JAKARTA, aiotrade
Pertumbuhan harga properti di berbagai kota di Indonesia menunjukkan tren yang berbeda-beda. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa Pontianak menjadi kota dengan kenaikan harga rumah tertinggi pada awal tahun hingga September 2025. Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR), harga rumah di Pontianak pada Kuartal III 2025 meningkat sebesar 3,74 persen secara tahunan atau year on year (yoy), naik dari 2,28 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya.
Selain Pontianak, Yogyakarta juga mengalami peningkatan harga rumah sebesar 1,92 persen (yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,84 persen (yoy) pada Kuartal II 2025. Namun, sebagian besar kota lain mengalami perlambatan dalam pertumbuhan harga properti. Contohnya, di Surabaya, harga rumah justru terkontraksi sebesar 0,02 persen (yoy), setelah sebelumnya tumbuh 0,44 persen (yoy).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Secara keseluruhan, indeks harga properti residensial di pasar primer hanya tumbuh 0,84 persen (yoy) pada Kuartal III 2025. Laju ini lebih rendah dari 0,90 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya. Perlambatan ini terutama terjadi pada rumah tipe kecil dan menengah. Pertumbuhan harga rumah tipe kecil mencapai 0,71 persen (yoy), sedangkan rumah tipe menengah tumbuh 1,18 persen (yoy). Sementara itu, rumah tipe besar hanya naik tipis dari 0,70 persen menjadi 0,72 persen (yoy).
Dari sisi penjualan, pasar properti masih menghadapi tekanan. Penjualan rumah tipe besar terkontraksi terdalam, yaitu 23 persen (yoy). Penjualan rumah tipe menengah juga turun 12,27 persen (yoy), meskipun membaik dari kontraksi kuartal sebelumnya. Namun, penjualan rumah tipe kecil justru meningkat sebesar 14,95 persen (yoy), naik dari 6,70 persen (yoy) pada Kuartal II 2025.
Secara agregat, penjualan properti residensial di pasar primer terkontraksi 1,29 persen (yoy). Meski demikian, kondisi ini lebih baik dibandingkan kontraksi 3,80 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya.
Dari sisi pembiayaan, dana internal pengembang tetap menjadi sumber utama pembangunan perumahan dengan porsi sebesar 77,67 persen. Sementara itu, dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih mendominasi pembelian rumah di pasar primer. KPR mencapai 74,41 persen dari total pembiayaan.
Tren ini menunjukkan bahwa pasar properti Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal penjualan dan pertumbuhan harga. Namun, ada indikasi peningkatan pada penjualan rumah tipe kecil yang memberikan harapan bagi sektor properti.