
Potensi Kakao Parigi Moutong sebagai Pusat Produksi Nasional
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Bagus Rachman, menyampaikan bahwa Kabupaten Parigi Moutong memiliki potensi besar untuk menjadi pusat produksi kakao rakyat nasional. Ia menilai wilayah Sulawesi berkontribusi sekitar 60 persen terhadap produksi kakao nasional, dan Parigi Moutong termasuk salah satu daerah dengan hasil produksi terbesar.
“Sulawesi Tengah adalah sentra utama kakao di Indonesia. Parigi Moutong merupakan salah satu daerah yang memainkan peran penting dalam rantai produksinya,” ujar Bagus Rachman.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurutnya, potensi ini harus dioptimalkan melalui penguatan kelembagaan petani serta dukungan penuh dari pemerintah daerah. Ia menekankan bahwa pengembangan kakao berbasis masyarakat akan berdampak positif pada perekonomian lokal dan meningkatkan daya saing produk di pasar global.
“Jika dikelola dengan baik, nilai ekonomi kakao bisa meningkat hingga ratusan kali lipat dibanding hanya menjual biji mentah,” jelasnya.
Bagus menegaskan bahwa Kementerian UMKM berkomitmen untuk membantu para petani kakao melalui pendampingan usaha dan fasilitasi akses permodalan. Ia juga menilai pentingnya sinergi antarinstansi agar program pengembangan kakao rakyat dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
“Kami akan hadir melalui program pendampingan agar kelompok tani memiliki daya saing, mulai dari pengolahan hingga pemasaran,” katanya.
Selain aspek produksi, Kementerian UMKM menekankan pentingnya inovasi produk turunan kakao agar memberikan nilai tambah lebih besar. Bagus mengatakan bahwa petani tidak boleh berhenti di tahap panen, tetapi harus belajar mengolah hasilnya agar bisa masuk ke rantai ekonomi yang lebih luas.
“Petani jangan berhenti di panen. Harus belajar mengolah hasil agar bisa masuk rantai ekonomi yang lebih luas,” ucapnya.
Bagus menambahkan bahwa Kementerian UMKM akan memprioritaskan pelatihan teknis dan dukungan alat pascapanen bagi kelompok usaha kakao. Ia menilai bahwa Parigi Moutong memiliki potensi untuk menjadi contoh daerah dengan sistem perkebunan rakyat modern dan berbasis komunitas.
“Kami ingin Parigi Moutong menjadi model pengembangan kakao rakyat di Indonesia bagian timur,” ujar Bagus.
Ia menilai bahwa dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah akan menjadi kunci utama keberhasilan pengembangan sektor ini. “Program tak akan berhasil tanpa keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahap pengelolaan,” katanya.
Selain kakao, lanjutnya, komoditas lain seperti durian juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan hingga ekspor. “Banyak potensi desa yang bisa digarap, asal kita mengenali kekuatan lokal dan membangunnya bersama,” ujarnya.
Bagus menegaskan bahwa pengembangan UMKM berbasis komoditas lokal menjadi strategi nasional untuk memperkuat ekonomi daerah. “Semakin kuat sektor UMKM di desa, semakin mandiri perekonomian masyarakat,” pungkasnya.