Ketika Andri dan Untung Melestarikan Musik Lawas di Blok M

admin.aiotrade 12 Nov 2025 6 menit 34x dilihat
Ketika Andri dan Untung Melestarikan Musik Lawas di Blok M

Dunia Musik Fisik di Bawah Tanah Blok M Square

Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Blok M dan deretan mal modern, tersembunyi sebuah dunia yang tidak banyak berubah sejak dua dekade lalu. Dunia itu berada di basement Blok M Square, sebuah labirin sempit yang penuh dengan ratusan ribu kaset, CD, dan vinyl. Di sana, Andri (39) menjadi salah satu penjaga ingatan musik yang bertahan di tengah tantangan streaming digital.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dari Operator Mesin ke Pedagang Kaset

Andri awalnya bekerja sebagai operator mesin di sebuah pabrik. Namun, hidup membawanya ke dunia yang ia cintai. “Awalnya mertua gue jualan di Taman Puring. Dulu gue operator mesin. Karena kerjanya santai, kalau ada waktu lenggang gue ikut, akhirnya ikut dagang,” kata Andri.

Pendapatannya pun berubah drastis. Kini dia bisa mendapatkan penghasilan lebih dari Rp 2 juta per minggu. “Dulu gaji pabrik cuma UMR. Dagang seminggu dapet lebih dari gaji pabrik.”

Pandemi sempat membuatnya terpuruk. Mal tutup tiga bulan, penjualan berhenti total. Namun Andri tidak menyerah. Ia mengandalkan kemampuan lamanya berjualan online. “Online dari jaman Facebook gue udah. Dari Facebook, Instagram, sampai marketplace.”

Kolektor, Penggemar, dan Pembeli

Pembeli Andri datang dari berbagai generasi dan motif. Ada kolektor serius, ada sekadar hobi, ada pula yang cuma ikut tren. “Ada yang beli sekali, bahkan nggak punya player-nya. Tapi dia beli kaset atau CD ya berarti kan ikut-ikutan temen.”

Andri sama sekali tidak keberatan. Baginya, pasar musik fisik hidup justru dari keberagaman pembeli. Salah satu tanda regenerasi adalah anak-anak muda yang datang mencari rilisan baru dari band indie. “Band-band kayak Hindia, Barefood itu narik pasar baru: anak-anak sekolah, Gen Z. Dari situ mereka ngulik yang lebih dalam lagi.”

Lucunya, tren anak muda itu justru membawa mereka kembali ke lagu-lagu lama. “Yang paling sering dicari sekarang Britpop, Oasis, Radiohead, Blur. Beatles juga jangan ditanya. Anak SMP pun tetap cari.”

Ruang Hidup Musik Fisik di Blok M

Lorong di mana Andri berjualan bukan sekadar tempat dagang melainkan ekosistem budaya. Rak-rak tinggi memadati ruang. Setiap kios tampak seperti gudang kecil dengan tumpukan barang yang seolah tidak habis-habis.

Pengunjung berjalan pelan, membuka sampul kaset dengan hati-hati, atau mengeluarkan ponsel untuk mengecek daftar lagu. Percakapan kecil terdengar di setiap tikungan: tawar-menawar, diskusi genre, atau cerita nostalgia tentang lagu pertama yang mereka beli.

Di pojok kios Andri, beberapa vinyl masih menunggu untuk dibersihkan. “Kalau baru dapet, gue bersihin. Gue bersihin dulu baru display. Kalau band-band tertentu yang gue suka, gue play dulu takutnya keliatan bagus tapi pitanya rusak.”

Andri menganggap setiap rilisan seperti benda hidup. Ia tahu mana yang harus diperlakukan lebih hati-hati, mana yang bisa langsung dipajang, dan mana yang harus disimpan. Meski tidak pernah menghitung secara pasti, Andri menyadari dagangannya cukup menutupi hidup. “Mungkin 3–5 juta ke atas, kalau ada stok baru yang bagus, bisa dua-tiga kali lipat.”

Rilisan Langka dan Kisah di Baliknya

Kisah-kisah unik sering muncul dari transaksi kaset dan vinyl. Ada keluarga yang menjual koleksi orang tuanya. Ada pedagang antik keliling menawarkan barang-barang yang ditemukan di gudang. Ada pula pembeli yang kembali mencari rilisan tertentu bertahun-tahun setelah membeli player pertamanya.

