
Pengalaman Menulis yang Tidak Terduga
Saya tidak pernah membayangkan bahwa sebuah artikel yang saya tulis dengan penuh hati, berjudul "Danantara: Menyulam Harapan di Tengah Jebakan Sistemik Indonesia", akan muncul dalam jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh mahasiswa Universitas Brawijaya. Namun, hal yang lebih tak terduga lagi adalah fakta bahwa tulisan itu disebutkan, tetapi bukan atas nama saya. Nama penulisnya diganti, dan yang lebih ironis lagi, tautan yang mereka cantumkan tetap mengarah ke artikel saya sendiri.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Awalnya, saya mengira ini hanya kesalahan kecil dalam sitasi. Namun, setelah saya memeriksa dengan lebih teliti, kenyataannya jauh lebih menyakitkan. Di catatan kaki dan daftar pustaka, nama "Tuhombowo Wau" telah berubah menjadi "Dian Erika." Sebuah nama yang sama sekali tidak tercantum di sumber aslinya, padahal alamat tautannya jelas-jelas menuju laman aiotradesaya.
Saya berhenti sejenak di depan layar. Bukan karena marah semata, tapi karena sedih. Bagaimana mungkin, di lingkungan akademik yang seharusnya menjunjung tinggi etika dan integritas ilmiah, hal seperti ini masih terjadi? Mahasiswa yang tengah belajar meneliti dan menulis, justru menghapus nama penulis asli dari sumbernya, seolah nama itu tidak penting, seolah penulis hanyalah tempelan.
Saya bukan orang yang menuntut penghargaan berlebihan. Tetapi setiap penulis tahu: nama adalah bagian dari jiwa tulisan. Menghapus nama seseorang dari karyanya sama saja dengan mencabut napas dari tubuh yang masih hidup. Tulisan lahir dari pergulatan batin, pengalaman, dan kejujuran; bukan sekadar rangkaian kalimat yang bisa disalin lalu ditempeli nama lain.
Ironisnya lagi, ini terjadi di universitas besar, kampus yang dikenal melahirkan cendekia dan pemikir. Tapi di balik nama besar itu, ada mahasiswa yang menulis jurnal ilmiah dengan cara menghapus identitas penulis aslinya. Apakah mereka benar-benar tidak tahu etika penulisan? Atau pura-pura tidak tahu?
Saya tidak ingin sekadar mengutuk. Saya ingin mengingatkan: di mana posisi kejujuran di dunia akademik kita hari ini? Apakah nilai A lebih penting daripada nilai moral? Apakah gelar sarjana lebih berharga daripada nama baik seorang penulis?
Tulisan ini bukan sekadar pelampiasan, melainkan pengingat bagi siapa pun yang menulis, apakah mahasiswa, dosen, jurnalis, atau penulis amatir: etika adalah fondasi. Tanpa kejujuran, tulisan kehilangan maknanya. Dan tanpa integritas, ilmu kehilangan martabatnya.
Saya menulis untuk memahami dunia, bukan untuk dicuri. Dan saya berharap mereka yang menyalin tulisan saya dengan nama orang lain, suatu hari nanti akan menyadari bahwa kejujuran jauh lebih berharga daripada sekadar memenuhi syarat publikasi jurnal.
Karena di ujung pena setiap penulis yang jujur, selalu ada hati. Dan di ujung pena mereka yang menyalin tanpa izin, hanya ada kekosongan.