
Penolakan Konser di Aceh Dikaitkan dengan Pelanggaran Syari'at Islam
Aceh, sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang secara hukum menerapkan Syari'at Islam, menjadi tempat yang kaya akan nilai-nilai keislaman. Namun, beberapa aktivitas publik seperti konser dikritik karena dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip syari'at tersebut. Ketua Pemuda Partai Adil Sejahtera (PAS) Aceh, Tgk Fajri M Isa, menyatakan sikap tegas menolak seluruh bentuk penyelenggaraan konser di wilayah Aceh.
Konser Dianggap Mengancam Nilai Kebudayaan dan Moral
Menurut Tgk Fajri, konser-konser yang digelar di Aceh tidak hanya tidak memiliki manfaat sosial dan ekonomi yang signifikan, tetapi juga berpotensi merusak moral masyarakat. Ia menegaskan bahwa setiap kali konser diadakan, suasana yang tercipta justru menjadi ajang campur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa batasan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Kita sudah melihat berulang kali, tidak ada panitia konser yang betul-betul menjaga adab Syari’at. Tidak ada yang betul-betul mampu melakukan pemisahan antara laki-laki dan perempuan, dan suasananya justru mendekati perbuatan maksiat yang diharamkan,” ujarnya.
Tgk Fajri menambahkan bahwa Aceh adalah daerah yang memiliki landasan moral yang kuat, yaitu Syari’at Islam. Oleh karena itu, setiap kegiatan publik harus sesuai dengan prinsip keislaman dan tidak bertentangan dengan norma yang telah menjadi ruh kehidupan masyarakat Aceh sejak masa Sultan Iskandar Muda.
Pentingnya Menjaga Nilai-nilai Syari'at
Ia menegaskan bahwa penolakan terhadap konser bukan berarti menolak seni secara total. Islam, menurutnya, tidak menolak seni dan budaya selama seni tersebut bernilai dakwah dan memperkuat moralitas masyarakat.
“Seni dalam Islam itu ada, tapi harus dalam batas adab dan nilai. Kita bisa buat kegiatan nasyid, zikir akbar, atau festival budaya Islam. Tapi bukan konser yang mengundang muda-mudi bercampur, bergoyang, dan melanggar kehormatan diri,” ujar Tgk Fajri.
Dalam perspektif maqāṣid asy-syarī‘ah, segala kebijakan dan aktivitas masyarakat harus menjaga lima hal pokok yaitu: agama (ḥifẓ ad-dīn), jiwa (ḥifẓ an-nafs), akal (ḥifẓ al-‘aql), keturunan (ḥifẓ an-nasl), dan harta (ḥifẓ al-māl). Konser-konser di Aceh justru mengancam beberapa dari maqāṣid tersebut.
Kritik Terhadap Manfaat Sosial dan Ekonomi
Tgk Fajri juga menilai bahwa kegiatan konser tidak memiliki manfaat sosial dan ekonomi yang berarti bagi masyarakat Aceh. Menurutnya, setelah konser usai, yang tersisa hanyalah sampah, kerusuhan kecil, dan kerusakan moral.
“Kalau bicara ekonomi, lebih baik kita adakan kegiatan ekonomi kreatif berbasis syari’at, bazar halal, festival literasi Islam, atau lomba seni dakwah. Itu jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat dan sejalan dengan nilai Aceh,” paparnya.
Peran Pemerintah dan Aparat
Ia juga mengingatkan para pejabat dan aparat agar tidak mudah memberi izin terhadap kegiatan yang berpotensi menimbulkan pelanggaran syari’at. Selain itu, ia mengapresiasi MPU Aceh yang tidak keluarkan izin konser.
“Kita punya qanun syari’at. Jangan biarkan qanun itu jadi tulisan mati. Kalau izin konser tetap dikeluarkan, artinya kita sedang menutup mata terhadap kemungkaran yang jelas di depan mata,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Harapan untuk Generasi Muda Aceh
Tgk Fajri menekankan bahwa generasi muda Aceh seharusnya diarahkan kepada kegiatan yang menumbuhkan iman dan tanggung jawab sosial, bukan hiburan yang mengikis nilai-nilai Islam.
“Kita ingin generasi muda yang kuat, berzikir di malam hari, berjuang di siang hari, bukan generasi yang terbuai oleh dentuman musik dan cahaya lampu konser,” katanya.
Akhirnya, ia menyerukan agar seluruh masyarakat Aceh, terutama kalangan pemuda, bersatu menjaga marwah negeri ini.
“Aceh ini dibangun atas darah para syuhada yang memperjuangkan Islam. Jangan sampai kita khianati warisan itu hanya karena ingin bersenang-senang satu malam. Jika Syari’at rusak, maka hilanglah keberkahan negeri ini,” tutup Tgk Fajri M Isa.