Kinerja Ekspor Kuartal III Buktikan Kekuatan Ekonomi RI

admin.aiotrade 07 Nov 2025 3 menit 11x dilihat
Kinerja Ekspor Kuartal III Buktikan Kekuatan Ekonomi RI

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Triwulan III-2025

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2025 tercatat cukup stabil, dengan angka sebesar 5,04% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year, yoy). Angka ini menunjukkan kinerja positif yang diiringi oleh pertumbuhan ekspor yang sangat signifikan. Pada periode tersebut, pertumbuhan ekspor bersih mencapai 57,75%, yang merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir untuk periode yang sama, yaitu kuartal tiga.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi komponen utama yang mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), dengan pertumbuhan sebesar 9,91% (yoy). Hal ini menunjukkan bahwa sektor ekspor berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Menurut Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, kinerja ekspor yang positif ini berhasil menepis kekhawatiran publik terkait dengan kenaikan tarif ekspor ke Amerika Serikat. “Selama ini, akibat adanya tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika, ada kekhawatiran akan menekan kinerja ekspor Indonesia,” ujar Christiantoko di Jakarta, Rabu (5/11/2025).

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor Nonmigas Indonesia ke Amerika pada September 2025 tumbuh positif sebesar 9,09% (yoy). Bahkan untuk periode Januari-September 2025, pertumbuhan ekspor mencapai 19,05%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan dari sektor perdagangan internasional, Indonesia tetap mampu mempertahankan kinerja ekspornya.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekspor pada triwulan III-2025 mencapai 9,91% (yoy), sedangkan impor hanya tumbuh sebesar 1,18%. Dengan demikian, selisih pertumbuhan antara ekspor dan impor mencapai 8,74%. Tingginya pertumbuhan ekspor ini turut mendukung kinerja ekspor bersih, sehingga menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir atau sejak tahun 2020, yakni sekitar 57,75%.

Nilai ekspor bersih berdasarkan harga berlaku menurut data BPS pada kuartal III-2025 mencapai Rp210 triliun, sedangkan mengacu pada harga konstan sekitar Rp193 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa sektor ekspor masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Komponen PDB Lainnya

Komponen PDB dari sisi pengeluaran lainnya, seperti konsumsi rumah tangga, tumbuh sebesar 4,89% (yoy), cenderung stabil dibandingkan kuartal II-2025 yang sebesar 4,97% (yoy). Kinerja konsumsi ini membuat perekonomian stabil karena kontribusinya terhadap perekonomian nasional mencapai 53,14%. Sementara itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) masih tumbuh sekitar 5,04%.

Pertumbuhan Sektor Usaha

Dari sisi lapangan usaha, lonjakan terbesar terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh 4,93% (yoy). Di kuartal sebelumnya, sektor tersebut hanya tumbuh 1,65%. Pada kuartal III-2025 ini, sektor pertanian menjadi kontributor terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan kontribusi 14,35%.

Sektor usaha yang berkontribusi terbesar terhadap PDB masih milik industri pengolahan, yakni 19,15%. Sektor tersebut tumbuh 5,54% (yoy). “Perkembangan ini memperlihatkan adanya gairah di sektor pertanian, sehingga tumbuhnya secara tahunan cukup tinggi, jauh melampaui kuartal sebelumnya,” ujar Christiantoko.

Pertumbuhan tertinggi dari sisi lapangan usaha terjadi pada sektor jasa pendidikan yang mencapai 10,59% (yoy). Selanjutnya adalah jasa perusahaan yang mencapai 9,94%, kemudian telekomunikasi dan komunikasi, yakni 9,65%.

Sejumlah Sektor Mengalami Penurunan

Kendati demikian, ada satu lapangan usaha yang mengalami kontraksi alias menyusut, yakni pertambangan dan penggalian. Kinerja sektor ini menyusut atau tumbuh minus 1,98%, seiring dengan melemahnya harga-harga komoditas di pasar internasional. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertambangan masih menghadapi tantangan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan