
Dampak Bencana Banjir dan Longsor terhadap Program Makan Bergizi Gratis
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan dampak dari bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyampaikan bahwa ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak aktif dan kehilangan kontak, sehingga membuat program MBG di beberapa daerah terhambat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dadan menjelaskan, di Sumatra Utara terdapat 44 unit SPPG yang tidak aktif hingga saat ini. Sementara itu, di Aceh, lebih dari 180 unit SPPG mengalami nasib serupa. "Namun kami belum bisa memastikan apakah SPPG ini kehilangan kontak dan tidak aktif karena gangguan sinyal atau memang (dapurnya) hilang," ujarnya di Yogyakarta pada Selasa, 9 Desember 2025.
Selain unit dapur layanan yang terdampak, para relawan yang mengelola SPPG juga terkena dampaknya. Namun, jumlah pasti dari relawan tersebut belum terdata. "Para relawan SPPG ini tersebar di berbagai lokasi, nanti setelah situasi kembali normal dan masuk masa rekonstruksi akan diketahui," tambah Dadan.
Meskipun banyak SPPG yang terdampak bencana, Dadan menambahkan bahwa hingga saat ini masih ada 319 SPPG yang terus melayani pengungsi dan warga terdampak. Rinciannya adalah 105 unit SPPG yang masih bergerak di Aceh, 108 unit di Sumatera Utara, dan 66 unit di Sumatera Barat.
Menurut Dadan, semua SPPG yang masih aktif akan terus bergerak untuk memberikan layanan makanan kepada para pengungsi di pengungsian. "Karena sekolah juga masih libur, anak-anak semuanya ada di pengungsian, ibu hamil dan anak balita juga ada di pengungsian, jadi kita berikan makanan di pengungsian," ujarnya.
Dadan juga menambahkan bahwa penyaluran program MBG tetap dilakukan di sekolah-sekolah yang wilayahnya tidak terdampak bencana. Contohnya di Aceh, ada 81 sekolah yang masih melaksanakan program MBG secara normal karena lokasinya jauh dari daerah bencana. "Tapi yang berada di daerah bencana, semua dialokasikan untuk menangani pengungsi."
Tantangan dalam Pelaksanaan Program MBG
Pelaksanaan program MBG menghadapi berbagai tantangan akibat bencana alam yang terjadi. Salah satu tantangan utama adalah ketidakstabilan komunikasi dan akses ke daerah-daerah yang terkena dampak banjir dan longsor. Hal ini menyulitkan koordinasi antara pihak BGN dengan para pengelola SPPG.
Selain itu, kondisi infrastruktur yang rusak juga menjadi hambatan dalam distribusi makanan bergizi kepada masyarakat. Ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja juga menjadi perhatian khusus, terutama di daerah yang mengalami kerusakan parah.
Upaya Pemulihan dan Rekonstruksi
Dadan menyatakan bahwa pihak BGN sedang melakukan pemetaan dan evaluasi terhadap SPPG yang terdampak bencana. Proses ini akan membantu menentukan prioritas dalam pemulihan dan rekonstruksi. "Setelah situasi stabil, kami akan segera melakukan tindakan lanjutan untuk memperbaiki SPPG yang rusak dan memastikan program MBG dapat berjalan kembali secara optimal," katanya.
Selain itu, BGN juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan untuk memastikan distribusi makanan bergizi tetap berjalan. Kerja sama ini penting untuk menciptakan sistem yang tangguh dan responsif terhadap bencana.
Kesimpulan
Bencana banjir dan longsor di Sumatera telah berdampak signifikan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. Meskipun ada kendala, upaya pemulihan dan rekonstruksi terus dilakukan agar masyarakat terdampak tetap mendapatkan akses terhadap makanan bergizi. Dengan kolaborasi yang baik, diharapkan program MBG dapat kembali berjalan efektif dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.