Keyakinan Konsumen Tekan Daya Beli, Ini Saham yang Terancam

admin.aiotrade 09 Okt 2025 3 menit 9x dilihat
Keyakinan Konsumen Tekan Daya Beli, Ini Saham yang Terancam


Jakarta – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan September 2025 berada di level 115. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 117,2. Berdasarkan data yang dirilis oleh Pusat Data aiotrade.app, IKK pada periode tersebut mencapai level terendah sejak Mei 2022. Sebelumnya, posisi terendah tercatat pada April 2022 dengan angka 113,1.

Sektor Konsumer Discretionary Paling Rentan

Equity Analyst dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menjelaskan bahwa emiten di sektor konsumer discretionary atau yang bergantung pada daya beli masyarakat untuk produk non esensial cenderung paling rentan terhadap penurunan keyakinan konsumen. Ia menyebut beberapa perusahaan yang termasuk dalam kategori ini, antara lain:

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
  • PT Mitra Adiperaksa Tbk (MAPI)
  • PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES)
  • PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA)

Menurut Hari, penjualan produk fesyen, elektronik, dan hobi biasanya mengalami penurunan ketika daya beli masyarakat melemah. Hal ini menjadi alasan utama mengapa sektor ini lebih rentan terhadap fluktuasi IKK.

Emitter Consumer Staples Lebih Stabil

Sebaliknya, emiten di sektor consumer staples yang menjual produk kebutuhan dasar seperti makanan dan minuman cenderung lebih tahan terhadap pelemahan keyakinan konsumen. Beberapa perusahaan yang masuk dalam kategori ini antara lain:

  • PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
  • PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
  • PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
  • PT Sido Muncul Tbk (SIDO)

Hari menyarankan investor untuk fokus pada emiten konsumer yang bersifat defensif. Ia juga memperingatkan untuk waspada terhadap sektor ritel dan lifestyle, serta memanfaatkan koreksi sebagai kesempatan akumulasi jangka menengah.

Strategi untuk Menghadapi Pelemahan Permintaan

Hari menambahkan bahwa strategi yang bisa diterapkan oleh emiten retail dan lifestyle dalam menjaga marjin saat permintaan melemah meliputi:

  • Efisiensi operasional
  • Perluasan kanal online untuk menekan biaya distribusi
  • Diversifikasi jenama dan segmen harga agar tetap menjangkau konsumen lebih luas

Prospek Sektor Konsumer Masih Positif

Meskipun terjadi penurunan IKK, prospek sektor konsumer masih terbilang positif. Hal ini didorong oleh upaya pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi masyarakat. Salah satu program yang digulirkan adalah "8+4+5", yang melanjutkan bantuan pangan selama dua bulan ke depan.

Program ini mencakup penyaluran 10 kilogram beras per keluarga pada Oktober dan November senilai Rp 7 triliun. Menurut Hari, hal ini akan memberikan dukungan tambahan bagi konsumen, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.

Rekomendasi Saham

Hari merekomendasikan investor untuk mencermati saham-saham berikut dengan target harga masing-masing:

  • INDF dengan target harga Rp 11.200 per saham
  • ICBP dengan target harga Rp 12.600 per saham

Pandangan dari Kiwoom Sekuritas

Dari sisi lain, Liza Camelia Suryanata, Head of Equity Research dari Kiwoom Sekuritas, juga menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, emiten di sektor konsumer discretionary seperti fesyen, elektronik, dan leisure lebih sensitif terhadap pelemahan IKK. Beberapa perusahaan yang termasuk dalam kategori ini antara lain:

  • MAPI
  • MAPA
  • ERAA

Liza menjelaskan bahwa penurunan IKK dapat memicu penundaan belanja besar dan peningkatan promo yang berdampak pada penurunan marjin. Sentimen investor terhadap sektor ini masih berhati-hati dalam jangka pendek.

Kondisi Sektor Consumer Staples

Di sisi lain, sektor consumer staples seperti perusahaan makanan dan minuman pokok cenderung lebih tahan karena permintaan inelastis. Namun, tekanan pada sektor ini lebih banyak terjadi melalui fenomena trading down, yaitu pergeseran konsumen ke produk kemasan kecil atau private label.

Liza juga menilai bahwa posisi underweight pada sektor konsumer discretionary masih rasional sampai terlihat bukti pemulihan trafik dan marjin. Sementara itu, emiten staples dan ritel kebutuhan harian lebih layak dipertahankan karena lebih cepat merasakan efek stimulus dan bersifat lebih resilien.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan