aiotrade.CO.ID - JAKARTA.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menyampaikan laporan mengenai kinerja sektor manufaktur non-migas, yang menjadi bagian dari evaluasi kinerja pemerintahan selama satu tahun terakhir. Laporan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi nasional di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa dalam setahun terakhir, industri menghadapi tantangan besar akibat dinamika perdagangan global. Perubahan signifikan dalam kebijakan tarif dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok, serta ketegangan geo-politik khususnya di kawasan Timur Tengah, berdampak pada rantai pasok global. Selain itu, fluktuasi harga energi dan logistik juga meningkatkan biaya produksi, sehingga memengaruhi daya saing industri dalam negeri.
Namun, meskipun menghadapi tantangan tersebut, sektor manufaktur masih mampu tumbuh. Kemenperin mencatat pertumbuhan sebesar 4,94% selama periode triwulan IV-2024 hingga triwulan II-2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama periode tersebut, sektor manufaktur memberikan kontribusi sebesar 17,24% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Angka ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur tetap memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia.
Dari sisi ekspor, nilai ekspor sektor manufaktur mencapai US$ 202,9 miliar selama periode Oktober 2024 hingga Agustus 2025. Angka ini setara dengan 78,75% dari total ekspor nasional sebesar US$ 257,6 miliar. Sementara itu, sektor manufaktur berhasil menarik investasi senilai Rp 568,4 triliun selama periode Oktober 2024 hingga Juni 2025, atau sebesar 40,72% dari total investasi nasional.
Selain itu, sektor manufaktur juga berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja. Hingga Februari 2025, sektor ini menyerap 19,55 juta tenaga kerja atau 13,41% dari total tenaga kerja nasional. Dalam hal pemanfaatan kapasitas produksi, rata-rata tingkat utilisasi industri manufaktur selama periode Oktober 2024 hingga Agustus 2025 mencapai 62%. Angka ini menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk ekspansi lebih lanjut dalam sektor ini.
Pertumbuhan Sub-Sektor Manufaktur
Secara detail, terdapat delapan sub-sektor manufaktur yang tumbuh di atas 5% selama periode triwulan IV-2024 hingga triwulan II-2025. Berikut adalah rinciannya:
- Industri Logam Dasar: tumbuh sebesar 12,27%
- Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki: tumbuh sebesar 8,13%
- Industri Makanan dan Minuman: tumbuh sebesar 6,18%
- Industri Barang Logam: Komputer, Barang Elektronik, Optik dan Peralatan Listrik: tumbuh sebesar 6,15%
- Industri Pengolahan Lainnya: Jasa Reparasi, Pemasangan Mesin dan Peralatan: tumbuh sebesar 5,86%
- Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional: tumbuh sebesar 5,85%
- Industri Mesin dan Perlengkapan: tumbuh sebesar 5,55%
- Industri Tekstil dan Pakaian Jadi: tumbuh sebesar 5,36%
Sementara itu, lima sub-sektor lainnya mengalami pertumbuhan di bawah 5%, seperti Industri Furnitur (3,49%) dan Industri Kertas dan Barang dari Kertas (2,55%). Dua sub-sektor lainnya mengalami kontraksi, yaitu Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan sejenisnya (-1,18%) serta Industri Alat Angkutan (-1,91%).
Kinerja Sub-Sektor Berdasarkan Direktorat Jenderal
Beberapa sub-sektor manufaktur yang berada di bawah binaan Direktorat Jenderal (Ditjen) Kemenperin menunjukkan kinerja yang berbeda-beda:
- Industri Agro
- Pertumbuhan: 5,05%
- Kontribusi terhadap PDB Nasional: 8,98%
- Ekspor: US$ 60,22 Miliar
- Investasi: Rp 155,25 Triliun
- Rata-rata utilisasi: 57,56%
- Serapan Tenaga Kerja (per Februari 2025): 9,83 Juta
Sub-sektor makanan dan minuman menjadi penggerak utama dengan pertumbuhan 6,18%, kontribusi 7,07% terhadap PDB, ekspor US$ 45,43 miliar, dan penyerapan 6,64 juta tenaga kerja. Investasi besar hadir melalui peresmian pabrik baru seperti PT Pepsico Indonesia di Cikarang senilai Rp 3,3 triliun dan PT Pacrim Lestari Food (Cargill) di Lampung senilai Rp 3,2 triliun. Total nilai ekspor industri agro mencapai lebih dari Rp 58 triliun sepanjang tahun 2025.
- Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE)
- Pertumbuhan: 4,86%
- Kontribusi terhadap PDB Nasional: 4,27%
- Ekspor: US$ 88,82 Miliar
- Investasi: Rp 266,95 Triliun
- Rata-rata utilisasi: 65,10%
- Tenaga kerja (per Februari 2025): 1,87 Juta
Industri logam dasar menjadi motor utama dengan pertumbuhan 12,27%, ekspor US$ 45,76 miliar, investasi Rp 186,75 triliun, dan utilisasi 73,53%. Proyek strategis seperti Pabrik Pipa Seamless di Cilegon, pabrik kendaraan niaga PT Daimler Commercial Vehicles Manufacturing Indonesia (DCMVI) di Cikarang, dan pabrik panel surya PT Trina Mas Agra Indonesia di Kendal memperkuat sub-sektor ini.
- Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT)
- Pertumbuhan: 4,75%
- Kontribusi terhadap PDB Nasional: 3,87%
- Ekspor: US$ 47,95 Miliar
- Investasi: Rp 136,26 Triliun
- Rata-rata utilisasi: 66,47%
-
Tenaga kerja (per Februari 2025): 6,71 Juta
-
Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA)
- Pertumbuhan: 5,86%
- Kontribusi terhadap PDB Nasional: 0,12%
- Ekspor: US$ 9,38 Miliar
- Investasi: Rp 9,90 Triliun
- Rata-rata utilisasi: 60,96%
- Tenaga kerja (per Februari 2025): 1,15 Juta
Ditjen IKMA mengembangkan 57 Sentra IKM pada 2024, dengan 42 di antaranya sudah beroperasi dan mencatat peningkatan omzet serta kapasitas produksi rata-rata 60%. Pada 2025, fokus pengembangan difokuskan pada integrasi Sentra IKM dalam kawasan industri di Morowali, Gresik, dan Bintan.
Kawasan Industri dan Investasi
Sementara itu, kinerja Ditjen Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) juga mencatat tambahan sembilan kawasan industri dalam satu tahun terakhir. Empat di antaranya berada di luar Pulau Jawa. Saat ini, Indonesia memiliki 173 kawasan industri dengan total luasan lahan 97.345,4 hektare. Total tenan di kawasan industri mencapai 11.970 perusahaan, yang menyerap 2,35 juta tenaga kerja. Secara keseluruhan, kawasan industri dan tenan di dalamnya menyerap investasi senilai Rp 6.744,58 triliun.