kami tetapkan koridor bahwa Xanh SM harus membuka lapangan kerja baru,” ujarnya dalam diskusi publik Intrans, Selasa (16/12).

Menurut Suharto, salah satu faktor utama yang mendorong tingginya minat menjadi pengemudi Xanh SM adalah tingkat pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan moda transportasi lain. Pendapatan bersih pengemudi Xanh SM diperkirakan mencapai Rp 192.000 per hari, hampir dua kali lipat dibandingkan sopir taksi konvensional yang rata-rata Rp 100.000 per hari, serta jauh di atas pengemudi taksi daring yang rata-rata hanya Rp 69.000 per hari.

Ia menjelaskan bahwa pendapatan pengemudi Xanh SM sekitar 92% lebih tinggi dibandingkan taksi konvensional karena pengemudi tidak dibebani biaya sewa kendaraan maupun perawatan. Selain itu, biaya energi yang dikeluarkan hanya sekitar Rp 33.000 per hari, jauh lebih rendah dibandingkan taksi daring dan taksi konvensional yang bisa mencapai Rp 100.000 per hari.

Meski demikian, Suharto mencatat bahwa sekitar 22% dari total pengemudi Xanh SM saat ini berasal dari sektor transportasi. Rinciannya, 9,6% merupakan mantan pengemudi taksi daring dan 3,4% berasal dari PT Blue Bird Tbk. Ia menegaskan bahwa para mantan sopir Blue Bird tersebut telah menganggur sekitar 30 hari sebelum bergabung dengan Xanh SM.

“Mayoritas pengemudi Xanh SM bukan berasal dari perusahaan taksi eksisting. Harapan kami data ini bisa menjernihkan polemik yang ada,” ujarnya.

Perubahan Strategi dari PT Blue Bird Tbk

Di sisi lain, Direktur Utama Blue Bird Adrianto Djokosoetono menyampaikan bahwa sekitar 90% pendapatan perseroan masih berasal dari layanan taksi. Namun, saat ini terjadi pergeseran sumber pendapatan ke segmen non-taksi seiring perubahan kebutuhan pelanggan.

Karena itu, Blue Bird berencana memperbesar kehadiran di pasar non-taksi yang saat ini masih relatif kecil, sekaligus mempercepat transformasi digital agar seluruh layanannya terintegrasi dalam satu platform.

“Kami ingin semua produk bisa diakses melalui satu platform, dibayar dengan berbagai metode, dan tidak hanya melalui kanal milik kami sendiri,” kata Adrianto.

Tahun ini, Blue Bird mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 1,6 triliun dan telah menyerap sekitar 75% dari target tersebut. Perseroan juga menambah 1.500 armada baru untuk layanan taksi dan non-taksi sebagai bagian dari strategi menjadi penyedia layanan mobilitas terpadu atau mobility as a service.

“Kami memang bernama Blue Bird Tbk, tapi isinya bukan hanya taksi. Kami ingin melayani lebih banyak jenis kebutuhan mobilitas pelanggan,” ujarnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan