
Perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi non-hutan di daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Sumatera Utara, mencatat angka yang cukup signifikan. Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa sepanjang periode 2019 hingga 2024, terjadi perubahan seluas 28.900 hektare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 115,76 hektare atau 0,4% terjadi di kawasan hutan.
Kasubdit Perencanaan Pengelolaan DAS Kemenhut, Catur Basuki Setyawan, menjelaskan bahwa DAS Batang Toru termasuk wilayah yang paling parah terdampak banjir di Sumatera Utara. Lahan kritis, yaitu lahan yang mengalami penurunan fungsi, mencapai 35.000 hektare atau 10,2% dari luasan DAS. Ia menekankan bahwa sebagian besar perubahan tutupan lahan terjadi di luar kawasan hutan, yaitu sebesar 99%.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selain itu, dalam kurun waktu yang sama, perubahan tutupan lahan hutan menjadi non-hutan di Sumatera Utara mencapai sekitar 9.400 hektare. Dari jumlah tersebut, 36% berada di kawasan hutan dan sisanya di luar kawasan hutan. Lahan kritis di wilayah ini mencapai 207,5 ribu hektare dari total luas DAS sebesar 1,4 juta hektare.
Di Aceh, perubahan tutupan lahan hutan menjadi non-hutan tercatat sebesar 21 hektare. Namun, lebih dari separuhnya terjadi di kawasan hutan. Saat ini, lahan kritis di Aceh mencapai 217 ribu hektare.
Sementara itu, di Sumatera Barat, satu provinsi lain yang terdampak banjir, perubahan tutupan lahan hutan menjadi non-hutan mencapai sekitar 1.800 hektare. Sebanyak 79% dari jumlah tersebut terjadi di kawasan hutan. Posisi lahan kritis paling banyak terdapat di DAS Masang Kiri, yaitu sebesar 11.898 hektare. DAS ini juga merupakan wilayah yang paling parah terdampak banjir.
Catur Basuki Setyawan menjelaskan bahwa ada beberapa DAS yang secara teori memiliki sirkulasi rasio mendekati satu. Kondisi ini tergambar di 13 DAS terdampak banjir, yang mencakup 14 kabupaten/kota di Sumatera Barat. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa DAS tersebut memiliki potensi tinggi untuk terjadinya banjir.
Faktor Penyebab Banjir di Wilayah Terdampak
Beberapa faktor penyebab banjir di wilayah-wilayah tersebut antara lain:
- Perubahan tutupan lahan: Perubahan dari hutan menjadi non-hutan menyebabkan penurunan kemampuan tanah dalam menyerap air. Hal ini meningkatkan risiko banjir saat terjadi curah hujan tinggi.
- Lahan kritis: Lahan yang mengalami penurunan fungsi tidak mampu menyerap air dengan optimal, sehingga air langsung mengalir ke sungai dan memicu banjir.
- Topografi wilayah: Beberapa DAS memiliki bentuk topografi yang membuat air mudah terkumpul dan mengalir ke daerah dataran rendah.
- Pengelolaan DAS yang tidak optimal: Kurangnya pengelolaan yang baik dapat memperparah kondisi lahan dan meningkatkan risiko bencana banjir.
Upaya Pemerintah dalam Mengatasi Masalah Ini
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah perubahan tutupan lahan dan banjir di wilayah-wilayah tersebut, antara lain:
- Reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis: Program reboisasi dilakukan untuk memulihkan fungsi hutan dan meningkatkan kemampuan tanah menyerap air.
- Peningkatan kesadaran masyarakat: Masyarakat diajarkan pentingnya menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang merusak hutan.
- Penguatan regulasi pengelolaan DAS: Pemerintah berupaya memperkuat regulasi untuk memastikan pengelolaan DAS dilakukan secara efektif.
- Kolaborasi lintas instansi: Berbagai instansi terkait bekerja sama dalam merancang strategi pengelolaan DAS yang lebih baik.
Dengan adanya perubahan tutupan lahan yang signifikan, diperlukan tindakan cepat dan kolaboratif untuk mencegah dampak banjir yang lebih buruk di masa depan.