Kinerja cemerlang WIFI didorong bisnis FTTH, analis prediksi harga saham 4.000

admin.aiotrade 16 Des 2025 4 menit 14x dilihat
Kinerja cemerlang WIFI didorong bisnis FTTH, analis prediksi harga saham 4.000

Kinerja Keuangan dan Proyeksi Bisnis WIFI pada Tahun 2025


PT Solusi Sinergi Digital Tbk atau WIFI, yang dimiliki oleh Hashim Djojohadikusumo, mencatatkan kinerja positif selama Januari hingga September. Analis BCA Sekuritas, Selvi Oktaviani, menetapkan target harga saham emiten telekomunikasi ini sebesar Rp 4.000 per lembar. Meskipun pendapatan WIFI sesuai ekspektasi, laba bersihnya jauh di bawah proyeksi analis akibat melemahnya kinerja segmen periklanan.

Laba bersih WIFI selama periode tersebut turun sebesar 78% dibandingkan perkiraan sekuritas. Hal ini disebabkan oleh pendapatan yang lebih rendah dan kerugian operasional di segmen periklanan akibat kenaikan beban biaya. Namun, pendapatan dari segmen telekomunikasi melonjak sebesar 234% secara tahunan (year on year), menunjukkan bahwa proyek fiber to the home (FTTH) mulai memberikan kontribusi nyata terhadap kinerja perseroan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Segmen Telekomunikasi sebagai Pendorong Utama

Ke depan, segmen telekomunikasi diproyeksikan menjadi kontributor utama sekaligus pendorong pertumbuhan WIFI. “Kami mempertahankan peringkat beli (buy) dengan target harga Rp 4.000 per saham, yang menyiratkan 10,2x EV/EBITDA 2026F,” ujar Selvi dalam riset BCA Sekuritas.

Pada 2025, WIFI mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 71% yoy menjadi Rp 260 miliar. Capaian ini setara dengan 76,3% dari proyeksi BCA Sekuritas dan 61,6% dari konsensus setahun penuh 2025. Dari sisi profitabilitas operasional, EBITDA WIFI tumbuh 77% yoy, meski margin EBITDA turun menjadi 50,5%. Penurunan margin ini terutama dipicu oleh segmen periklanan yang mencatatkan EBITDA negatif, sementara margin EBITDA segmen telekomunikasi relatif stabil di kisaran 71,5%.

Pertumbuhan Pelanggan dan Pendapatan

Peningkatan pendapatan WIFI pada 2025 didorong oleh lonjakan pendapatan segmen telekomunikasi sebesar 234% yoy, berkat pertumbuhan jumlah pelanggan B2C. Sebaliknya, pendapatan iklan turun sebesar 25,6% yoy. Dengan demikian, segmen telekomunikasi menyumbang 91% dari total pendapatan, sedangkan iklan hanya 9%.

Pada sembilan bulan 2025, total pendapatan WIFI tercatat sebesar Rp 1,01 triliun atau tumbuh 101% yoy. WIFI juga mencatatkan pertumbuhan agresif pelanggan internet rumahan. Dalam waktu kurang dari satu tahun, jumlah akses internet rumah meningkat menjadi 1,5 juta. Hanya dalam satu kuartal, perseroan menambah 627 ribu akses, dari 876 ribu pada Juni 2025 menjadi 1,5 juta pada September 2025, dengan basis sekitar 831 ribu pelanggan. Tingkat adopsi mencapai 55%, jauh di atas rata-rata industri yang berada di kisaran 20%.

Kondisi Keuangan yang Tetap Sehat

Dari sisi neraca, kondisi keuangan WIFI dinilai tetap sehat. Arus kas dari aktivitas operasi (cash flow from operations) berbalik positif menjadi Rp 146 miliar pada 2025. Perseroan juga memperoleh pendanaan sebesar Rp 5,9 triliun dari penerbitan saham baru dan Rp 2,5 triliun dari penerbitan obligasi, yang menopang belanja modal sebesar Rp 2,4 triliun pada sembilan bulan tahun ini.

Rasio lancar WIFI berada di level 3,4 kali, dengan posisi kas bersih per September. Pada 2025, perusahaan diperkirakan mengalokasikan Rp 808 miliar untuk biaya awal dan biaya spektrum tahun pertama proyek 5G Fixed Wireless Access (FWA) 1,4 GHz.

Penyebab Penurunan Margin

Selvi menjelaskan bahwa penurunan margin EBITDA dan laba bersih pada 2025 disebabkan oleh beberapa faktor. Segmen periklanan mencatatkan rugi operasional sebesar Rp 88,8 miliar. Pendapatan lain yang tercatat pada kuartal sebelumnya berubah menjadi kerugian lain, yang semakin menekan laba bersih. Selain itu, lonjakan beban bunga sebesar 160% menjadi Rp 117 miliar akibat penerbitan Obligasi Seri II dan obligasi syariah masing-masing sebesar Rp 1,25 triliun pada Juli.

Masuknya NTT East sebagai pemegang 49% saham di anak usaha WIFI, PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE), juga menyebabkan sebagian laba segmen telekomunikasi dialokasikan ke mitra strategis tersebut.

Proyeksi Bisnis WIFI untuk Tahun 2026

Menjelang akhir 2025, manajemen WIFI menargetkan pendapatan sekitar Rp 1,4 triliun dan EBITDA Rp 940 miliar, dengan margin EBITDA sekitar 64%. Pertumbuhan pendapatan diharapkan berasal dari peningkatan pelanggan FTTH hingga 1,5 juta pada akhir 2025, serta penambahan satu juta homepass baru sehingga totalnya mencapai 2,5 juta.

Namun, BCA Sekuritas menilai panduan kinerja 2025 mencerminkan potensi pertumbuhan yang terbatas, meski ada rencana penambahan sekitar 670 ribu pelanggan FTTH baru. “Menurut pandangan kami, manajemen mungkin mengantisipasi pendapatan B2B telco yang lebih lemah pada tahun 2025, konsisten dengan pola yang diamati tahun lalu,” ujarnya.

Untuk 2026, WIFI menargetkan ekspansi agresif. Di segmen FTTH, perseroan membidik lebih dari 5 juta homepass dan lebih dari 3 juta home connect. Sementara di bisnis 5G FWA, WIFI menargetkan pembangunan lebih dari 5.000 lokasi dan meraih hingga 5 juta pelanggan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan