
Serangan Israel ke Lebanon Mematikan dan Mengakibatkan Kekacauan Besar
Serangan besar-besaran yang dilakukan militer Israel terhadap Lebanon pada Rabu (8/4/2026) telah menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.100 warga lainnya, menurut laporan dinas pertahanan sipil negara tersebut. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berlaku.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan salah satu syarat penting dalam kesepakatan antara Iran dan AS. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antnio Guterres mengecam tindakan Israel yang mengakibatkan kematian banyak warga sipil di Lebanon.
Situasi di Beirut: Kebangkitan Kekacauan
Beirut, ibu kota Lebanon, menjadi salah satu lokasi yang diserang oleh militer Israel. Serangan udara yang terjadi menimbulkan kepanikan yang belum pernah dirasakan sebelumnya oleh warga setempat. Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) di Beirut, Irfan Effendi, mengungkapkan pengalamannya selama serangan terjadi.
Irfan mengatakan bahwa ia sempat berada di kota tersebut saat serangan terjadi. Setelah merasa tidak aman, ia memutuskan untuk meninggalkan Beirut bersama keluarganya. Alhamdulillah saya aman bersama keluarga saya di sini. Kemarin ketika ada waktu serangan saya di Beirut, cuman untuk pagi ini saya sudah meninggalkan Beirut, ujarnya.
Menurut Irfan, serangan kali ini berbeda dari pola serangan sebelumnya. Biasanya, militer Israel memberikan peringatan beberapa menit sebelum menyerang suatu lokasi. Namun, dalam serangan terbaru ini, tidak ada peringatan sama sekali. Akibatnya, banyak warga tidak sempat menyelamatkan diri.
Perubahan Pola Serangan dan Risiko Bagi Warga Sipil
Serangan yang menghantam kawasan padat di pusat kota membuat jumlah korban meningkat. Irfan menjelaskan bahwa biasanya serangan Israel menyasar wilayah selatan Beirut atau pinggiran kota yang dianggap sebagai basis Hezbollah. Namun, serangan terbaru justru terjadi di area pusat kota yang ramai aktivitas.
Itu jarang sekali kalau mereka menyerang sampai ada di tengah kota, di tempat-tempat yang ramai orang. Cuman untuk kemarin, itu serangannya tiba-tiba ada di tengah kota yang di mana tempat yang seharusnya itu tidak boleh diserang, ujar Irfan.
Perubahan pola serangan ini memperbesar risiko bagi warga sipil yang selama ini merasa relatif lebih aman di pusat kota. Situasi semakin rumit karena Beirut sebelumnya menjadi tujuan utama pengungsian bagi warga dari Lebanon selatan dan pinggiran kota. Namun kini, wilayah yang dianggap aman justru ikut diserang.
Respons Pemerintah Lebanon dan Kesulitan Warga
Pemerintah Lebanon menetapkan hari berkabung nasional pasca-serangan. Sekolah diliburkan, dan berbagai sektor seperti pabrik serta toko-toko ditutup. Namun, menurut Irfan, respons pemerintah dinilai belum mampu memberikan solusi nyata bagi warga.
Setahu saya dari informasi pagi ini juga, mereka (pemerintah Lebanon) sedang mengadakan seperti pertemuan untuk membahas masalah ini. Tapi setiap ada serangan mereka selalu melakukan seperti itu tapi tidak ada hasilnya, ujarnya.
Perlindungan untuk WNI di Lebanon
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beirut telah menetapkan status Siaga 1 sejak 2024 dan terus mengimbau WNI untuk menjauhi lokasi yang berpotensi menjadi target serangan. KBRI juga menyediakan shelter bagi WNI yang terdampak langsung konflik.
Namun, jumlah WNI yang tersisa di Lebanon saat ini tidak banyak karena sebagian telah dievakuasi. Kami di sini enggak banyak ya karena memang sudah banyak yang pergi, sudah banyak yang dievakuasi ke Indonesia. Nah, dari KBRI itu mereka memberikan tempat untuk WNI yang kena dampak dari perang ini untuk mengungsi di KBRI, di shelter, kata Irfan.
Kondisi Kota yang Penuh Sesak dan Macet
Irfan menggambarkan kondisi kota yang penuh sesak dan macet, dengan ribuan orang mencari tempat perlindungan dan tidak ada lagi lokasi yang benar-benar aman. Keadaan ini menunjukkan betapa parahnya dampak dari serangan Israel terhadap rakyat Lebanon dan para penduduk asing yang tinggal di sana.