“Masih ada regenerasi anak SMP sekarang dengerin koleksi bokapnya.” Namun kisah paling ekstrem tetap soal vinyl langka. “Vinyl rilisan awal White Shoes gue pernah jual lebih dari 3 juta. Padahal awal rilisnya cuma sekitar 500 ribuan.”

Keberadaan barang langka semacam itu membuat Blok M Square terasa seperti tambang musik tua yang masih menyimpan kejutan.

Dari Kolektor Menjadi Pelapak Musik Lawas

Sedikit berbeda dengan Andri, Untung (55), pemilik lapak Hysteria Musik adalah seorang kolektor musik yang menjadikan hobi lamanya sebagai usaha berkelanjutan. “Dulu kan saya anak kantoran, kerja biasa. Pas berhenti dari kantoran, ya akhirnya mulai serius di sini. Awalnya kan saya memang koleksi. Dari dulu hobi ngumpulin. Jadi ya mikir, kalau nggak koleksi, ngapain lagi? Dari hobi itu akhirnya jadi usaha juga.”

Bagi para langganan, sosok Untung bukan sekadar pedagang, melainkan “arsip hidup” yang memahami sejarah setiap rilisan yang ia jual. Ia memulai bisnis ini pada 2014, setelah bertahun-tahun mengumpulkan kaset untuk koleksi pribadi.

“Dulu saya hanya punya ratusan kaset untuk dikoleksi. Namun, karena kita ingin berjualan, kaset tambahan kita dapatkan dari supplier. Jadi kalau ada orang yang menawarkan kaset untuk dijual dan masih bagus, bisa kita beli.”

Dari Nike Ardilla Sampai Britpop

Dari Nike Ardilla sampai Britpop turut jadi incaran. Menurut Untung, permintaan kaset pita datang dari berbagai segmen usia, anak muda, mahasiswa, hingga karyawan. Setiap kelompok memiliki genre yang mereka kejar, meski beberapa nama tetap menjadi primadona.

“Sebetulnya kalau yang paling banyak dicari itu segmented ya. Jadi tergantung orangnya dia mau nyari apa. Macem-macem, semua sih sebenernya. Untuk rilisan Indonesia itu biasanya Chrisye, Fariz RM juga banyak dicari. Jadi memang selera orang beda-beda.”

Selain Nike Ardilla dan Chrisye, kaset dari Dewa 19, Sheila on 7, hingga band-band luar seperti Oasis dan Radiohead juga termasuk daftar rilisan paling diburu.

Rilisan Langka Bernilai Tinggi

Di balik tumpukan kaset yang tertata di rak kayu, beberapa album memiliki nilai historis sekaligus harga yang cukup tinggi. Untung menyebut salah satu kaset paling mahal yang ia jual berasal dari ikon pop Indonesia era 90-an.

Dari seluruh koleksi Hysteria, album “Bintang Kehidupan” milik Nike Ardilla menjadi yang paling bernilai. Kaset tersebut bisa mencapai harga Rp300.000, jauh melampaui rilisan lain yang rata-rata berada pada kisaran Rp40.000 untuk band-band.

“Yang paling murah Rp40.000. Itu standar lah untuk kaset atau barang-barang umum juga tergantung kondisi.”

Bertahan Lewat Media Sosial

Selain pelanggan yang datang langsung ke Blok M Square, Hysteria Music aktif melalui Instagram dan TikTok. Untung kerap mengunggah video unboxing kaset, menampilkan rilisan langka, mengulas album, hingga membagikan momen dengan pembeli.

“Ada juga Instagramnya biasanya ya ulas album, sering juga ada pembeli kita buat video, ya testimoni lah.” Konten-konten itu berhasil menarik perhatian generasi muda yang tidak tumbuh bersama walkman atau CD player, namun justru tertarik pada nilai nostalgik dan estetika musik fisik.

Perjalanan dari Bogor ke Blok M

Menjaga toko bukan perkara mudah. Setiap hari, Untung harus menempuh perjalanan dari rumahnya di Bogor menggunakan kereta, kemudian dilanjutkan dengan busway menuju Blok M. Setiap pukul 12.00, ia membuka rolling door tokonya, dan menutupnya kembali sekitar pukul 18.00.

“Saya tinggal di Bogor, Cimanggu, tiap hari ya naik kereta ke sini, kadang libur ga nentu liburnya juga.” Rutinitas itu ia jalani hampir setiap hari tanpa mengeluh, demi menjaga keberlangsungan wadah kecil bagi para pecinta rilisan fisik.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan