Perjalanan Ki Sudirman dalam Melestarikan Wayang Kulit Madura
Di desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Ki Sudirman dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam melestarikan seni wayang kulit Madura. Senyumnya mengembang saat ia menerima kunjungan ke rumah sederhananya. Ia menyambut dengan penuh semangat sambil berkata, "Maaf, tempatnya masih berantakan."
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sambil masuk ke dalam rumah, ia mengeluarkan wayang kulit yang sudah rusak. "Ini sudah rusak, tapi selalu saya pegang sehari-hari," ujarnya. Ki Sudirman, dengan nama asli Novem Ali Sahos Sudirman, adalah generasi keenam pewaris tradisi wayang kulit Madura.
Generasi kelima, Ki Loncet, meninggal dunia pada 2001 tanpa sempat mewarisi ilmunya sepenuhnya. "Ki Loncet sempat melatih orangtua saya, A Kadir, untuk menggantinya sebagai dalang. Tapi di tahun yang sama, ayah saya meninggal lebih dulu," kata Ki Sudirman. Sejak itu, warisan budaya yang telah berkembang sejak abad ke-17 ini nyaris punah. Tak ada satu pun generasi penerus yang tersisa.
Namun, darah seni yang mengalir dari kakek dan ayahnya membuat Ki Sudirman tergugah untuk menghidupkannya kembali. "Waktu itu tidak ada satu pun generasi. Tapi bagi saya, warisan ini tidak boleh punah," ucap dia.
Belajar Secara Otodidak
Ki Sudirman pun berusaha keras mencari dan mengumpulkan rekaman suara lama, lalu mempelajarinya secara otodidak. Beberapa keterampilan dalang mulai dikuasai, seperti ontonomo (cara berbicara dalang dengan bahasa Madura), jenis gending, hingga pakem cerita Ramayana dan Mahabharata Mustikorojo. "Saya belajar sendiri bermodal rekaman suara saja," kenangnya.
Namun, kesibukannya mendalami seni ini membuatnya mengalami kesulitan ekonomi. Pekerjaannya terbengkalai dan jatuh miskin. Mobil pikap yang menjadi sumber mata pencahariannya dijual untuk bertahan hidup bersama istri dan anaknya. "Saya punya tiga mobil pikap untuk jasa angkut, tapi pendapatan menurun drastis," kenang dia. Bahkan, biaya sekolah anak pun tak tersedia. "Sebagian uang jual mobil saya gunakan untuk belajar dalang. Di mana ada pementasan, saya datang demi belajar," tutur dia.
Dukungan dari Kolektor
Di tengah keterbatasan itu, seorang kolektor wayang kulit bernama Kosala Mahinda tiba-tiba mendatanginya dan menjadi penyemangat. Ia bahkan memberikan fasilitas wayang kulit dan gamelan, serta mendatangkan pelatih dari luar Madura. "Sejak itu, saya belajar sabet, atau cara memegang dan memainkan wayang kulit," ungkapnya.
Menurut Ki Sudirman, Kosala Mahinda berperan penting dalam menyelamatkan warisan ini. Ia pun semakin fokus menguasai sabet, beragam musik gending, pakem cerita, hingga ontonomo sebagai modal menjadi dalang sejati.
Pertunjukan Pertama dan Pengakuan Nasional
Tiga tahun berlalu, pada 2003, Ki Sudirman akhirnya melakukan pementasan wayang kulit Madura perdananya. "Saat itu masih ada kesalahan, tapi saya terus perbaiki," katanya. Sejak itu, wayang kulit Madura kembali hidup. Permintaan pementasan mulai mengalir dari berbagai kota di Indonesia, termasuk di Keraton Yogyakarta.
Kini, wayang kulit Madura yang hanya dilestarikan di Kabupaten Pamekasan ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada Oktober 2025. "Penetapan ini menambah semangat. Budaya ini milik bersama, mari kita lestarikan," ujar dia.
Mempersiapkan Generasi Muda
Saat ini, Ki Sudirman sudah mulai mempersiapkan generasi muda sebagai penerus. Ia melatih beberapa orang untuk menekuni seni ini. Menurut dia, menjadi dalang tak mudah—harus menyatu dengan karakter setiap tokoh pewayangan, baik gerakan maupun suara, yang berbeda satu sama lain. Selain itu, gerakan wayang harus selaras dengan musik gending. "Mudah-mudahan budaya ini semakin diminati ke depan," cetus dia.