
Masalah Pengerjaan Tanggul Mitigasi Rob di Muara Angke
Di RW 22, Muara Angke, Jakarta Utara, sejumlah warga mengeluhkan lambatnya proses pembangunan tanggul mitigasi rob. Mereka merasa terganggu karena pengerjaan yang berjalan sangat lambat dan tidak sesuai dengan rencana awal.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Keluhan Warga Terhadap Proses Pembangunan
Ketua RT 04, RW 22, Udin (46) menyampaikan bahwa pengerjaan tanggul mitigasi rob di area tersebut ditargetkan rampung dalam waktu enam bulan. Namun, setelah tiga bulan berjalan, pengerjaannya belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Dari total panjang tanggul sepanjang 1,4 kilometer, hanya sekitar 100 meter yang telah dikerjakan, dan bahkan itu pun belum sepenuhnya selesai. Pengamatan di lokasi menunjukkan bahwa tanggul yang dibangun berupa jalan yang ditinggikan. Lebar jalan sekitar enam meter dengan ketinggian satu meter, yang diharapkan dapat mencegah air laut masuk ke perumahan warga saat pasang.
Ketidaksesuaian dengan Kesepakatan Awal
Selain lambat, warga juga menilai pengerjaan tanggul tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Muslimin, Ketua LMK RW 22, mengatakan bahwa di awal, pemegang proyek berjanji akan mengerjakan tanggul secara berangsur-angsur, yaitu setiap 50 meter harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum berpindah ke bagian berikutnya.
Namun, setelah tiga bulan berjalan, pembangunan dilakukan secara acak dan terputus-putus. Hal ini disebabkan oleh adanya rumah warga yang masih melebihi Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan belum dibongkar.
Tantangan dalam Pembebasan Lahan
Muslimin menjelaskan bahwa sebelum pengerjaan dimulai, pemegang proyek sudah mendata rumah-rumah yang terdampak dan menentukan bahwa area depannya harus dibongkar karena melebihi GSB. Dari sembilan meter lebar tanggul, hanya enam meter yang dibangun. Sebanyak 77 bangunan terdampak, tetapi belum semua area depannya dibongkar.
Warga sebenarnya bersedia membongkar area depan rumah mereka untuk pembangunan tanggul. Namun, mereka meminta agar pemilik proyek memberikan dana untuk biaya bongkar tukang. Meski permintaan ini sudah disampaikan ke pihak proyek, hingga kini belum ada respon.
Gangguan pada Aktivitas Ekonomi
Lambatnya pengerjaan tanggul juga menyebabkan gangguan pada aktivitas ekonomi warga. Banyak warga Muara Angke yang berprofesi sebagai pengusaha ikan, sehingga jalanan sering dilalui mobil kontainer untuk mengangkut ikan. Namun, akibat pembangunan tanggul, akses jalan menjadi sulit dilewati.
Akibatnya, banyak warga yang memiliki usaha terpaksa melakukan bongkar muat ikan di malam hari. Udin mengatakan bahwa hal ini sangat mengganggu karena kerjanya lama dan kurang cepat. Pengusaha pergudangan ekspor ikan merasa terganggu karena akses yang sulit.
Harapan Warga untuk Penyelesaian Cepat
Meskipun warga sangat mendukung proyek ini karena dianggap bisa mengurangi dampak air laut masuk ke pemukiman, mereka berharap pengerjaan bisa dipercepat. Dengan selesainya pembangunan tanggul, jalan di Muara Angke kembali mudah dilalui, sehingga aktivitas usaha warga bisa kembali normal.
Selain itu, warga juga berharap agar pemegang proyek memberikan dana untuk membongkar area depan rumah yang melebihi GSB. Dengan demikian, proses pengerjaan tanggul mitigasi rob bisa berjalan sesuai rencana dan diharapkan selesai dalam enam bulan.