Kenali 'Tall Poppy Syndrome', Rasa Iri yang Suka Menghancurkan

admin.aiotrade 08 Nov 2025 4 menit 11x dilihat
Kenali 'Tall Poppy Syndrome', Rasa Iri yang Suka Menghancurkan

Mengenal Fenomena Tall Poppy Syndrome

Mendapatkan penghargaan atau pengakuan atas prestasi yang diraih sering kali menjadi momen yang dinantikan. Ini bukan sekadar ajang pamer, melainkan bentuk apresiasi terhadap usaha dan kerja keras yang telah dilakukan. Namun, di balik sinar kesuksesan tersebut, ada juga hawa panas yang bisa muncul dari orang-orang tertentu. Gosip dan sabotase seringkali menjadi senjata untuk menjatuhkan seseorang yang sedang bersinar.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dalam lingkungan sekitar saya, terdapat pemandangan yang tidak mengenakan: gosip, ajakan untuk menyerang, mencari cara untuk menjatuhkan, bahkan menguliti dari ujung kepala sampai kaki. Hal ini justru ditujukan kepada orang yang sedang bersinar, terlebih karena prestasinya. Padahal, prestasi dan kesuksesannya murni, serta orangnya dikenal baik dan suka mengayomi. Tapi, tiba-tiba mentalnya berusaha dijatuhkan oleh orang yang cemburu dan iri hati.

Lantas, apakah ada kondisi psikologis tertentu yang membuat orang-orang seperti ini bertindak demikian? Saya mencoba mencari jawaban melalui buku dan artikel psikologi. Ditemukan istilah 'Tall Poppy Syndrome' yang cukup cocok untuk menggambarkan fenomena ini.

Apa Itu Tall Poppy Syndrome?

Tall Poppy Syndrome adalah istilah psikologis yang merujuk pada tindakan meremehkan, menjatuhkan, atau menghukum kesuksesan atau pencapaian orang lain. Orang yang mengalami sindrom ini cenderung merasa bahwa orang lain tidak pantas mendapatkan keberhasilan yang mereka capai. Dampaknya bisa sangat besar, karena orang yang sudah berhasil bersinar akan merasa tertekan dan akhirnya memilih untuk menarik diri dan tidak lagi mengobarkan prestasi.

Asal Usul Tall Poppy Syndrome

Asal usul istilah ini berasal dari kisah kuno tentang seorang raja bernama Tarquin. Ketika utusan bernama Sextus datang untuk menanyakan petunjuk mengenai tugas besar, Tarquin diam. Lalu, ia pergi ke kebun miliknya dan menebas semua kepala bunga poppy tertinggi dengan pedang. Kebiasaan ini menjadi simbol untuk meruntuhkan para bangsawan yang terlihat dominan. Perbuatan ini dilakukan karena rasa kecemburuan, ketidakamanan, dan iri hati.

Tall Poppy Syndrome dalam Dunia Nyata

Orang-orang yang bersinar sering kali menjadi target dari sindrom ini. Mereka dihina, dikritik habis-habisan, diserang, dan dijatuhkan. Fenomena ini bisa terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, tempat kerja, komunitas, hingga grup pesan. Tak lagi dianggap sebagai kecemburuan biasa, tetapi masuk ke tingkat ekstrem.

Banyak cara digunakan untuk menurunkan posisi orang yang menonjol. Mulai dari menyebarkan berita kurang baik, gosip, mencari-cari kesalahan, hingga menjatuhkan secara langsung. Tujuannya adalah untuk 'menebas' atau 'mengambil alih' posisi yang menonjol agar dirinya bisa ikut terlihat.

Faktor yang Melatarbelakangi Tall Poppy Syndrome

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi sindrom ini, antara lain:

  • Rasa Iri: Rasa iri tidak hanya berupa keinginan terhadap hal yang berhasil dicapai orang lain, tetapi juga kesadaran bahwa dirinya tidak mampu mendapatkannya. Akibatnya, orang-orang ini memilih menyamarkan rasa iri dengan gaslighting, kritik, atau sabotase.
  • Budaya dalam Kelompok: Tidak semua kelompok memiliki latar positif. Ada yang berusaha menolak keunggulan orang-orang tertentu, sehingga menjadi mangsa untuk dikritik dan dikuliti.
  • Inferiority Complex: Ketika melihat orang lain sukses, pengidap sindrom ini merasa inferior atau rendah diri. Bukan mencoba meningkatkan kemampuan sendiri, tetapi justru menyalurkan perasaan tak nyaman untuk merendahkan orang yang sukses.
  • Ketidakamanan Diri: Perilaku merendahkan orang lain sering kali mencerminkan ketidakamanan diri mereka sendiri.

Bahaya dan Dampak Tall Poppy Syndrome

Tall Poppy Syndrome bisa sangat berbahaya, terutama jika dianggap sebagai 'toxic' dalam dunia modern. Perilaku ini tidak hanya menyebarkan racun, tetapi juga mengajak orang lain untuk ikut serta. Aksi 'menebas' bisa datang dari berbagai arah, termasuk dari kelompok yang terlibat.

Dampaknya bisa sangat serius, terutama bagi korban. Mereka bisa kehilangan rasa percaya diri, takut melakukan hal apa pun, dan sulit untuk berkarya kembali. Potensi-potensi yang selama ini dikembangkan bisa terkubur dalam-dalam.

Berkembang Tanpa Merusak Bunga yang Lain

Nasihat Prof. Hugo de Vries dalam buku Psikologi Perkembangan (1986) mengatakan, "Tiap-tiap jiwa mempunyai waktunya untuk berkembang dengan sebaik-baiknya." Mengapa harus merasa takut sampai-sampai merusak bunga yang lain?

Melihat seseorang berusaha diredupkan sinarnya bisa sangat miris. Sindiran, ghibahan, dan komentar yang kurang pantas bisa berubah menjadi sesuatu yang negatif di mata Tall Poppy Syndrome.

Meski kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain lakukan, tetapi dengan merusak, kita justru menghancurkan diri sendiri. Sebab, apa yang ditanam akan didapat. Justru dengan merusak, meremehkan, atau menjatuhkan, kita tidak akan menjadi lebih bersinar dan menonjol.

Travers, seorang psikolog Amerika, mengungkap bahwa jika orang lain bereaksi merendahkan atas keunggulan kita, itu mencerminkan ketidakamanan diri mereka. Berkembanglah tanpa merusak bunga yang lain. Prestasi, keunggulan, kesuksesan seharusnya bukan beban, tetapi ruang bagi orang lain untuk bersinar terang.

Spread love... Sehat-sehat dan bahagia selalu ya untuk dirimu yang lagi membaca. Terima kasih banyak sudah berkenan mampir.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan