Kiai Militer NU yang Berjasa bagi NKRI

admin.aiotrade 10 Nov 2025 4 menit 12x dilihat
Kiai Militer NU yang Berjasa bagi NKRI
Kiai Militer NU yang Berjasa bagi NKRI

Usulan Pahlawan Nasional untuk KH. Muhammad Yusuf Hasyim

Pada tahun 2025, nama KH. Muhammad Yusuf Hasyim diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) ini memiliki peran besar dalam perjuangan NKRI dan kemajuan pendidikan di Indonesia. Sebagai kiai militer, ia ikut berjuang langsung dalam pertempuran melawan penjajah.

Proses Pengusulan Pahlawan Nasional

Pengusulan nama-nama tokoh nasional untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dilakukan melalui berbagai tahapan. Awalnya, usulan berasal dari masyarakat serta Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD). Nama-nama tersebut kemudian diajukan dan ditandatangani oleh bupati atau wali kota setempat. Setelah itu, dokumen diteruskan ke gubernur, lalu diserahkan ke Kementerian Sosial.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menjelaskan bahwa pengkajian dilakukan oleh TP2GP. Hasilnya, berkas-berkas tersebut selanjutnya diserahkan kepada Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) Fadli Zon. "Kami melakukan pengkajian yang dikaji oleh tim (TP2GP). Hasilnya, hari ini saya teruskan kepada Pak Fadli Zon selaku Ketua Dewan Gelar. Ya tentu ini nanti selanjutnya akan dibahas sepenuhnya dan kita tunggu hasilnya secara bersama-sama," jelas Gus Ipul.

KH. Muhammad Yusuf Hasyim masuk daftar empat nama baru tokoh nasional yang diusulkan pemerintah pada 2025 untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional. Selain itu, ada juga deretan nama tokoh lainnya yang merupakan usulan tunda dari tahun 2024 dan usulan tahun 2011-2023 yang memenuhi syarat diajukan kembali pada 2025.

Profil KH. Muhammad Yusuf Hasyim

KH. Muhammad Yusuf Hasyim adalah tokoh NU yang pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur sampai 2006. Ia juga seorang politisi yang mendirikan Partai Kebangkitan Umat pada tahun 1998. Ia adalah putra bungsu pendiri NU KH Hasyim Asy'ari dengan Nyai Nafiqoh dari Sewulan Madiun.

Ia lahir di Jombang, Jawa Timur pada 3 Agustus 1929, dan meninggal dunia dalam usia 77 tahun pada 14 Januari 2007. Kiai yang biasa disapa dengan panggilan Pak Ud ini menikah dengan Nyai Siti Bariyah, dikarunia dua putra dan tiga putri. Paman dari Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini merupakan sosok kiai militer yang berkontribusi besar bagi NKRI serta kemajuan bangsa Indonesia.

Peran Militer dalam Perjuangan

Perjalanan hidup Pak Ud diabadikan dalam buku Biografi KH M Yusuf Hasyim (2025) yang diterbitkan Pustaka Tebuireng. Melalui laman resmi jombang.nu.or.id, berbagai peran telah dilakoni Pak Ud dalam berjuang dan mengabdi bagi Indonesia.

Pada usia 16 tahun, sudah bergabung dengan Laskar Hizbullah. Termasuk menjadi komandan kompi dari sisi barat dalam pertempuran Arek-arek Suroboyo 10 November 1945 yang sangat heroik itu. Markasnya di daerah Gunungsari, yang sekarang menjadi Kodam V/Brawijaya.

Pertempuran Suroboyo (Surabaya) pada 10 November menjadi peran besar Pak Ud di dunia militer. Tiga pekan sebelumnya, yaitu tanggal 22 Oktober 1945, NU secara resmi mengeluarkan Resolusi Jihad. Sebagai putra Rais Akbar NU, Pak Ud tentu menjadi motivasi tersendiri bagi para Nahdliyin untuk ikut berperang melawan Belanda ketika itu.

Di kalangan NU, Pak Ud pernah menjadi Sekretaris Jenderal PBNU periode 1967-1971. Ia juga pernah menjadi komandan pusat pertama Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Di pimpinan pusat GP Ansor, Pak Ud pernah menjadi salah satu ketua di periode 1958-1967.

Kontribusi dalam Dunia Politik dan Pendidikan

Di Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Pak Ud pernah menjadi Wakil Sekretaris Jenderal periode 1958-1965. Termasuk menjadi ketua umum Ikatan Bekas Pejuang Islam Jawa Timur periode 1957-1958. Tidak heran jika darahnya langsung mendidih saat mendengar kata komunisme. Ini karena Pak Ud berhadapan langsung dengan PKI pada pemberontakan Madiun 1948 maupun pengkhianatan G30S/PKI 1965. Pak Ud tahu persis kekejaman yang dilakukan PKI.

Di dunia politik, Pak Ud pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) periode 1967-1977. Berlanjut menjadi anggota DPR RI di tahun 1980. Keduanya dilakoni sebagai perwakilan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Pembaharu Pesantren

Pak Ud juga berkontribusi besar bagi kemajuan dunia pendidikan Indonesia. Terutama dari perspektif pesantren. Pesantren saat itu masih diidentikkan dengan kaum tradisionalis yang sulit menerima kemajuan. Stigma itu hendak dipatahkan Pak Ud. Caranya dengan membuka pesantren terhadap perkembangan ilmu dan teknologi.

Gagasan itu diwujudkan Pak Ud dengan mendirikan sekolah di lingkungan Pesantren Tebuireng. Lembaga itu untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Meski saat itu masih sangat asing jika sebuah pesantren mendirikan sekolah. Terlebih di lingkungan pesantren sebesar Tebuireng. Ini karena saat itu budaya pesantren masih cukup mendirikan madrasah saja.

Langkah Pak Ud ini menuai banyak kritik dari berbagai pihak. Bahkan dari sesama pengasuh pesantren. Kebijakannya dianggap kontraproduktif dalam peran pesantren untuk menghasilkan ulama. Tapi Pak Ud, menurut Masud Adnan (2025), tetap tidak bergeming. Beberapa dekade kemudian, idenya disadari memberikan manfaat.

Pak Ud mendirikan perguruan tinggi di Tebuireng bernama Universitas Hasyim Asyari (Unhasy) pada 1965. Ide itu juga cukup aneh pada zamannya. Pendirian kampus di pesantren dikhawatirkan oleh banyak pihak akan berbenturan dengan tradisi ilmiah pesantren.

Di penghujung pengabdian menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng, Pak Ud merintis pendirian Ma'had Aly yang mampu melahirkan para ahli hadits dari Pesantren Tebuireng.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan