Ketidakberdayaan Tanggul Rob Muara Angke, Proyek yang Mengganggu Kehidupan Warga Pesisir

admin.aiotrade 20 Okt 2025 3 menit 15x dilihat
Ketidakberdayaan Tanggul Rob Muara Angke, Proyek yang Mengganggu Kehidupan Warga Pesisir

Masalah Pembangunan Tanggul Mitigasi Rob di RW 22, Muara Angke

Sejumlah warga di RW 22, Muara Angke, Jakarta Utara, mengeluhkan lambatnya proses pembangunan tanggul mitigasi rob. Mereka merasa terganggu karena pengerjaan yang berlangsung terlalu lama dan kurang cepat.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Ketua RT 04, RW 22, Udin (46) menyampaikan bahwa pengerjaan tanggul mitigasi rob yang ditargetkan selesai dalam enam bulan, hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang signifikan. Dari total 1,4 kilometer yang akan dibangun, hanya 100 meter yang sudah dikerjakan, dan bahkan itu pun belum rampung sepenuhnya.

Pengamatan di lokasi menunjukkan bahwa tanggul mitigasi rob yang sedang dibangun oleh Pemprov Jakarta berupa jalan yang ditinggikan. Lebar jalan tersebut sekitar enam meter dengan ketinggian satu meter. Harapannya adalah agar air laut tidak tumpah ke perumahan warga ketika pasang.

Tidak Sesuai Kesepakatan Awal

Selain masalah waktu, warga juga menilai pengerjaan pembangunan tanggul mitigasi rob dilakukan tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Ketua LMK RW 22, Muslimin (47), menjelaskan bahwa awalnya pemegang proyek berjanji akan mengerjakan tanggul secara berangsur-angsur. Setiap pembangunan dilaksanakan setiap 50 meter terlebih dahulu, baru bergeser lagi.

Namun, setelah tiga bulan berjalan, pembangunan dilakukan secara acak dan terputus-putus. Hal ini disebabkan karena masih ada rumah warga yang melebihi Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan belum dibongkar.

Hambatan dalam Pengerjaan

Muslimin menjelaskan bahwa sebelum tanggul dikerjakan, pemegang proyek sudah mendata rumah warga yang terdampak dan area depannya harus dibongkar karena melebihi GSB. Dari sembilan meter, lebar tanggul yang dibangun menjadi enam meter. Jumlah bangunan yang terdampak sekitar 77 unit.

Dari 77 bangunan tersebut, belum semua area depannya yang melebihi GSB dibongkar. Warga sudah rela area depan rumahnya dibongkar untuk pembangunan tanggul. Namun, mereka meminta agar pemilik proyek mendanai proses pembongkaran area depan rumahnya.

"Sebenarnya mereka tidak meminta ganti rugi atau apa, cuma memang ada semacam uang bongkar buat tukang lah, itu sebenarnya yang diharapkan oleh warga," ujar Muslimin.

Permintaan warga itu sudah disampaikan Muslimin dan pengurus RW lainnya ke pihak proyek, tetapi hingga kini belum mendapat respon.

Gangguan pada Aktivitas Ekonomi

Terhambat dan lambatnya pengerjaan tanggul mitigasi rob membuat aktivitas perekonomian warga di Muara Angke terganggu. Muslimin menyampaikan bahwa selain terdampak bangunan, akses lalu lalang warga atau ekonomi sehari-hari juga terganggu.

Banyak warga Muara Angke yang berprofesi sebagai pengusaha ikan. Hal ini membuat jalan di Muara Angke banyak dilalui mobil kontainer untuk mengangkut ikan sehari-harinya. Namun, tiga bulan belakangan ini, akses jalan yang biasa dilalui mobil pengangkut ikan itu sulit dilewati karena adanya pembangunan tanggul mitigasi rob.

Alhasil, banyak warga yang punya usaha terpaksa melakukan bongkar muat ikan di malam hari.

Harapan Warga

Terganggunya aktivitas perekonomian membuat sejumlah warga berharap pengerjaan tanggul mitigasi rob segera rampung. Udin menyampaikan bahwa proyek ini dari warga sangat setuju karena bisa mengurangi dampak air dari laut masuk ke pemukiman.

Hanya saja, warga merasa tidak nyaman karena pengerjaannya lambat. Mereka ingin agar pengerjaan dipercepat agar usaha warga bisa berjalan normal.

Cepat selesainya pembangunan tanggul membuat jalan di Muara Angke kembali mudah dilalui sehingga aktivitas usaha warga bisa kembali normal. Selain itu, warga juga berharap agar pemegang proyek bisa memberikan dana untuk membongkar area depan rumahnya yang melebihi GSB. Dengan begitu, proses pengerjaan tanggul mitigasi rob bisa berjalan sesuai rencana dan diharapkan bisa selesai dalam enam bulan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan