Ketidaktahuan Bukanlah Malu

admin.aiotrade 10 Nov 2025 3 menit 15x dilihat
Ketidaktahuan Bukanlah Malu

Mengakui Ketidaktahuan Bukanlah Kekurangan

Di masa kecil, saya sering mendapatkan respons seperti “Hahaha” dan “Pfftttt” ketika tidak bisa menjawab pertanyaan guru di Sekolah Dasar (SD). Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), tawa ejekan itu berubah menjadi kalimat yang lebih menyakitkan: “Masa gitu aja gak tahu”. Kalimat sederhana ini memiliki kekuatan untuk membuat seseorang malu bertanya dan malu mengakui ketidaktahuan. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa di sekolah, terkadang orang-orang lebih fokus pada cara terlihat pintar daripada benar-benar memahami pelajaran.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Duduk di bangku terdepan, memperhatikan guru dengan tatapan tajam, angkat tangan dan ajukan pertanyaan, lalu pulang dan lupakan. Situasi semacam ini membuat kita belajar menjawab dengan cepat, bukan berpikir dalam. Setiap kali mengatakan “tidak tahu”, rasanya seperti dihina, bukan kesempatan untuk belajar. Ironisnya, semakin kita berusaha menutupi ketidaktahuan, semakin jauh kita dari kebenaran.

Trauma akan hujatan atas ketidaktahuan berdampak pada karakter saya yang terlalu takut terlihat bodoh saat kuliah S1. Suatu hari di tahun pertama kuliah, ketika sedang presentasi tentang topik kualitas pendidikan di Indonesia, saya salah menyebutkan bahwa anggaran pendidikan nasional adalah 30% dari APBN. Akibatnya, dosen mengoreksi dengan menyebutkan angka yang benar, yaitu 20%. Namun, alih-alih mengakui kesalahan, saya justru berkata, “Sekarang sudah naik, bu.” Jawaban refleks yang lebih didorong oleh gengsi daripada logika.

Namun, segalanya berubah ketika saya masuk ke bangku S2. Saat itu, saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di salah satu universitas di Britania Raya. Di hari pengenalan kampus, dosen saya menampilkan quote di layar yang bertuliskan:

There’s no shame in not knowing

atau tidak perlu malu untuk tidak tahu. Kalimat ini menjadi kalimat pertama yang ditampilkan dan disampaikan kepada para mahasiswa. Bahwa, tidak tahu bukanlah aib, tidak tahu bukanlah kelemahan, tetapi merupakan awal dari pembelajaran sejati. Quote ini kemudian diikuti dengan kalimat lain seperti:

There’s no shame in not knowing, the shame is in not being willing to learn

atau

tidak perlu malu karena tidak tahu, malulah kalau tidak mau belajar

(Allison Crogon), dan

there’s no shame in not knowing, the only shame is to pretend that we know everything

yang berarti

tidak perlu malu karena tidak tahu, karena yang memalukan adalah pura-pura tahu segalanya

(Richard Feyman).

Mendengarnya, saya merasa kagum, tersentuh, lega, dan diterima sebagai manusia. Di jalan pulang menuju flat, saya berkontemplasi diiringi dedaunan yang berjatuhan di musim semi bak di film-film. Menyadari satu hal: Bukankah kita belajar karena tidak tahu? Bukankah pengetahuan datang dari ketidaktahuan? Lalu mengapa kita sering mengutuk ketidaktahuan?

Kita bukan Tuhan yang Mahatahu, bukan pula orang ketiga serba tahu, kita tidak tahu-tahu lahir dan tahu semuanya. Kapasitas otak kita terbatas, dan sangat wajar jika A mengetahui sesuatu yang tidak diketahui B, begitupun sebaliknya. Informasi, pergaulan, dan lingkungan yang kita miliki berbeda dengan orang lain, sehingga apa yang tampak jelas bagi kita bisa jadi tampak asing bagi yang lain. Tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi hanya karena berbeda pengetahuan, yang membedakan hanyalah pengalaman dan kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu, menerima pertanyaan, kesalahan, dan ketidaktahuan orang lain sama halnya dengan menerima bahwa kita sendiri tidak tahu segalanya.

Ketidaktahuan Adalah Proses Belajar

Ketidaktahuan bukanlah aib, melainkan proses belajar. Bukankah akan lebih ringan untuk jujur mengakui ketidaktahuan dan bertanya untuk belajar, daripada berpura-pura tahu dan menipu diri sendiri? Sudah saatnya kita menciptakan iklim belajar dan diskusi yang tidak menghakimi atau mengejek, serta saling mengingatkan ketika mulut sudah kelepasan. Dengan begitu, kita membangun budaya di mana pertanyaan menjadi kekuatan, bukan kelemahan, dan ketidaktahuan menjadi titik awal untuk tumbuh, bukan terbunuh.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan