
Proyeksi Pertumbuhan Pendanaan Hijau di Indonesia
Pendanaan hijau atau green financing di Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan pada tahun 2026. Prediksi ini muncul sebagai respons terhadap kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memaksa bank-bank besar untuk meningkatkan transparansi dalam pembiayaan berkelanjutan. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan sektor pendanaan hijau.
Katharine Grace, Ketua Indonesia Corporate Secretary Association (ICSA), menyampaikan bahwa sistem perbankan nasional kini lebih sadar akan pentingnya pengungkapan informasi keberlanjutan. Ia menjelaskan bahwa porsi green loan di sejumlah bank besar telah meningkat dari sekitar 15–18 persen menjadi di atas 20 persen.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Sekarang, pengungkapan keberlanjutan harus transparan. Bank sistemik itu sebelumnya naik 15–18 persen, sekarang sudah banyak yang di atas 20 persen. Jadi memang diminta terus meningkat,” ujar Grace dalam acara Green Economic Outlook 2026 di Jakarta Selatan, Kamis (11/12/2025).
Grace menilai bahwa sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan pendanaan hijau. Namun, ia juga mengingatkan bahwa UMKM masih menghadapi tantangan utama, yaitu rendahnya kelayakan kredit (bankability). Banyak pelaku usaha kecil belum memenuhi standar yang diperlukan untuk mendapatkan pembiayaan ramah lingkungan.
“Banyak UMKM belum bankable, sehingga risikonya tinggi. Kita harus tetap berpihak pada UMKM, tapi harus ada mitigasi dan pemantauan yang lebih ketat. Kalau akhirnya kreditnya mahal, itu tidak mendukung,” jelasnya.
Bank Indonesia disebut sedang menyiapkan program UMKM Green untuk memperluas akses kredit ramah lingkungan bagi pelaku usaha kecil. Namun, Grace menekankan bahwa program tersebut harus diimbangi dengan langkah mitigasi risiko dan pemantauan yang lebih ketat agar tidak memberatkan UMKM.
Selain itu, Grace juga menyebut bahwa masih banyak perusahaan yang belum menerapkan energi terbarukan dalam aktivitas operasionalnya. Padahal, perbankan telah siap untuk meningkatkan pembiayaan hijau. Ia menegaskan bahwa inklusivitas dalam sektor ini tidak hanya bergantung pada bank, tetapi juga pada permintaan pasar yang perlu digerakkan.
Peran Investasi Berkelanjutan dalam Ekonomi Nasional
Co-Founder & CEO Olahkarsa, Unggul Ananta, menambahkan bahwa investasi berkelanjutan global saat ini mengalami pertumbuhan signifikan. Berdasarkan laporan Sustainability Reality dari Ford & Stanley, imbal hasil investasi berkelanjutan mencapai 12,5 persen, lebih tinggi dibanding dana tradisional yang tumbuh 9,2 persen.
“Data ini menunjukkan ESG bukan hanya baik untuk bumi dan masyarakat, tetapi juga memperkuat imunitas ekonomi dan kinerja finansial perusahaan,” jelas Unggul.
Ia menegaskan bahwa ESG kini berkembang dari sekadar kewajiban kepatuhan menjadi instrumen manajemen risiko serta katalis pertumbuhan bagi perusahaan dan masyarakat. Dengan demikian, sektor pendanaan hijau tidak hanya berdampak lingkungan, tetapi juga berkontribusi positif terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Tantangan dan Peluang di Sektor UMKM
Meski UMKM memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan pendanaan hijau, mereka masih menghadapi berbagai kendala. Rendahnya kelayakan kredit menjadi hambatan utama. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha kecil.
Program-program seperti UMKM Green yang disiapkan oleh Bank Indonesia dapat menjadi solusi untuk membuka akses pembiayaan yang lebih luas. Namun, implementasinya harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan risiko yang lebih besar bagi pelaku usaha.
Dalam konteks yang lebih luas, peningkatan pendanaan hijau di Indonesia juga menjadi bagian dari upaya global dalam mencapai target pembangunan berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan partisipasi aktif dari sektor swasta, Indonesia dapat menjadi contoh dalam pengembangan ekonomi hijau.
Kesimpulan
Pendanaan hijau di Indonesia memiliki prospek cerah, terutama dengan adanya kebijakan yang mendorong transparansi dan penggunaan sumber daya berkelanjutan. Meskipun UMKM masih menghadapi tantangan, mereka memiliki peran penting dalam mempercepat pertumbuhan sektor ini. Dengan strategi yang tepat dan komitmen bersama, Indonesia dapat memperkuat posisi sebagai negara yang berkomitmen pada ekonomi hijau.