Kepala Bulog Buka Suara soal Usulan Margin Naik 10 Persen

admin.aiotrade 29 Des 2025 2 menit 23x dilihat
Kepala Bulog Buka Suara soal Usulan Margin Naik 10 Persen

Alasan Kenaikan Margin Pengadaan Cadangan Beras Pemerintah

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan alasan mengapa pihaknya mengusulkan kenaikan margin dari pengadaan cadangan beras pemerintah (CBP) hingga 10 persen. Menurut Rizal, selama ini Bulog hanya mendapatkan margin sebesar Rp50 per kilogram (kg) beras yang sudah disalurkan. Angka tersebut sudah berlaku sejak 2014, artinya selama 11 tahun tidak ada kenaikan. Menurutnya, angka tersebut sudah tidak ideal, terlebih penugasan yang harus dijalankan oleh Bulog semakin besar.

“Masa sekian dari 2014 sampai 2025, berarti 11 tahun,” kata Rizal di kantor Bulog, Jakarta, Senin (29/12/2025).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Permintaan Perlakuan Sama dengan Pertamina dan PLN

Sebagai BUMN yang melaksanakan penugasan pemerintah dalam pengadaan CBP, pihaknya meminta perlakuan yang sama dengan PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). Rizal mengatakan, Pertamina dan PLN mendapatkan margin sebesar 10 persen dari penugasan yang dilaksanakan.

“Nah, awalnya disetujui 7 persen, awalnya 7 persen naik marginnya. Namun kami ngajukan alangkah baiknya, kita disetarakan dengan BUMN yang lain, 10 persen, baik Pertamina maupun PLN,” ucap Rizal.

Potensi Kerugian Hingga Rp900 Miliar

Dalam menyalurkan CBP, Bulog harus mengawalinya dengan pengadaan atau pembelian beras/gabah dari petani dengan harga pembelian pemerintah (HPP). Untuk proses pengadaan itu, Bulog mencari modal dari pinjaman bank-bank BUMN.

Setelah melakukan pengadaan, Bulog menyimpan beras itu di gudang sebagai CBP. Usai CBP disalurkan melalui program operasi pasar, bantuan sosial, bantuan pangan, atau bantuan bencana, Bulog baru mendapatkan pembayaran dari pemerintah atas pengadaan CBP.

Selama proses itu berlangsung, Bulog dikenakan bunga atas pinjaman dari bank-bank BUMN. Dengan margin yang kecil, dan pembayaran dari pemerintah yang dilakukan belakangan, serta biaya bunga yang terus menumpuk, Bulog berpotensi mencatatkan kerugian.

Pada 2025 ini, Bulog berpotensi mencatatkan kerugian hingga Rp900 miliar. Namun jika kenaikan margin direstui, Bulog berpotensi mengantongi keuntungan sebesar Rp2,1 triliun.

“Begitu dinyatakan marginnya naik 10 persen, otomatis itu sudah naik menjadi Rp2,1 triliun,” tutur Rizal.

Tunggu Restu BPKP

Rizal mengatakan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan telah menyetujui usulan Bulog itu. Namun, pemerintah masih harus menunggu rekomendasi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

“Kalau dari diskusi tadi cukup internal Rakortas, tapi ya harus presetujuan BPKP,” ucap Rizal.

Harapannya, sebelum 2025 berakhir kenaikan margin sebesar 10 persen itu bisa diketok.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan