
Kerja Sama Indonesia-China untuk Pengembangan Kawasan Transmigrasi
Kementerian Transmigrasi (Kementrans) bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua Selatan dan Maluku Utara dalam mengembangkan kawasan transmigrasi berbasis konektivitas, inklusivitas, dan keberlanjutan. Kesepakatan ini diumumkan dalam pertemuan yang digelar di Kedutaan Besar China, Jakarta, pada Kamis (23/10/2025). Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam pertemuan tersebut, diperoleh beberapa inisiatif investasi di sektor pangan, kelapa, perikanan, dan pendidikan vokasi. Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan kerja Kementrans ke China beberapa waktu lalu yang fokus pada investasi dan kolaborasi di sektor pangan, perkebunan, perikanan, serta pendidikan vokasi.
“Ada beberapa hal yang kami bahas. Pertama, kami akan menindaklanjuti kerja sama pertanian, khususnya padi,” kata Iftitah dalam siaran pers yang diterima aiotrade, Selasa (9/12/2025).
Ia menambahkan, “November nanti, investor dari China akan kami ajak ke kawasan transmigrasi Papua Selatan untuk mengembangkan kawasan sentra pangan.”
Duta Besar China Menyambut Baik Rencana Kolaborasi
Duta Besar (Dubes) China untuk Indonesia Wang Lu Tong menyambut baik rencana kolaborasi tersebut dan menilai hubungan kedua negara telah memasuki tahap yang lebih strategis dan produktif.
“Kunjungan dan pembahasan yang dilakukan oleh Pak Menteri sangat berhasil. Kami melihat potensi besar kerja sama di bidang pertanian, perikanan, konektivitas, pariwisata, hingga pengembangan kawasan transmigrasi. Kami juga menantikan kunjungan ke Maluku Utara dan Papua Selatan untuk melihat langsung potensi di lapangan,” kata Wang Lu Tong.
Pengembangan Komoditas Kelapa dan SDM
Selain sektor pertanian, pengembangan kawasan transmigrasi juga menyoroti komoditas kelapa di Maluku Utara. Iftitah menjelaskan, “Akhir tahun ini juga akan datang investor ke Halmahera Utara untuk melihat komoditas sektor kelapa. Konsumsi kelapa di China mencapai lebih dari empat miliar butir per tahun, sementara produksinya baru mampu memenuhi sekitar satu miliar butir. Ini peluang besar bagi kita.”
Kerja sama juga diarahkan pada penguatan sumber daya manusia (SDM) di kawasan transmigrasi. Pemerintah China telah membangun Lembaga Pendidikan Kerja di Sofifi, Maluku Utara, agar program serupa juga dikembangkan di Papua Selatan.
Optimisme Gubernur Maluku Utara
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda menyampaikan optimismenya terhadap langkah konkret yang telah dirintis dalam pertemuan ini.
“Kami berdiskusi panjang tentang potensi hilirisasi kelapa, pertanian, perikanan, pendidikan, dan pariwisata. Kami sangat mengapresiasi dukungan dari Kementrans dan Pemerintah China, terutama rencana kunjungan Dubes bersama para investor ke daerah kami,” ujarnya.
Business Forum Indonesia–China
Dalam waktu dekat, Kementrans juga akan menggelar Business Forum Indonesia–China yang akan mempertemukan ratusan investor asal China dengan pemerintah daerah (pemda) untuk mempresentasikan potensi dan peluang investasi di kawasan transmigrasi.
Kegiatan tersebut bertujuan mendorong setiap daerah untuk menunjukkan potensi terbaiknya, mengingat kawasan transmigrasi tengah bertransformasi menjadi kawasan ekonomi transmigrasi terintegrasi. Potensi inilah yang akan ditawarkan kepada para investor.
“Seluruh kerja sama investasi diarahkan untuk memberdayakan masyarakat lokal. Model investasi ini akan berfokus pada modal, teknologi, dan jaminan pasar dari mitra luar, sementara tenaga kerja dan lahan tetap memberdayakan masyarakat setempat,” jelas Iftitah.
Ia menegaskan bahwa investasi hadir untuk memperkuat ekonomi lokal, bukan menggantikan peran masyarakat setempat.
Konsep Kolaborasi Lintas Negara
Menutup keterangannya, Iftitah menjelaskan konsep kolaborasi lintas negara yang saling melengkapi.
“Saya sering sampaikan, kerja sama itu bukan mencari kesamaan, tapi melengkapi perbedaan. Contohnya, China menyukai durian tapi tidak bisa menanamnya, sedangkan kita punya lahan dan tenaga kerja. Mereka bawa teknologi dan modal, kita bangun industri bersama di Indonesia. Itulah semangat konektivitas dan inklusivitas yang kami dorong dalam pembangunan kawasan transmigrasi,” tegasnya.