Kemenko Ekonomi Prediksi RI Alami Surplus Bahan Bakar Solar 4 Juta Kiloliter Setelah Penerapan B50

admin.aiotrade 08 Des 2025 3 menit 20x dilihat
Kemenko Ekonomi Prediksi RI Alami Surplus Bahan Bakar Solar 4 Juta Kiloliter Setelah Penerapan B50


aiotrade, JAKARTA — Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Ekonomi) memproyeksikan Indonesia akan mengalami surplus solar hingga 4 juta kiloliter setelah implementasi mandatory biodiesel 50% atau B50 pada tahun depan.

Deputi Bidang Koordinasi Energi & Sumber Daya Mineral Kemenko Ekonomi Elen Setiadi menyampaikan bahwa impor solar telah berkurang sejalan dengan penerapan biodiesel 40% selama ini dan akan terus berlanjut pada 2026.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Maka yang selama ini kita masih ada impor solar untuk campurannya itu, itu sudah bisa kita surplus, bahkan capai 4 juta kiloliter," ujar Elen dalam BIG Conference 2025, Senin (8/12/2025).

Hal ini juga seiring dengan kebijakan transisi energi lewat pengembangan bahan bakar nabati. Dalam paparannya disebutkan bahwa porsi bauran energi baru terbarukan (EBT) sektor bioenergi sebesar 14,1% dari target 23% tahun ini, di mana pemanfaatan biodisel domestik sebesar 13,5 juta kiloliter telah melampaui target RUEN sebesar 12,5 juta kl.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memulai uji jalan program bahan bakar nabati B50 pada awal Desember 2025. Langkah ini menjadi tahap lanjutan setelah uji laboratorium menunjukkan kinerja mesin dan filter kendaraan tetap optimal, sebagaimana transisi dari B30 ke B40.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa uji jalan tersebut akan menggunakan dua jenis bahan bakar.

"Uji jalan B50 akan menggunakan dua jenis solar yakni solar konvensional dengan kandungan sulfur 2.000 ppm dan solar standar Euro 4 dengan sulfur 50 ppm," kata Eniya.

Kementerian ESDM juga meneliti pencampuran hydrogenated vegetable oil (HVO) dengan B40 dan B35. Menurut Eniya, performa yang dihasilkan lebih baik. Namun, biaya instalasi yang tinggi dan harga HPO yang mencapai Rp24.000 per liter membuat pemerintah memutuskan uji jalan resmi menggunakan formula B50 penuh tanpa tambahan HPO.

Uji jalan akan dilakukan secara serentak di enam sektor, yaitu otomotif, alat dan mesin pertanian (alsintan), genset, pertambangan, perkeretaapian, dan perkapalan. Durasi pengujian berbeda-beda, mulai 2 hingga 8 bulan, bergantung pada karakteristik sektor masing-masing.

Beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang program B50 adalah:

  • Penghematan Devisa: Program mandatori biodiesel disebut telah menghemat devisa sekitar 10,6 miliar dolar AS per tahun.
  • Penciptaan Lapangan Kerja: Program ini telah menciptakan lebih dari 41.000 lapangan kerja.
  • Pengurangan Emisi CO₂: Emisi CO₂ berhasil ditekan sekitar 15,6 juta ton sepanjang 2025.

Sebagai informasi, Indonesia kini menjadi pengguna biodiesel terbesar di dunia. Produksi meningkat dari 8,4 juta kiloliter pada 2020 menjadi lebih dari 13 juta kiloliter pada 2025, dengan target implementasi B50 pada 2030.

Selain itu, kebijakan ini juga membantu dalam menjaga ketersediaan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Dengan adanya surplus solar, pemerintah dapat memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan energi dalam negeri serta memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen energi terbarukan.

Program B50 tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Dengan penggunaan bahan bakar nabati yang semakin besar, Indonesia semakin mendekati tujuan pembangunan berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon.

Selama masa uji coba, pemerintah akan terus memantau hasil dan melakukan evaluasi agar program ini dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dengan demikian, keberhasilan B50 akan menjadi langkah penting dalam transformasi energi nasional.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan