
Industri baja nasional terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sejak pandemi, dan pihak Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimis bahwa sektor ini akan menjadi tulang punggung ekonomi nasional pada 2026. Direktur Industri Logam Kemenperin, Dodiet Prasetyo mengatakan, sektor baja telah menunjukkan peningkatan yang luar biasa selama kuartal III-2025, didorong oleh industrialisasi, meningkatnya permintaan pasar, pembangunan infrastruktur, serta kebutuhan Ibu Kota Negara (IKN) baru.
“Pertumbuhan ini merupakan yang terbesar sejak pandemi. Kami berharap industri baja tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Dodiet saat ditemui di acara penandatanganan kerja sama BP-1 Revamp Project antara Garuda Yamato Steel dengan SMS Group di Cikarang, Selasa (9/12/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Soal impor baja dari negara seperti Tiongkok, Dodiet menyatakan bahwa penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) akan menjadi kunci untuk menjaga kompetisi yang sehat antara produk dalam negeri dan impor. Meskipun impor bahan baku akan tetap terbuka, pemerintah akan memberikan preferensi pada industri dalam negeri.
“Jika ada nilai tambah, kami akan memberikan porsi tambahan, tetapi porsi terbesar harus tetap pada industri dalam negeri,” jelas Dodiet.
Saat ini, beberapa investasi baru juga sedang bersiap masuk ke industri baja nasional. Namun, Dodiet enggan mengungkap sumber investasi tersebut. “Ada beberapa perusahaan yang sudah datang ke kami, tapi tunggu saja nanti. Termasuk diskusi tentang skema insentif dan lainnya. Tapi itu masih rahasia,” tambahnya.
Di tengah optimisme ini, salah satu produsen baja nasional, PT Garuda Yamato Steel (GYS), tengah memperkuat ekspansi bisnisnya melalui proyek peningkatan fasilitas produksi (revamp BP1). Presiden Direktur GYS, Tony Taniwan menjelaskan, perusahaan menargetkan peningkatan produksi baja struktural dari 400.000 ton per tahun menjadi 540.000 ton per tahun.
“Selain itu, kami memiliki pabrik yang relatif baru, yang mulai berproduksi dua tahun lalu. Total kapasitas kami pada 2027 akan mencapai 1 juta ton,” kata Tony dalam sesi konferensi pers, Selasa (9/12/2025).
Proses kick-off dan penyusunan rencana proyek ini akan dimulai pada Januari 2026, sementara fase instalasi dan commissioning ditargetkan rampung pada 2027. Produksi komersial diharapkan mulai berjalan pada November 2027.
Penambahan kapasitas ini dilakukan karena meningkatnya kebutuhan baja struktural untuk proyek infrastruktur dan konstruksi di Indonesia. GYS juga menyiapkan ekspansi varian produk seperti H-Beam, IWF, Angle, Channel, dan Sheet Pile dengan ukuran lebih besar untuk memenuhi kebutuhan konstruksi skala menengah hingga besar, termasuk proyek jembatan, data center, pabrik dan gudang, minyak dan gas, pembangkit listrik, serta transmisi telekomunikasi.
Selain fokus pada peningkatan kapasitas, GYS juga menargetkan pengurangan emisi karbon melalui optimalisasi penggunaan energi. Perusahaan memproyeksikan penurunan konsumsi gas hingga 38% dan listrik 37% seiring penggunaan teknologi baru yang lebih efisien.
Tony menambahkan, GYS telah mengadopsi sekitar 90% konten lokal dalam setiap lini produksinya. “Kami membeli besi tua, misalnya dari kapal bekas atau gudang yang sudah tutup, untuk dilebur di sini. Dan kami menggunakan listrik dari PLN, serta gas dari PGN. Dan kebanyakan, 95% tenaga kerja adalah orang Indonesia,” jelas Toni.
Dengan kapasitas dan kemampuan produk baru ini, GYS optimis dapat melayani permintaan baja yang lebih besar dan kompleks lagi ke depannya. “Sehingga secara alami akan memperkuat kontribusi dan dominasi kami di pasar dalam negeri,” pungkas Toni.