Kemlu Iran Tegaskan Tidak Serahkan Uranium ke AS

Kemlu Iran Tegaskan Tidak Serahkan Uranium ke AS

Penyangkalan Iran terhadap Klaim Trump tentang Uranium yang Diperkaya

Kementerian Luar Negeri Iran menyangkal klaim yang dibuat oleh mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengenai penyerahan uranium yang diperkaya dari Iran ke AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa uranium yang diperkaya tidak akan dipindahkan ke mana pun.

Uranium yang diperkaya Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun, ujar Baqaei dalam pernyataannya. Ia juga menegaskan bahwa pemindahan uranium tersebut tidak pernah menjadi topik pembahasan dalam negosiasi antara Iran dan pihak lain.

Trump sebelumnya menyebut bahwa AS akan mendapatkan "debu nuklir" atau uranium yang diperkaya dari Iran yang berada di bawah tanah, dengan AS tidak mengeluarkan biaya apa pun untuk hal tersebut. Namun, Baqaei menekankan bahwa masalah uranium Iran tidak dibahas dalam negosiasi terbaru. Fokus utama dari negosiasi saat ini adalah pada penyelesaian konflik yang sedang berlangsung.

Negosiasi sebelumnya berfokus pada masalah nuklir, tetapi sekarang fokusnya bergeser ke pengakhiran perang. Tentu saja, cakupan topik yang dibahas menjadi lebih luas dan beragam, jelasnya.

Baqaei juga menyoroti pentingnya rencana 10 poin untuk mencabut sanksi terhadap Iran. Menurutnya, masalah kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang yang dipaksakan sangat krusial.

Persediaan Uranium Iran yang Mengkhawatirkan

Iran masih memiliki jumlah besar uranium yang diperkaya hingga 60 persen, yang mendekati tingkat 90 persen yang diperlukan untuk membuat bom atom. Selain itu, Iran juga memiliki persediaan uranium yang diperkaya hingga 20 persen, yang merupakan ambang batas kritis lainnya.

Sebelum serangan AS pada Juni 2025, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan bahwa Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Angka ini jauh melebihi batas 3,67 persen yang ditetapkan oleh perjanjian tahun 2015 yang kemudian ditarik oleh AS.

Sejak serangan tersebut, nasib persediaan uranium ini tetap tidak pasti. Teheran menolak akses inspektur IAEA ke lokasi-lokasi yang hancur akibat serangan AS dan Israel.

Kritik terhadap Pernyataan Trump tentang Blokade Selat Hormuz

Baqaei juga mengkritik pernyataan Trump yang menyebut bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku sampai kesepakatan damai tercapai. Padahal, Teheran telah menyatakan bahwa Selat Hormuz sudah dibuka kembali.

Pembukaan dan penutupan Selat Hormuz tidak ditentukan di internet. Itu ditentukan di lapangan, dan angkatan bersenjata kita tahu bagaimana harus bertindak menanggapi tindakan apa pun dari pihak lain, ujar Baqaei.

Ia menambahkan bahwa apa yang disebut sebagai blokade angkatan laut pasti akan ditanggapi dengan respons yang tepat dari Iran. Blokade angkatan laut adalah pelanggaran gencatan senjata, dan Iran pasti akan mengambil tindakan yang diperlukan, katanya.

Kesimpulan

Perdebatan terkait uranium yang diperkaya dan blokade Selat Hormuz menunjukkan ketegangan yang terus berlangsung antara Iran dan AS. Penyangkalan dari pihak Iran terhadap klaim Trump menunjukkan bahwa mereka tidak berniat menyerahkan aset nuklir mereka ke pihak asing. Sementara itu, isu blokade Selat Hormuz memperlihatkan bahwa Iran siap untuk merespons tindakan AS dengan tindakan balasan yang sesuai.